
“Mama kemana?”
Bunga kebingungan mencari Tantri, dia berjalan ke segala penjuru rumah berharap menemukan wanita itu tapi nihil. Bunga menerka mungkin Tantri pergi keluar sebentar ke minimarket. Ia pun menunggu di depan teras sambil bermain ponsel, tapi lama-kelamaan dia merasa aneh, jika pergi ke minimarket seharusnya tidak selama ini. Akhirnya Bunga mencoba menghubungi kontak sang Mama, wanita itu pun menjawab kalau dia sedang ada urusan penting dan sedang dalam perjalanan pulang.
Setelah melihat targetnya keluar tadi, Tantri turun dan memesan taksi, sedangkan preman itu membuntuti dari belakang. Sambil berkendara dia memakai masker dan juga topi. Preman itu mengeluarkan sebuah pisau lipat dari dalam laci mobil. Ia terus mengikuti ke mana Kelana berkendara sampai turut parkir di sebuah restoran saat Kelana masuk ke sana. Kelana nampak mematikan mesin mobi, dan preman itu ikut melakukannya. Suasana restoran yang cukup sepi membuatnya berniat melancarkan aksi di sana.
Tak lama, sebuah van mewah juga ikut masuk, Kelana yang tahu mobil itu milik sang mama pun memilih menunggu dan berdiri di belakang mobilnya. Ia melempar senyum ke arah Hana yang lebih dulu turun sambil memamerkan kuku jari. Kelana terkekeh, dia senang sang istri mau mulai berfoya-foya menggunakan uang darinya.
Namun, kening Kelana seketika terlipat saat melihat pria dengan kaos polo hitam berjalan cepat ke arahnya. Ia merasa ada sesuatu yang janggal dengan gerak-gerik pria itu. Mata Kelana membola melihat tangan pria itu mengeluarkan benda dari dalam kantong celana. Beruntung, dia bisa menghindar saat pria itu menghunuskan senjata tajam.
Preman sewaan Tantri yang sepertinya amatiran itu pun kaget, apa lagi Kelana sudah waspada dan langsung menendang pisau dari tangannya sampai terlepas. Hana, Dinar dan juga Tata yang baru keluar dari mobil terang saja dibuat terkejut dengan pemandangan di hadapan mereka. Dada Hana seketika bertabuh kencang.
“Apa itu yang Kelan tendang?” tanya Dinar dengan santai.
__ADS_1
“Sepertinya korek api? Atau Hape?” jawab Tata sambil menjulurkan kepala untuk melihat benda apa yang terlempar tadi.
“Apa yang kamu lakukan? apa kamu berniat menusukku?” teriak Kelana dengan lantang, dia membuat tiga wanita yang menyaksikan kejadian itu kaget bahkan sampai memegangi dada.
“A-a-apa? menusuk? Dia mau membuat anakku celaka?” Dinar emosi, dia berjalan cepat mendekat disusul Tata.
Preman itu takut dan berusaha kabur, tapi sebuah pukulan lebih dulu Tata berikan. Wanita itu mengayunkan tas centelnya seharga dua koma satu miliar tepat ke muka preman itu.
“Rasakan gebokan tas mahal!" ucap Tata.
Keributan itu mengundang perhatian orang yang ada di sekitar resto, preman itu ingin kabur lagi tapi Tata dan Dinar menarik bagian belakang bajunya. Preman itu memberontak tapi dia terlambat dua wanita itu secara brutal malah membuatnya tak bisa berkutik. Tata memeluk, Dinar melingkarkan lengan ke leher, sedangkan Hana sudah berteriak meminta tolong untuk memancing perhatian orang-orang.
“Astaga, kamu mandi tidak sih bau banget!” keluh Tata. Preman itu memberontak tapi Kelana mendekat dan memberinya satu bogem mentah di wajah.
__ADS_1
Dinar dan Tata buru-buru melepas dan menyingkir, sedangkan Hana masih terus berteriak dan orang-orang berdatangan. Preman itu ketakutan, dia terkepung dan alhasil menjadi bulan-bulanan orang yang kesal.
“Haduh … kalau dia mati bagaimana?” Tata cemas, dia goyang lengan sang kakak yang mematung karena tak menyangka putranya diserang di depan mata.
“Aku akan menelepon polisi saja,” ujar Tata karena Dinar tidak merespon kecemasannya.
_
_
_
_
__ADS_1
Bab lain coming soon