CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
SERBA SALAH


__ADS_3

NARITA POV


 


Aku kaget mendengar pertanyaan Mama Ali. Kenapa tiba-tiba dia menanyakan hal itu? Apakah Ali…….?


Ahh,,,harus aku jelaskan.


“Ali, apa maksudnya ini? Tante?” aku menatap Ali dan mamanya secara bergantian, aku menunggu penjelasan mereka.


Hufh,,, Ali menghela nafas panjang dan memandangku dengan pandangan yang entah tak bisa kumengerti maksudnya. Dia menyugar rambutnya dan menjambaknya saat di ujung. Raut wajahnya menampakkan sebuah kegelisahan atau kegalauan.


Aku masih lekat memandangnya.


“Na,,,” Ali kembali mengusap wajahnya dengan kasar, lalu memandangku.


“Mamaku menginginkanmu jadi menantunya” ucapan Ali membuatku sedikit melebarkan mata dan mengerutkan dahi.


“Ma-ma-maksudnya?” aku yang merasa jadi bodoh malah justru menanyakan hal yang lebih membuatku terlihat makin bodoh. Ini sebenernya adalah ungkapan kegugupanku. Ali yang biasa menggodaku dengan kata-kata manis, bilang ‘suka’, dan selama ini hanya kuanggap candaan, kini malah sepertinya serius. 


“Tante---?” aku beralih menatap mama Ali karena Ali tak segera memberikan jawaban. Ali masih menyangga kepalanya dengan tangan kanannya.


Aku masih setia menunggu penjelasannya sampai beberapa menit lamanya. 


“Na, selama ini aku serius dengan ungkapan hatiku. Aku sungguh-sungguh menyukaimu. Aku sungguh-sungguh serius denganmu. Mamaku sebagai saksi, maukah kau menjadi istriku?” Ali menatapku dengan tajam dan lekat. Mata kami berdua bertemu, aku mencari kejujuran dari kedua bola mata coklatnya, dan tak kutemukan kebohongan di sana.


Aku masih tak percaya dengan apa yang kudengar. Ini adalah hal yang teramat mengejutkan untukku. Pertama kalinya bertemu mama Ali, tiba-tiba diminta menjadi menantunya. Ali pun yang selama ini banyak becanda, kini berkata dengan tatapan serius. 


“Al tapi..”


“Aku menerimamu apa adanya. Keluargaku tak pernah memandang seseorang dari latar belakangnya. Yang terpenting dia seiman, akhlaqnya baik, dan bisa diandalkan menjadi pendampingku dan menjadi ibu yang baik untuk anak-anakku” saat aku beralih menatap mama Ali, dia mengangguk-angguk dengan lembut, tersenyum, namun ekspresi wajahnya juga serius.


“Maukah kau menjadi menantuku? Istri Ali?” mama Ali kembali bertanya padaku. Wajahnya memelas dan memohon.


“Ali, tante, maaf” suaraku lemah dan aku tak berani menatap mata mereka yang penuh pengharapan, aku hanya berani menunduk perlahan.


“Kenapa Na?” tanya Ali cepat.

__ADS_1


“Ali, tante, selama ini aku menganggap Ali sebagai adik. Sayangku padamu seperti aku menyayangi adikku?” Aku berusaha meyakinkan Ali dengan ucapan dan dengan mengumpulkan keberanian, aku kembali menatap matanya. 


“Apakah kamu tak bisa membuka hatimu untukku? Setidaknya cobalah untuk membuka hatimu untukku?” pinta Ali.


“Ali, tante, maaf….” Aku berusaha berdiri dan meraih tas ranselku yang ada di samping Ali.


“Permisi, Assalamu’alaikum” aku mengangguk dan sedikit tersenyum. Tanpa menunggu jawaban mereka, aku segera melangkah pergi dari sana. Dari ekor mataku, kulihat mereka hanya terdiam.


Entah kenapa aku merasa bersalah. Apakah Ali salah menerjemahkan sikapku? Apakah aku seolah memberi harapan? Aku selalu menerima ajakan Ali untuk jalan bareng, menerima tawaran Ali untuk naik mobilnya berangkat ke kampus, aku pikir kami sama, aku menganggapnya adik dan dia menganggapku kakak.


Aku pun kini telah keluar dari café dan menuju halte bus. Sesampainya di halte, aku duduk sejenak sembari menunggu bus. Kupejamkan mata sejenak, melepas beban ini. Entah kenapa pernyataan cinta Ali membuatku terasa seolah memikul beban berat.


Tut tut tut


Bunyi klakson bus membangunkanku dari kesadaran karena lamunan sesaat. Dengan langkah gontai aku naik bus dan saat duduk aku kembali melamun. Kubuka galeri ponselku. Kutatap foto dan video lucu kedua anakku. Kuberharap mendapatkan hiburan dari sana.


Iya, sesaat memang aku merasa terhibur, tapi sesaat kemudian aku kembali melamun. Kusadari karena mereka, aku susah membuka hati kembali. Karena mereka, aku sangat berhati-hati untuk menerima seseorang kembali.


Namun,,,


Bukankah karena mereka pulalah, aku harus melanjutkan hidup.


Aku kembali memejamkan mata, meresapi pikiranku sejenak.


Tak mungkin aku kembali padanya. Dia tak pernah mengingatku, apalagi mereka. Dia telah bahagia dengan kehidupan barunya.


Ya…Bissmillah.


Ya Tuhan, bantu aku menemukan kembali separuh tulang rusukku yang hilang.


Tanpa terasa air menetes dari sudut mataku. Perlahan kubuka mata dan menghela nafas panjang meresapi isi hati, memantapkan hati.


Ali, terima kasih. Karenamu, aku mengingat untuk membuka hati. Maaf, tapi aku tak bisa denganmu.


Aku pun turun di halte bus tujuanku dan berjalan gontai pulang ke rumah.


 

__ADS_1


--- Rumah Karen---


Adzan Maghrib berkumandang dari Little of Al Aqsha. Segera aku mendampingi dan mengajari Karen berwudlu, menyiapkan mukena kami, lalu meraih tangannya menuntunnya bersama-sama ke Little of Al Aqsha. 


“Hai Na” sapaan seseorang dari belakang, membuatku menghentikan langkah.


Kulihat dia tersenyum manis. Dia memakai sarung, baju koko lengan panjang warna putih, kopyah warna putih. Tak hanya terlihat lebih tampan tapi juga gagah. Postur tubuhnya yang sangat ideal, sangat pass mengenakan baju model apapun. Seolah dirinya memancarkan cahaya yang meneduhkan.


Dia terus menebar senyuman, menatapku ,dan melangkah mendekat padaku.


DEG


Ya Tuhan, kenapa jantungku masih berdebar melihatnya.


BOD*H!!


Entah kenapa aku malah jadi mengumpat dalam hati begini.


“Ayo!” tangan kanannya terulur seolah hendak merangkul pundakku tapi tak sampai menyentuhnya.


Mendengar suaranya lagi, aku tersadar dari lamunan memuji ketampanannya dan mengumpat kebodohannya. Aku tersenyum kecut membalas ajakannya. Aku kembali melanjutkan langkah.


Kini tangan kanan Davis menggandeng tangan Karen yang masih bebas. Kini kami berdua berjalan beriringan. Aku di sebelah kanan Karen sedangkan Davis sebelah kiri Karen. Kami sama-sama menggandeng tangan Karen.


Di tengah jalan kami berpapasan dengan Ali. Dia menoleh sekilas pada kami lalu langsung membuang muka dan berjalan cepat mendahului kami. Sikapnya dingin, seolah dia bertemu dengan orang yang tak dikenalnya. Mungkin dia masih marah padaku.


“Sayang, masuklah! Ibadahnya yang khusuk ya! Jangan rewel!” Davis melepas tangannya dan mensejajarkan tubuhnya dengan Karen saat kami telah sampai di pintu wanita bagian dari Little of Al Aqsha. Mendengar nasehat Davis, Karen tersenyum dan mengangguk patuh. Davis mengelus kepala Karen yang telah tertutupi mukena. Sungguh manisnya pemandangan ini, mungkinkah dia akan memperlakukan anaknya sendiri seperti ini juga?


Usai menunaikan sholat jamaah, aku keluar dari Little of Al Aqsha ruangan wanita dengan menggandeng Karen. Sesampainya di luar kini gentian Dave yang tengah menunggu kami.


Dia juga mengenakan celana panjang, baju koko dan kopyah serupa dengan milik Davis. Dia memang terlihat berbeda dengan penampilan ini, lebih terlihat bijaksana. Dave dan Davis memang tercipta sebagai lelaki yang berpostur dan berwajah mendekati sempurna. Jikalau mereka bukan pengusaha, mungkin wajah mereka akan wara wiri di stasiun televisi Indonesia.


Dia melihatku dan tersenyum. Tiba-tiba tangannya meraih tangan Karen.


Kini aku dan Dave sama-sama menggandeng Karen. Karen mendongak menatap kami secara bergantian, lalu tersenyum. 


“Im Happy, Dad, nan” ucapnya dan kurasakan dia makin mengeratkan genggaman tangannya.

__ADS_1


“Permisi!” ucap Ali tiba-tiba yang dengan Langkah cepat berlalu dari kami. Dia sama sekali tak menoleh pada kami.


Aku hanya bisa menghela nafas panjang.


__ADS_2