
Hari wawancara kandidat sekretaris Kelana pun tiba, Hana pun bersiap untuk bertemu dengan sepuluh orang wanita yang akan menggantikannya. Hana agak heran juga karena tidak ada satu pun pria yang lolos, mungkin karena sejak awal tidak banyak juga pria yang melamar.
Menggunakan setelan terbaiknya, Hana sukses membuat sang suami terpesona. Ia yang sedang duduk di depan cermin sedikit kesusahan memasang anting ke telinga. Kelana yang baru selesai mengancingkan kemejanya pun mendekat untuk membantu. Pria itu mengambil alih anting di tangan sang istri lalu memasangkannya.
"Terima kasih.” Hana mendongak dan sebuah kecupan mendarat di bibirnya mesra. “Kenapa?” tanya wanita itu heran menyadari sorot mata sang suami. “Kamu menatapku seolah hari ini aku mau mencarikan istri kedua untukmu.”
“Hunny!” Nada suara Kelana naik, dia tidak suka dengan perkataan Hana yang terakhir itu. Kelana gemas, bahkan menyentil kening sang istri.
Hana tertawa terbahak, seolah bahagia baru saja membuat dada suaminya hampir melompat keluar. Bagaimana bisa dia bercanda dengan membawa-bawa istri kedua, Kelana bukan tipe pria buaya. Dulu dia bahkan sampai seperti orang bodoh saat diselingkuhi Amanda karena terlalu setia.
“Kenapa? aku salah?” tanya Hana sambil mengusap keningnya yang terkena sentilan.
__ADS_1
“Salah, tentu saja kamu salah. Aku tidak mungkin menduakan cintamu, apa lagi sampai berpikir memiliki dua istri, satu saja tidak habis-habis aku makan,” jawab Kelana.
Kini mata mereka saling bertatapan dari pantulan cermin. Sorot mata Hana sedikit berubah. Ia terharu, netranya sampai berkaca-kaca. Kelana yang menyadari itu bergegas memegang pundak Hana. Wanita itu balas mengusap punggung tangannya dengan lembut dan lirih mengucapkan kata terima kasih lagi.
“Kamu tidak berhutang apa-apa padaku, kenapa terus mengucapkan terima kasih,” bisik Kelana. Ia angsurkan tangannya untuk melingkar memeluk tubuh Hana dari belakang. “Hunny, seharusnya aku yang berterima kasih karena kamu sudah mau menjadi teman hidupku, meski awalnya aku sangat menyebalkan. Aku tahu sangat menyusahkanmu.”
Air mata Hana menetes, wanita itu menarik napas sambil mencoba menetralkan perasaan harunya yang tak bisa dibendung lagi. Rasa syukur tak henti-henti dia kumandangkan di dalam hati. Mungkin benar jika setiap tahap yang dilalui dalam hidup ini memberikan hikmah di kemudian hari. Seperti dirinya yang dulu halus melewati kesengsaraan. Dari mulai dikhianati Bagas, kehilangan calon bayi dan pada akhirnya diceraikan.
“Sayang, bagaimana bisa kamu menyebutku petasan tahun baru. Aku wanita anggun, lemah lembut tahu!” Hana cemberut, meski jejak air mata masih ada di pipi tapi dia sudah bisa tersenyum.
Hana melonggarkan tangan Kelana, dia memutar badannya dan kini berhadap-hadapan dengan sang suami. Mendongak dan terdiam, Hana memejamkan mata saat Kelana menyentuhkan bibir mereka. Hati Hana menghangat seketika, ciuman Kelana benar-benar lembut dan bisa dia rasakan sampai ke sanubari. Begitu lembut dan penuh kasih, dia bahkan kembali meneteskan air mata. Rasa syukurnya berkali-kali lipat. Ia dan Kelana masih saling memagut bibir. Bahkan dengan lembut Kelana menyesap benda kenyal Hana seperti vacuum cleaner.
__ADS_1
Hingga lama kelamaan pagutan itu menjadi semakin dalam dan semakin panas. Hana merasa tubuhnya terbakar gairaah. Kelana semakin hanyut dan kini mulai menelusupkan lidah.
“Diharapkan para kandidat sekretaris yang akan diwawancarai untuk bersabar, sang pewawancara sepertinya akan terlambat datang.”
Hana meremas ke dua sisi kemeja Kelana, dia yakin setelah ini mereka akan berakhir di atas ranjang.
_
_
_
__ADS_1
Scroll ke bawah 👇