
Hana mencoba memberikan apa yang Kelana minta, dia keluar lagi ke halaman dan meminta penjaga rumahnya untuk mencarikan mangga mekar. Pak War mengangguk, pria itu bergegas mengambil motornya yang ada di garasi untuk mencari apa yang sang majikan perintahkan, bersamaan dengan itu sebuah mobil berhenti di depan rumah. Hana memilih mendekat untuk memastikan dan ternyata sang mertua lah yang datang.
Namun, Hana heran karena mertuanya tak datang sendiri. Dinar bersama Tata dan juga seorang pria dengan baju nuanasa Jawa yang khas, mereka berjalan mendekat ke arah gerbang. Pak War yang hendak keluar pun bergegas turun dulu dari motor untuk membukakan pagar yang tingginya hampir dua meter itu.
“Mama, tante Tata … “ Hana menjeda kata, dia bingung menyapa pria yang tidak dia kenali itu dan memilih untuk melempar senyuman.
“Hana di mana Kelana?” tanya Dinar tak sabaran, wanita paruh baya itu terlihat sangat cemas.
“Di dalam Ma. Ma-ma ke sini ingin menjenguk?” Hana balas bertanya meski ragu-ragu, dia bingung tapi takut bertanya kenapa ada pria asing berpenampilan nyentrik yang ikut bersama mertuanya ke sana.
“Bukan, Mama ke sini membawa Mbah Dukun untuk mengobati suamimu.”
“Apa?” Hana syok bukan kepalang, dia membeku sampai menoleh Dinar dan Tata bergantian. Hana memindai penampilan pria yang disebut mertuanya mbah Dukun itu dari atas sampai bawah. “Ma, ta-ta-tapi ….. “
Hana belum selesai menjelaskan tapi tiga orang yang bertandang ke rumahnya itu langsung berjalan menuju rumah. Hana hanya bisa mengerjab beberapa kali, dia menelan saliva kenapa bisa Dinar berpikiran sejauh itu.
__ADS_1
“Apa Mama pikir suamiku diguna-guna?” Hana menggeleng menepis pikirannya, dia pun memanggil nama Dinar berulang untuk menghentikan niatan wanita itu dari pada Kelana murka nanti.
Sementara itu, Mina yang berpikir bahwa Kelana terkena Covid mengirim pesan ke bu Dewan. Ibunda si kembar Segara dan Biru itu sejak tadi ternyata mengintip dari balik jendela kamarnya di lantai dua. Melihat orang berpenampilan aneh, dia pun menebak apa yang mungkin sedang dilakukan tetangganya.
“Serius kamu Mina?” suara bu Dewan via panggilan telepon terdengar tak percaya, Mina pun mengiyakan dan bahkan mengulangi ucapannya untuk menegaskan.
“Ya ampun Bu, serius. Hana bilang Kelana kena Covid, dan sekarang mertuanya malah datang membawa pria yang aku yakin pasti dukun, Bu. Astaga Hana, apa dia sudah gila. Seharusnya kalau terkena Covid itu isolasi dan periksa bukannya malah manggil dukun,” ujar Mina menyayangkan hal yang sebenarnya hanya prasangka dan salah kaprah.
“Haduh tidak bisa dibiarkan ini Mina, nanti kita bisa jadi kluster baru penyebaran virus itu.” Bu Dewan mondar-mandir karena cemas. Saking tak bisa berpikir logis, wanita itu sampai tak bertanya kemungkinan apakah Kelana baru datang dari luar negeri atau sejenisnya. Padahal jika dipikir-pikir Mina lah yang baru saja kembali dari Prindapan. Namun, namanya juga pengusaha. Bu Dewan berspekulasi mungkin Kelana sempat melakukan rapat atau pertemuan dengan orang asing.
Mina mengiyakan, dia yang sudah ketakutan duluan mematikan panggilan ke bu Dewan dan mencoba menghubungi Kimi - saudaranya yang berprofesi sebagai dokter dan memiliki sebuah rumah sakit di kota itu. Mina menunduk sambil berjalan mencari nomor Kimi, dia sampai tak sadar suaminya sudah berada di depannya, Mina pun menabrak Nic dan reflek mendorong dada pria itu.
“Jangan dekat-dekat, kita harus jaga jarak,” ucapnya.
“Mina!” Nic terkejut dan heran dengan sikap istrinya. Dia bahkan mengangkat ketiak untuk mencium bau badannya.
__ADS_1
_
_
_
Bersambung dulu
Kangennya udah keobati belum?
Yang mau baca keseruan Bu Dewan dkk baca aja novel BUKAN KONTRAK PERNIKAHAN
Yang mau tau cerita Mina yang kuliah kagak lulus-lulus baca MERRIED TO MR CEO
Lope you
__ADS_1