
“Bagaimana bisa kamu membawakan bakpia, harusnya kamu membawakan tespek buat Mama.”
Dinar menyindir Hana, meski ucapan mertuanya itu sedikit menohok tapi Hana malah tertawa-tawa. “Yah … Mama, masa mau dibawakan stik bekas pipis dari pada makanan.”
Dinar melengos, meski begitu dia comot juga salah satu oleh-oleh khas Jogja itu dan memakannya. Hana memulas senyuman manis, dia menopang dagu tepat di depan Dinar. Sebuah kalimat rayuan sudah dia siapkan untuk membuat mertuanya menjawab pertanyaannya tanpa bertanya kenapa.
“Mama senang nggak punya mantu kayak aku? aku baik, cantik, tidak merepotkan, tidak mata duitan. Minusnya cuma aku janda.” Hana mengawali ucapannya dengan lancar, agak grogi juga dia karena ingin menanyakan soal Amanda ke sang mertua.
“Asal Kelana bahagia dan terbukti tidak primo alias pria homo, Mama juga bahagia.” Dinar menghentikan mulutnya yang sedang menguyah makanan, Ia mengusap mulut dengan tisu sebelum menutup kotak bakpia yang diam-diam sudah lima biji habis dia makan.
“Mama pasti kenal Amanda ‘kan, mereka pasti serasi. Apa Mama dulu merestui hubungan Kelana dan dokter itu?” tanya Hana lagi.
“Ada masalah?” tanya Dinar.
__ADS_1
Hana pun mengangkat kepala dan menggoyangkan ke dua tangannya untuk menjawab pertanyaan mertuanya.
“Lalu kenapa tiba-tiba membahas mantan? Bukankah ada pepatah buang mantan pada tempatnya? Kamu pikir Mama tidak tahu kalau Amanda itu selingkuh? Dia menjalin hubungan dengan pria lain saat peruasahaan putraku goyang, seolah dia hanya mau dengan putraku saat kaya saja.” Muka Dinar berubah sinis, julid mirip emak-emak komplek sebelah.
“Setelah itu Kelana seperti trauma menjalani hubungan dengan wanita, entah apa hebatnya Amanda. Kalau psikolog bilang sih mungkin ada sesuatu yang sudah Kelana dan Amanda lakukan sehingga Kelana tidak bisa melupakan wanita itu. Dan akan sembuh sendiri saat Kelana bertemu wanita lain dan membuat kenangan yang sama,” cerocos Dinar. Ia melirik Hana yang sedang berusaha mencerna ucapannya.
“Hana, putraku masih perjaka ‘kan saat pertama kali oh yes oh no sama kamu?”
“Astaga! Mama kan cuma nanya, jangan ngegas donk. Lagian apa coba ‘sesuatu yang sudah pernah dilakukan’ sampai Kelana tidak bisa melupakan Amanda?” Dinar membuka kembali kotak bakpia yang diberikan Hana, dia memakan satu lagi karena rasa makanan itu ternyata cocok di lidahnya.
“Kalau benar Kelana sudah tidak perjaka, artinya dia hanya berpura-pura polos di depanku dulu. Dasar!” gumam Hana, dia mengeleng untuk menepis pikiran buruk, mau Kelana memang sudah tidak perjaka itu tidak masalah. Yang pasti kini hanya dia satu-satunya wanita yang pria itu cintai.
“Lalu soal Amanda yang dari keluarga biasa, apa Mama juga tahu?” tanya Hana kemudian.
__ADS_1
“Tahu donk. Hana, Mama tidak pernah memandang status sosial. Kelana bebas memilih pasangan asal bahagia, Mama saja membiarkan dia menikah denganmu yang janda.” Dinar menekuk bibir, dia keceplosan lalu tertawa, berharap menantunya tidak sakit hati. “Duh … maaf ya Mama kenceng bener nyebut jandanya.”
Hana tersenyum, dia terdiam sejenak sebelum mengungkapkan kegelisahannya ke Dinar perihal Amanda yang ingin menemui Kelana untuk membayar hutang.
“Jangan Hana! Jangan biarkan Kelana bertemu dengan wanita itu lagi, Mama saja tidak rela. Beritahu Kelana kalau Amanda mau bayar hutang suruh saja trans…fer, ngapain repot-repot ketemu!”
_
_
_
Bersambung dulu 🥰
__ADS_1