
“Aku memang tidak ingin melarikan diri, untuk apa?” goda Hana. Ia menundukkan kepala sampai Kelana bisa menjangkau bibir dan menyatukannya.
Hana benar-benar merasa terbebas dari semua beban masa lalu, meski ada sedikit rasa tak enak di hati yang entah karena apa, dia juga tidak mengerti - yang pasti dia tidak ingin sampai Kelana salah menduga. Beruntung pria itu memang mengerti luar dalam tentangnya. Beberapa detik saling melumaat bibir, Hana kembali menegakkan kepala, dia usap lembut bibir Kelana yang basah kemudian pipi pria itu.
“Aku mencintaimu Hunny dan dia.” Kelana yang masih berbaring di paha Hana menolehkan badan, dia usap gemas perut sang istri lalu menciuminya bertubi-tubi. Setelahnya Kelana bangun dan menyilangkan kaki tepat di samping Hana yang sudah terkekeh karena geli.
“Aku akan mengganggunya lagi malam ini, semoga dia tidak kaget melihat rudal papa.” Kelana melempar handuk sembarangan, belum juga Hana menjawab ocehannya Kelana sudah menangkup pipi, menyatukan bibir mereka kembali.
Nampak senyum kecil menghiasi bibir Hana di sela pagutan mesra Kelana, dia cengkeram sisi kaos yang dikenakan Kelana dengan kepala yang sibuk mengimbangi ciuman panas itu. Karena televisi masih menyala dan membahas berita yang sama tentang kasus di kantor polisi siang tadi, tangan Hana pun berusaha meraba-raba. Dia mencari remot tanpa mau melepaskan bibirnya yang sedang dieksplor oleh Kelana. Kini, giliran pria itu yang memulas senyum manis, tangannnya mengangkat benda yang dicari sang istri lalu menekan tombol daya agar televisi di kamar mereka mati. Hana tertawa, dia memundurkan kepala sampai tautan bibir mereka terlepas.
__ADS_1
“Kenapa?” tanya Kelana dengan alis bergelombang, dia bergerak cepat mencekal pergelangan tangan Hana lalu menyentuhkannya ke garasi rudal. “Jangan berubah pikiran, dia sudah siap dijatuhkan!”
Hana tertawa lantas menggeleng cepat agar Kelana tak berburuk sangka. Tangannya malah mencengkeram erat area garasi yang dimaksud sang suami lalu mengusapnya lembut diakhiri dengan remasan kencang. Akibatnya Kelana tak sanggup lagi, dia buka kaosnya setelah itu piyama yang dikenakan Hana. Kelana merebahkan tubuh Hana lalu mengurungnya setelah melepas penutup bagian bawah tubuhnya sendiri secara sempurna.
Bak sudah tahu bahwa dua bukit milik Hana akan dimiliki oleh anak mereka sebentar lagi, Kelana menyesapnya dengan rakus. Sementara bibir serta lidahnya mengeksplor setiap inci permukaan bukit dan menguluum puncak, tangan Kelana menarik turun segitiga berenda milik Hana.
Melihat tubuh istrinya menggeliat karena apa yang dia lakukan, Kelana semakin terpacu. Ia sapu ceruk leher Hana sampai wanita itu mengalungkan tangan dan balas menggigit kecil leher dan cuping telinganya.
“Hunny, apa kamu masih menggunakan ramuan mak war?” tanya Kelana penasaran, dia menunduk melihat ke bawah lalu memejamkan mata sambil terus menumbuk.
__ADS_1
“Mana berani? aku tidak tahu efek sampingnya apa? takut bahaya untuk bayi,” jawab Hana, meski dengan nada suara putus-putus diiringi desaahan halus.
“Bagaimana kalau kita buka pabrik untuk memproduksi ramuan itu? bukankah akan banyak pasangan yang akan semakin mesra di Wakanda? Mereka pasti akan wadidaw.”
Hana mendongakkan kepala sambil tertawa, dia remas ke dua sisi lengan Kelana karena merasakan badai segera datang. “Selesaikan untukku, jangan ngadi-ngadi! biarkan orang-orang mengurusi masalah plus dua satunya sendiri!”
_
_
__ADS_1
_
😜