Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 180 : Maafkan Mama!


__ADS_3

Pagi itu Hana berdiri di depan wastafel dengan dua tespek yang baru saja dia gunakan tergeletak di luar sisi cekungnya. Tangan kanan Hana kibaskan di depan muka karena dia hampir saja meneteskan air mata. Hana tak menyangka dua tespek yang baru saja dia gunakan menunjukkan hasil yang sama. Tertera dua garis merah yang menandakan bahwa dirinya tengah berbadan dua.


“Hana, jangan menangis! tidak boleh menangis,” ucapnya ke diri sendiri. Ia bergegas memasukkan dua tespek itu ke kantong piyama !untuk menyembunyikannya dari Kelana.


Hana grogi, dia membuang napas berkali-kali dari mulut sebelum memastikan Kelana masih terlelap. Setelah yakin, secepat kilat dia memasukkan alat tes kehamilan yang hasilnya positif itu ke dalam tasnya. Pelan-pelan, Hana kembali naik ke atas ranjang, tidur di sebelah sang suami dan memainkan puncak hidung Kelana.


“Sayang, ini sudah pagi. Kamu akan terlambat ke kantor jika tidak buru-buru bangun,” bisik Hana lembut. Ia susuri wajah damai suaminya dan berpikir bagaimana reaksi Kelana saat tahu dirinya tengah mengandung buah cinta mereka.


“Hem … aku bosnya Hunny,” jawab Kelana dengan suara yang masih lengket. Kelana merengkuh Hana ke dalam dekapan, matanya masih terpejam, Kelana seolah sangat malas hanya untuk memjauhkan kelopak mata.


“Ya, sudah tidurlah lagi, aku akan menyiapkan baju kerja dan turun melihat pembantu menyiapkan sarapan apa pagi ini.” Hana menggeser tubuh, dia hampir menurunkan satu kaki tapi Kelana lebih dulu menangkap pingangnya yang ramping.


“Hana sepertinya perutmu semakin besar, apa kamu sudah melupakan dietmu?” Mata Kelana terbuka dan seketika menatap bagian tubuh Hana yang baru saja dia sebutkan tadi.


Hana pun kaget, tidak mungkin Kelana tahu kalau dia sedang hamil, karena dia saja baru mengetahui hal itu lima belas menit yang lalu. Kelana pasti hanya tebak-tebak buah manggis. Hana menggeleng cepat dan menjawab, “Aku belum ‘rekob’ sayang.” Lalu tertawa.

__ADS_1


Kelana akhirnya melepaskan pelukannya dan membiarkan istrinya itu berjalan menjauh, tapi belum juga Hana mengikat rambutnya dengan sempurna, suara teriakan Dinar membuat Hana berjengket kaget.


“Ada apa? kenapa Mama berteriak?”


Dinar syok, dia tidak bisa menyembunyikan emosi yang membuncah di dada. Semalam, Bestie-nya yang bernama Rudi Tabuti mengiriminya sebuah pesan bahwa ada hal serius yang ingin disampaikan dan ditanyakan. Pria itu masih salah paham dan menganggap Kelana sejenis minuman dengan tagline ‘jeruk minum jeruk’. Bahkan karena rekaman horor itu staffnya dikabarkan demam. Rudi tidak tahu bahwa lokasi penjebakan Bagas di Jogja dan Kelana sedang bersama istrinya saat itu. Kurangnya informasi dari Kelana membuat Rudi menggali lubang kuburnya sendiri.


“Kelana!” teriak Dinar dengan suara tercekat cenderung ke nelangsa. Ia baru saja menelepon Rudi beberapa menit yang lalu, Dinar naik pitam setelah mendengar cerita dari Rudi tentang sang putra yang terindikasi bermain anggar. Beruntung dia tidak sampai pingsan karena darah tingginya mungkin bisa kumat.


“Mama, ada apa?”


Hana membuka pintu dan Dinar tanpa permisi menerobos ke dalam. Kelana yang masih belum sepenuhnya ‘on’ menguap lebar dan menggaruk lengan. Ia heran dan bahkan sewot melihat wanita yang melahirkannya itu menerobos masuk.


“Pantas kamu tidak bisa menghamili Hana, kamu ternyata benar-benar pecinta pria,” tuduh Dinar, dia mulai menteskan air mata karena kecewa.


“Mama ngomong apa sih?” Kelana menggaruk kepala, dia masih malas berdebat dan memilih membuang muka.”Mama mimpi apa? bangun Ma, minum dulu sana!”

__ADS_1


Dinar semakin menggila, putra semata wayangnya bahkan dengan enteng mengabaikan perasaannya yang sudah tak karuan. “Kelana, kamu dan Hana pasti bersandiwara ‘kan? kalian pura-pura jadi pasangan ‘kan?”


“Astaga Mama!” bentak Kelana. “Kami saling mencintai.”


Wajah pria itu sangat murka, hingga Hana melotot meminta sang suami untuk tidak membentak orang tua. Hana merengkuh tubuh Dinar agar wanita itu bisa menangis di pundaknya.


“Maafkan Mama Hana, seharusnya tidak usah Mama restui saja kamu dan anaknya si Ekuador itu.” Dinar sesenggukan bahkan ingusnya membuat piyama sang menantu basah. “Di saat Mama sudah sayang ke kamu, kenapa malah begini? Kelana … Kelana.”


Hana cengo, dia menaikturunkan dagu meminta penjelasan ke sang suami. Pundaknya mengedik saat Dinar kembali berkata, “Kamu pasti menderita Hana, suamimu itu selain bisa main mancing mania mantap ternyata juga bisa main anggar. Kenapa ini terjadi padaku?”


“Ma… mama, sepertinya Mama salah paham, memang suamiku main anggar sama siapa?”


_


_

__ADS_1


_


Bersambung dulu 🙈


__ADS_2