
“Sembarangan!” sembur Ayu setelah itu terbahak-bahak, dia menjelaskan bahwa dirinya dan Arman hanya teman.
“Berkencan? Kami sudah tua dan bau tanah tidak ada pikiran seperti itu Hana,” imbuh Ayu,
Hana masih tak percaya sampai Arman mengangguk untuk memperkuat ucapan Ayu. Pria itu mempersilahkannya duduk lantas menanyakan bagaimana kondisi kandungannya.
“Hana, papamu bertanya,” ujar Ayu karena Hana seperti masih tidak fokus.
“Baik,” jawab Kelana. “Kami bahkan sudah tahu jenis kelamin calon anak kami, tapi jangan harap aku akan memberitahunya ke nenek sampai dia lahir, kalau nenek penasaran berikan aku saham seperti Rafli.”
Terdengar sangat menjengkelkan. Kelana nampaknya tahu bagaimana memanfaatkan kekepoaan Ayu. Namun, kali ini wanita tua itu tidak dengan mudah terpancing. Ayu melengos dan berujar-
“Kembalikan sini pabrik gula nenek!”
Kelana pun sadar dan langsung memeluk wanita tua itu. Ia tertawa dan membuat Hana juga Arman ikut tergelak. Kali ini Kelana jelas tidak akan bisa mendebat Ayu karena neneknya itu memang tidak jadi meminta pabrik gulanya kembali.
Beberapa menit kemudian, beberapa mobil mulai berdatangan. Hana merasa sedikit aneh dengan teman sepergaulan Arman. Tak dia sangka papanya itu akan masuk ke lingkungan sosialita.
“Apa Papa merasa senang?” tanya Hana dengan cara berbisik.
__ADS_1
“Senang, Papa jadi tidak merasa kesepian lagi, hari-hari Papa serasa ada manis-manisnya gitu,” jawab Arman.
***
“Sayang!”
Pekik Hana setelah selesai berganti baju dan membersihkan wajahnya. Dia baru saja duduk di atas ranjang dan Kelana baru saja masuk ke kamar mandi.
“Ada apa?”
Kelana bergegas keluar, dia sudah bertelanjang dada dan hanya mengenakan boxer. Bergegas dia membelitkan handuk ke pinggang dan mendekat ke Hana. Istrinya itu terlihat tegang dengan tangan berada di atas perutnya yang membuncit.
Mendengar itu Kelana juga tak bisa menahan rasa bahagianya, pria itu berlutut di depan Hana dan menangkup dua sisi perut sang istri. Ia menciuminya lembut dan tersenyum, setelah itu Kelana menempelkan telinga sebelah kanan ke perut Hana.
“Hei … baby, apa kamu mendengar? Ini Papa, apa kamu baru saja menendang mamamu?”
Hana merasa terharu, dia tak menyangka hari itu setelah tahu jenis kelamin calon bayinya dia juga bisa merasakan tendangan pertama. Ia belai rambut Kelana tak kalah mesra, mereka menunggu bayi itu menendang lagi, tapi sampai kaki Kelana kesemutan pun tak ada tendangan lagi.
“Apa dia malu?” tanya Kelana sedikit kecewa. Dia akhirnya duduk di lantai sambil meluruskan kaki. Mengabaikan dinginnya lantai untuk memandangi perut istrinya
__ADS_1
“Mungkin.” Hana tak kalah kecewa, padahal dia memang merasakannya dengan jelas tadi. Ia ingin Kelana juga merasakan tendangan calon putra pertamanya.
“Sudah lah aku mandi dulu, siapa tahu dia tadi bangun dan sekarang tidur lagi.”
Kelana bangkit diiringi anggukan kepala dari Hana, setelahnya Hana memilih berbaring sambil menunggu sang suami selesai mandi. Ia sibuk dengan ponsel dan mencoba mengecek berita dari sebuah portal berita online. Di sana Hana mendapati berita tentang persidangan kasus penusukan yang dilakukan Bunga ke Bagas. Hana tak membaca semua berita itu secara lengkap, dia menggulir layar untuk membacanya cepat.
“Seandainya kamu tidak merusak hidupku, aku pasti tidak akan pernah bisa menemukan Kelanaku.” Perkataan Hana ini ditujukan untuk Bunga.
“Tapi aku tidak mungkin mengucapkan terima kasih atas semua perbuatan jahatmu, jika dikemudian hari ada kesempatan kita bertemu lagi, semoga kamu sudah berubah menjadi pribadi yang baik.”
_
_
_
_
Aminkan doa Hana. Amin 😁
__ADS_1