
“Apa ini sakit?” tanya dokter sambil menekan bagian perut Kelana yang berbaring di ranjang pemeriksaan.
“Tidak Dok,” jawab Kelana. Ia menoleh Hana yang duduk cemas menunggu hasil diagnosa dari dokter tentang kondisi suaminya.
“Silahkan bangun!” Dokter melepas stetoskop dari telinga. Ia malah tersenyum seolah apa yang dialami Kelana hanya sakit yang tidak perlu dipikirkan. “Sepertinya Anda stress dan mungkin terkena sindrom Couvade.”
“Covid Dok?” Hana mencoba mengulangi ucapan Dokter dan malah jadi menyebut sebuah nama penyakit yang menyerang sistem pernapasan manusia itu.
“Couvade ibu, sindrom ini terjadi saat suami juga ikut merasakan tanda-tanda kehamilan yang dialami istrinya,” ucap sang dokter memberi penjelasan agar semakin mudah dipahami oleh Hana dan Kelana.
Meski begitu, Hana tetap saja bingung. Pasalnya baru kali ini mendengar hal semacam ini. Dia memang tidak mengalami mual muntah parah seperti ibu hamil kebanyakan. Trimester pertama kehamilannya pun bisa dia lewati dengan baik, jadi aneh rasanya jika Kelana baru mengalami sindrom ini sekarang.
“Tidak ada yang perlu dipikikan, saya akan meresepkan obat sesuai gejala dan juga vitamin. Pak Kelana sebaiknya juga menghindari stress karena sindrom Couvade ini bisa semakin parah jika Anda stress.”
Kelana mengangguk paham, dia terdiam sepanjang perjalanan menebus resep sampai ke rumah mereka kembali. Bahkan saat turun dari mobil dia langsung berjalan lunglai masuk ke dalam rumah. Hana memintanya untuk tidak perlu bekerja hari itu, kesehatan Kelana jauh lebih penting, dan juga dia merasa kasihan kenapa suaminya harus mengalami ini.
__ADS_1
“Hana!”
Panggilan dari tetangganya membuat Hana menoleh, sang penjaga rumah bergegas membukakan gerbang saat Mina datang membawa sebuah tas kertas.
“Oleh-oleh dari Prindapan,” ucap Mina sambil menyerahkan apa yang dia bawa ke sang tetangga.
Hana tersenyum dan mengucapkan terima kasih, wajahnya yang nampak lesu membuat Mina penasaran dengan apa yang mungkin terjadi ke tetangganya itu, apalagi dia tadi melihat Kelana masuk ke dalam rumah seperti orang yang baru saja kehilangan uang. Lemas , lesu, lunglai tak bertenaga.
“Mas Kelana sedang tidak enak badan, kata dokter dia mengalami Covid.” Hana salah ucap lagi, pelafalannya sungguh sangat mencengangkan hingga membuat Mina melotot dan seketika mundur ke belakang.
“Tapi kata dokter tidak berbahaya kok, ah … iya maksudnya itu – “
Hana mau menjelaskan bahwa pelafalannya mungkin salah, maksudnya Couvade bukan Covid. Namun, sayangnya Mina sudah lari tunggang langgang kembali ke rumah. Istri dari Nicholas Sebastian Adam itu takut jika tertular virus yang Hana sebutkan.
Penjaga rumah Mina yang bernama Pak War pun bingung, dia menatap Hana yang hanya bisa mengedikkan bahu. Ia pun tak ambil pusing dengan sikap Mina barusan dan memilih untuk menyusul Kelana masuk ke dalam. Hana memberikan oleh-oleh dari Mina ke pembantunya lantas meminta dibuatkan teh hangat untuk Kelana yang sedang tak enak badan.
__ADS_1
Hana masuk ke kamar dan melihat suaminya duduk di tepian ranjang, Kelana seketika merentangkan tangan meminta dipeluk sang tambatan hati. Hana sadar seharian ini akan sibuk mengurusi bayi besarnya yang sangat manja. Kelana memang seperti anak kecil jika sedang tak enak badan.
Menyandarkan kepala ke dada Hana, Kelana terdiam, matanya memandangi perut sang istri yang membuncit lalu mengusapnya lembut dengan gerakan memutar.
“Hunny, aku mau mangga mekar,” ucapnya kemudian, sontak saja mulut Hana mengaga tak percaya.
“Lah …. “
_
_
_
Scroll ke bawah 👇
__ADS_1