Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 44 : Melamar


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, Hana terdiam. Ia syok sampai lupa meminta Kelana mengantarnya kembali ke kantor karena mobilnya berada di sana. Saat sadar, mobil sang atasan sudah sampai di depan lobi apartemen. Hana hanya bisa mendengkus kasar, dia mengucapkan terima kasih sebelum turun dan membungkukkan badan.


Hana berjalan masuk dengan lesu, sedangkan Kelana sengaja menurunkan kaca jendela agar bisa melihat sosok wanita itu dengan jelas masuk ke dalam gedung.


“Dia tidak berniat kabur atau berubah pikiran ‘kan?” gumam Kelana. Resah hatinya memikirkan rencana pernikahan yang harus maju. Ia menyetujui saja permintaan Ayu tadi, karena bagaimana pun lebih cepat dia menikah, lebih cepat juga dia mendapat warisan dan harta neneknya yang lain.


“Bagaimana kalau dia kabur di hari pernikahan?” Kelana menggelengkan kepala untuk menepis pikiran buruk yang tiba-tiba merasuk ke otaknya.


“Tidak! tidak! mana berani dia kabur."


Karena yakin kalau mamanya pasti sudah mendengar bahwa Ayu ingin dia menikah segara, Kelana pun memilih pulang ke rumah.


Pembantu kediaman Dinar bahkan kaget mendapati tuan mudanya pulang, buru-buru si pembantu naik ke lantai atas untuk menghidupkan pendingin udara kamar milik pria itu. Kelana bisa murka jika kamarnya panas. Beruntung tuan mudanya itu berbelok ke arah kamar Dinar berada.


Tanpa mengetuk, Kelana membuka pintu kamar sang mama. Ia melihat sosok Dinar duduk bersandar pada kepala ranjang sambil menatap layar televisi. Kelana tahu wanita itu melihat kedatangannya, tapi berpura-pura cuek.


Meski terkadang sering berselisih paham, tapi Kelana sejatinya sangat menyayangi sang mama. Nampak jelas bagaimana Kelana merasa gelisah, dia duduk di tepian ranjang dan bertanya apa Dinar sudah makan malam.


“Kenapa? tidak usah peduli sama mama,” ketus wanita itu tanpa mengalihkan tatapan dari layar televisi.


“Mama pasti sudah tahu kalau nenek memintaku menikah tanggal dua puluh enam bulan ini,” ucap Kelana mengawali pembicaraan yang sedikit serius ini, Jika Dinar sampai tahu bahwa dia hanya berbohong, mungkin bisa habis dia dihajar oleh sang ibunda.


“Nenekmu memang keterlaluan, kamu itu anakku tapi entah kenapa aku tidak bisa menolak permintaannya,” sewot Dinar.


Kelana tahu bahwa Dinar tidak mungkin berani menentang keinginan nenek gayung, selain karena ingin terlihat jauh lebih baik dari Tata, sang mama juga mata duitan, tak jauh berbeda dari Hana yang di dalam otaknya hanya ada uang,uang dan uang.


“Kepribadiannya saja jongkok, bayangkan aku memiliki mantu dan cucu sepertinya.” Dinar mengedikkan bahu, masih tak mau menoleh menatap sang putra.


“Ya sudah jangan dibayangin Ma, aku akan memberikan cucu langsung.”


Niat hati bercanda, tapi Dinar seketika berpaling dan menatap sengit.

__ADS_1


“Dia baik Ma.” Kelana membela Hana lagi, dan kali ini jelas bukan bagian dari rencana. Ia sendiri heran bagaimana bisa membela wanita itu di depan Dinar.


“Mungkin kamu berpikir Mama aneh dan berlebihan, tapi Mama hanya tidak ingin kamu menjadi bahan olok-olokan Tata dan para sepupumu,” kata Dinar.


“Tidak akan ada yang berani mengolok-olok Ma, karena sebelum melakukan itu aku pasti lebih dulu meremas mulut mereka,” jawab Kelana dengan gaya sombong.


Dinar melengos, dia merasa tidak ada hal lain yang perlu dibicarakan dengan sang putra. Kelana cukup keras kepala. Dinar berpikir, yang bisa dia lakukan sekarang hanya lah mengikuti keinginan Ayu dan putranya itu.


“Baik-baik ya Ma, jangan sampai Mama menunjukkan rasa tidak suka ke keluarga Hana,” pesan Kelana karena mereka merencanakan untuk melamar Hana.


***


Hari itu, mungkin menjadi hari yang paling tak terduga bagi Arman. Tanpa persiapan, Kelana datang bersama ibu, nenek dan juga keluarga. Tata dan sang putra pun turut serta.


Tantri bahkan kebingungan, meski membenci putri tirinya, tapi tidak mungkin dia dengan sukarela mempermalukan diri sendiri. Ia bahkan marah ke Hana, jika memang akan ada acara seperti ini seharusnya Hana bilang agar dia bisa menyiapkan suguhan.


“Sudah lah! mereka hanya butuh secangkir teh, jangan bersikap berlebihan! seolah peduli dengan harga diri Ayah,” ketus Hana. Ia membuang muka dan meninggalkan Tantri yang mengikutinya ke depan kamar mandi untuk membenahi riasan.


“Melamar Hana?” Arman mengulangi ucapan Kelana. Karena tidak ada pria yang dituakan di keluarga, Kelana sendiri yang harus mengungkapkan maksud tujuan mereka datang.


Tantri tersenyum aneh, dia bingung. Sejak tadi yang dia lakukan hanya duduk sambil memindai penampilan Tata dan juga Dinar. Wanita itu menghitung nilai barang branded yang dikenakan oleh dua wanita itu.


“Iya, saya ingin menjadikan Hana istri saya,” ucap Kelana lagi.


Hana terbengong, dia menatap dalam-dalam wajah Kelana. Terlintas di dalam pikiran Hana, bahwa sungguh membahagiakan jika apa yang diucapkan sang atasan bukanlah sandiwara.


“Tunggu! kenapa aku bisa berpikir seperti itu? tidak!” gumam Hana dalam hati. “Dia adalah orang yang harus kamu waspadai Hana, jangan sampai kamu jatuh cinta padanya! Jangan!”


“I-i-itu!” Arman terbata-bata.


Pria itu memang tahu putrinya berencana menikah, tapi saat didatangi orang-orang yang berpenampilan elegan ini tentu Arman sedikit syok, apa lagi Ayu ikut menambahkan bahwa ingin pernikahan dilakukan beberapa hari lagi.

__ADS_1


“Tu-tu-tunggu, bagaimana kami menyiapkan pesta pernikahan secepat itu?” Tantri ikut angkat bicara, alasannya tentu bukan karena peduli kepada Hana, melainkan dia bingung dapat duit dari mana. Ia tahu kondisi keuangan Arman sedang kurang baik.


“Anda tidak perlu bingung! pihak kami akan memberikan dana yang dibutuhkan, lima ratus juta. Apa cukup?” Kelana menatap Hana, wanita itu nampak kaget karena sejak tadi yang dilakukannya hanya melamun saja.


“Li-li-lima ratus juta?”


Tantri megap-megap, dia bingung dan memindai satu-satu wajah tamu, hingga sorot matanya berhenti untuk menatap Dinar yang sejak tadi memilih diam.


Dinar bersikap kaku, sampai Tata dengan sengaja menyenggol lengannya, barulah wanita itu buka suara. Dinar pun berkata, “Apa kurang? Katakan saja berapa yang Anda butuhkan!”


Ada perasaan aneh di dalam hati Hana mendengar kalimat Dinar, tidak ingin memasukkan ke dalam hati tapi rasanya ada sedikit penghinaan di sana.


“Tidak perlu!” potong Hana cepat, terang saja semua orang menoleh kaget. Bahkan Kelana mengernyit. Pria itu takut jika Hana menolak dan menghancurkan rencananya yang tinggal selangkah lagi.


“Tidak perlu memberi kami uang karena keluarga kami bisa membiayai acara sendiri.” Hana rasanya ingin mengucapkan kalimat itu, tapi yang keluar dari bibirnya adalah-


“Maksud saya tidak perlu, lima ratus juta sudah cukup!”


Hana tersenyum, dia menatap Kelana yang tiba-tiba juga tertawa. Hana merasa sang atasan sedang mencibir, padahal Kelana merasa lega. Sementara itu Tantri juga mengembangkan senyuman di wajah.


“Lumayan nanti bisa korupsi dana pernikahan anak tiri.” Begitu yang ada di dalam pikiran Tantri.


_


_


_


_


_

__ADS_1


Maaf ya telat, semoga kleyan maklum kalau Na juga punya RL yang nggak bisa ditinggalkan 🙏


__ADS_2