Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 100 : Hukuman


__ADS_3

“Hun … Hunny!”


BRAK


Pintu kamar terbanting dengan kencang. Hana benar-benar kesal. Ia marah karena Kelana tidak menepati janji. Meski begitu sejatinya dia juga cari mati. Ia jelas tidak bisa tidur tanpa mengusap-usap dada Kelana.


Awalnya Hana mencoba memejamkan mata dengan memeluk dan mengusap bantal. Namun, pada akhirnya di malah emosi karena tidak bisa terlelap juga. Entah kenapa itu tidak manjur, Hana menginginkan Kelana.


“Hana, ayo lah! aku tadi diajak mengobrol temanku jadi lupa waktu,” bujuk Kelana.


Hana bergeming, dia duduk di tepian ranjang dengan muka masam. Hatinya dongkol, pikirannya sampai kemana-mana, wanita itu takut sang suami tergoda perawan di luaran sana.


“Kamu bohong, kamu bilang pulang jam satu tapi nyatanya apa?” jawab Hana dengan suara lantang. Ia meringsek naik ke atas ranjang dan kembali menyelimuti tubuhnya, berbeda dengan tadi. Kini Hana sampai menutupi seluruh badan.


Kelana menggaruk kepalanya bingung. Hana ternyata bisa cemburu buta juga. Memikirkan itu bibirnya malah menipis. Pria itu bahagia karena sang istri begitu sangat mencemaskannya, sampai takut dia tergoda perawan di luaran sana.

__ADS_1


“Sayang… hunny bunny sweety, aku berkata jujur. Jika kamu tidak mau membukakan pintu aku akan tidur di bawah tanpa alas - di lantai, kalau aku masuk angin bagaimana?” bujuk Kelana disertai sedikit ancaman menyakiti diri sendiri.


“Terserah mau tidur di lantai, di bak mandi, aku tidak peduli,” gerutu Hana. Ia akhirnya memaksa netranya untuk terpejam. Dan pada akhirnya berhasil juga.


_


_


Hana menggeliat, dia menyambar ponselnya yang berada di atas nakas ingin memastikan jam berapa sekarang. Ternyata masih pukul lima pagi, ternyata tanpa mengelus dada Kelana dia hanya bisa tidur tak lebih dari tiga jam.


Hana pun mengingat bahwa dia tidak mengizinkan Kelana tidur di kamar. Penasaran, dia mendekat ke arah pintu. Wanita itu menempelkan telinga mencoba memastikan adakah suara-suara aneh yang berasal dari luar.


Mata Hana melotot tak percaya melihat suaminya itu benar-benar tidur di lantai. Seketika perasaan bersalah pun menyergap hati Hana. Ia berjongkok dan menggoyangkan tubuh Kelana. Ia semakin takut karena badan pria itu terasa dingin.


“Kelana! Bangun! bagaimana bisa kamu benar-benar tidur di lantai,” ucap Hana. Tak ada respon, dia pun semakin ketakutan. Hingga beberapa menit kemudian dia bisa bernapas lega karena sang suami membuka mata.

__ADS_1


“Hunny, akhirnya kamu membukakan pintu juga.”


“Kenapa kamu tidur di lantai – di depan pintu, Ha?” bentak Hana. Ia menyugar rambutnya sambil memalingkan muka.


Sementara itu, Kelana memilih untuk bangkit dan duduk. Ia peluk bantal yang dia jadikan sebagai alas kepala sambil memasang ekspresi memelas.


“Karena kamu tidak mengizinkanku tidur di dalam, aku minta maaf karena tidak menepati janji pulang jam satu, aku memang pantas mendapat hukuman.” Kelana sengaja bersuara dengan nada manja. Dan tak lama pria itu bersin. Tak hanya sekali, Kelana bersin bertubi-tubi.


“Ah ,,, aku pasti terkena flu,” keluhnya. Ia bahkan meraih tangan Hana dan meletakkannya ke dahi.


“Aku kedinginan, aku demam, aku butuh pelukan.”


 _


_

__ADS_1


 


bersambung


__ADS_2