
Bagas dan Bunga tergesa-gesa keluar dari UGD. Meski Bagas masih tidak normal seperti semula, tapi mereka memilih langsung kembali ke hotel menggunakan taksi. Berjalan saja Bagas miring-miring ke kiri dan terus ke kiri. Hingga Bunga menariknya agar bisa berjalan lurus.
“Sepertinya kamu harus menjalani MRI, aku takut otakmu bermasalah dan mempengaruhi syaraf ke teripangmu.” Omongan Bunga mengandung kecemasan. Ia takut senjata Bagas itu malfungsi,
“Sudah jangan banyak bicara, aku harus memastikan ke Pak Kelana.” Bagas mengerjab, dia mencoba fokus berjalan lurus dan berakhir berjalan berbelok-belok lagi.
_
_
“Itu Pak Bagas.” Afy menunjuk ke arah pintu masuk resto hotel. Mereka semua memang masih berkumpul di sana setelah sarapan.
“Pak Bagas.”
Semua staff bergantian memanggil nama Bagas. Ada gurat kecemasan di wajah mereka. Namun, tidak dengan Kelana, dia masih sibuk bermain ponselnya.
“Sayang, Bagas dan Bunga datang.” Hana memberitahu Kelana yang posisi duduknya membelakangi pintu resto. “Sayang, tunjukkan rasa simpatimu, jangan sampai dia curiga.”
Hana cemas, bagaimana pun juga Kelana sudah melakukan tindakan kekerasan dan jika Bagas menyadari hal itu bisa celaka. Sebelum sarapan tadi, Hana berniat mengecek rekaman suara dari recorder yang Kelana gunakan, tapi sayang daya benda itu habis dan dia harus mengisinya lebih dulu.
“Sayang!” ucap Hana lagi memperingatkan Kelana.
__ADS_1
Alis mata Kelana terangkat. Pria bernama lengkap Kelana Pramudya itu mengunci layar ponselnya lalu menoleh, dia kaget juga mendapati Bagas dan Bunga sudah berada di samping mejanya dan Hana.
“Pak Bagas! Apa kamu baik-baik saja?”
Bagas mengerjab, dia merasa aneh saat Kelana bertanya dengan nada lembut seperti itu, padahal dia sudah berniat tanpa basa basi akan menanyakan soal peristiwa yang dialaminya semalam.
“Duduklah! Apa hidungmu sakit? kamu terantuk meja dengan kencang bahkan pipimu terlihat lebam, ish … pasti sakit.”
Kelana menggeser kursi mempersilahkan Bagas duduk. Bukannya tanpa maksud dia melakukan hal itu, setidaknya dia tidak boleh membuat Bagas curiga sampai menyerahkan bukti yang dimiliki ke polisi, agar pria itu berakhir mendekam di balik jeruji. Namun, soal yang satu ini dia belum memberitahu Hana. Ya, mereka belum berdiskusi tentang apa yang akan mereka lakukan ke Bagas yang jahat ini. Dan mungkin saja keputusan itu nanti malah akan menimbulkan perdebatan dan membuat mereka bertengkar hebat untuk yang pertama kali.
“Benarkah saya terantuk meja saat mabuk?” Bagas berani bertanya karena merasa jika dia tidak mungkin segila itu saat mabuk.
“Hem … lalu apa kamu pikir aku memukulimu?”
Semua orang yang mendengar seketika merasakan sesuatu yang aneh di hati. Ada rasa kaget sekaligus penolakan bahwa tidak mungkin Kelana melakukan itu, tapi jika pun memang Kelana melakukannya alasan apa yang mendasari. Apa mungkin cemburu buta?
Bermacam-macam pikiran buruk dan spekulasi kini merajai pikiran orang-orang, tapi Kelana sudah memiliki rencananya sendiri, jika tidak bisa mengelak atau membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah, maka dia akan membingungkan orang-orang.
“Aku semalam juga sedikit mabuk, jika aku memukulimu apa kamu mau visum? Pasti ada sidik jariku di wajahmu jika aku benar memukulimu.”
“A-a-apa? tidak! tidak Pak, mana mungkin saya berani berpikir seperti itu, saya hanya tanya apakah benar saya terantuk meja sampai hidung saya berdarah. Serius! saya bukan menuduh.” Bagas mencari aman sekaligus mencari muka di depan Kelana maupun staffnya.
__ADS_1
“Bagus sesuai dengan namamu Bagas, kamu tidak gampang berpikiran buruk ke orang lain,” kata Kelana. Sengaja memuji agar Bagas merasa dilambungkan tinggi.
“Sepertinya gathering ini benar-benar hanya akan meninggalkan kesan yang buruk untuk kalian. Aku merasa bersalah ke semua orang sejak pertama kali datang ke hotel bernuansa alam gaib itu, ditambah kejadian kamu mabuk dan terluka, aku minta maaf.”
Ucapan Kelana membuat semua orang saling pandang, mereka bingung menyikapi permohonan maaf sang atasan. Beberapa dari mereka pun berniat ingin membela, dan orang pertama yang buka suara tentulah orang yang paling dekat dengan Kelana yaitu Hana.
“Ini bukan salahmu, Sayang. Tidak ada satu pun dari kita yang menginginkan kejadian seperti ini. Seperti Bunga, apa kalian pikir dia sengaja memesan hotel seram itu, tidak ‘kan?” Hana sengaja memberi kesan bahwa dia tidak mempermasalahkan kesalahan Bunga. Hana hanya tidak ingin adik tirinya itu berpikir buruk dan berakhir menyelidiki apa yang diperbuat Kelana.
“Iya ‘kan Bunga?” tanya Hana dengan sorot mata menuntut jawaban sang adik tiri.
“I – iya sih, tapi aku tidak akan diminta mengembalikan uang akomodasi ‘kan?”
_
_
_
__ADS_1
Scroll ke bawah 👇