Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 59 : Menginap Di Rumah Mertua


__ADS_3

“Bisa tidak besok saja, aku lelah.” Hana mengedip ke arah ponselnya – mengiba.


“Yang saya tahu dari Bu Dinar, Anda sudah tidak menjadi sekretaris Pak Kelana, saya harus melakukan tugas, jika Anda tidak bersedia belajar malam ini maka sampaikan sendiri keluhan Anda ke Bu Dinar.”


Hana menelan saliva, dia menoleh Kelana yang heran karena dia meminta pergi ke rumah Dinar malam itu. Tanpa Kelana tahu, Hana berbalas pesan dengan Tria saat masih berada di perusahaan tadi, wanita yang dibayar mahal oleh sang mama untuk membentuk kepribadian Hana itu memberi tahu jadwal belajar Hana, tapi Hana menolak.


“Apa kamu serius mau menginap di rumah Mama malam ini?” tanya Kelana memastikan.


“Hem … aku ingin mengambil hati mertuaku,” jawab Hana dengan penuh kesungguhan. Ia menoleh Kelana lalu mengerjab.


“Kenapa?” tanya Kelana bingung dengan perubahan ekspresi wajah Hana.


“Kamu ganteng banget,” puji Hana tanpa sedikit pun rasa malu. Terang saja Kelana dibuat tersipu. Pria itu bahkan mencolek lengan Hana sebelum tertawa.


Hana pun geli-geli gemas melihat tingkah atasan sekaligus suaminya itu, dia melepas sabuk pengaman dan bergegas turun untuk masuk ke dalam rumah.


Seperti kebiasaannya, Kelana langsung berjalan masuk ke dalam rumah tanpa menjawab sapaan pembantu. Hana sampai tak enak sendiri, dia menunduk dan melempar senyum sebelum berjalan cepat menyusul Kelana. Pria berkemeja putih dengan lengan yang tergulung sampai siku itu berjalan cepat sambil memasukkan tangan kanan ke dalam kantong celana.


“Bagaimana bisa meski cuma dari belakang dia terlihat sangat keren,” gumam Hana. Ia memukul kepalanya karena tiba-tiba bayangan Kelana yang tanpa busana terlintas dalam otaknya. “Hana jangan mesum,” gerutunya.


Hana berjalan cepat, langkahnya terhenti saat mendapati Kelana berdiri di dekat meja makan, di sana ternyata Dinar sedang sibuk bermain ponsel sambil menikmati makan malam – sendirian. Seketika Hana merasa kasihan, bagaimana rasanya duduk di meja sebesar itu dan hanya sendirian, Dinar pasti sangat kesepian.


“Malam Ma,” sapa Hana karena tahu Kelana hanya diam saja bahkan Dinar sampai seperti tidak menyadari keberadaannya.

__ADS_1


Namun, Dinar jelas tahu ada tamu saat sang peembantu membukakan pintu. Wanita itu menoleh dan memasang mimik cool meski ingin tersenyum melihat sang putra datang.


“Siapkan piring untuk tuan muda,” ucap Dinar, dia lirik Hana yang berdiri di dekat sang putra. “Dan satu piring untuk Hana,” imbuhnya.


Kelana menengok ke Hana dan meraih tangan wanita itu, Dinar yang melihat pun seketika membalik badan kembali dan membenarkan posisi. Meski hanya melirik tapi dia tahu Kelana menarik kursi dan mempersilahkan Hana duduk. Sungguh romantis.


“Tumben datang ke sini,” ucap Dinar tanpa memandang putranya.


“Hana ingin menginap di sini, dia memintaku untuk sering-sering menginap agar Mama tidak kesepian.”


Jawaban Kelana membuat Hana kaget, begitu juga dengan Dinar yang mendongak menatap putra dan menantunya bergantian. Hana merasa dia tidak pernah mengucapkan kalimat seperti itu, dia yakin Kelana mengatakannya agar Dinar memandangnya sebagai menantu yang baik dan penuh kasih sayang.


Hana pun tersenyum, dia salah tingkah dan berdiri dari kursinya saat pembantu rumah menata piring untuknya dan Kelana.


Hana pun mengangguk dan duduk kembali. Ia benar-benar tidak bisa menikmati makanan yang dihidangkan. Ia ingin sekali mengungkapkan niatannya datang, tapi tidak ingin merusak suasana hati Dinar yang sepertinya bahagia karena Kelana mau menginap di rumah.


***


“Katakan! Apa alasanmu mengajak menginap di rumah Mama? aku yakin alasannya bukan untuk melakukan malam pertama di sini.”


Kelana menghimpit tubuh Hana di belakang pintu sesaat setelah mereka baru masuk ke dalam kamar. Hana pun tak bisa berkata-kata, dia hanya menjawab dengan memberikan ciuman di bibir dan membuat Kelana tersenyum manis.


“Aku ingin Bu Dinar menghentikan kelas kepribadian yang harus aku ikuti, seburuk apa kepribadianku sampai harus mengikuti kelas seperti itu?” wajah Hana berubah sendu.

__ADS_1


“Lalu kenapa tidak mengatakannya langsung tadi?”


“Aku takut merusak suasana hatinya, sepertinya mamamu itu kesepian, lihat! dia bahagia saat melihatmu datang. Kasihan, kamu harus memperhatikannya, dia sudah tua, bayangkan jika saat tengah malam terjadi sesuatu padanya, apa kamu tidak akan sedih dan menyesal,” cerocos Hana, dia baru terdiam setelah Kelana membungkam mulutnya dengan ciuman.


“Cerewet!” ucap Kelana sambil mengusap bibir Hana yang basah. “Apa menurutmu aku bukan anak yang baik?”


“Kamu putra satu-satunya, menikah denganku saja pasti membuatnya sedih, dia pasti berharap mendapat menantu yang sempurna, tidak janda sepertiku.”


“Lalu … “ Kelana merespon Hana dengan kata ambigu sampai wanita itu bingung dengan maksudnya.


“La-lalu apa?”


“Lalu agar Mama tidak kesepian lagi bagaimana kalau kita memberinya banyak cucu, ada enam kursi di meja makan, jadi kita harus memiliki tiga anak yang lucu,” goda Kelana.


“Apa kamu menginginkan memiliki anak dariku?” Hana merasa bahagia, tidak pernah dia sangka Kelana yang kaku bisa membahas sesuatu yang manis seperti ini.


“Hem … tapi Hana, bukankah kita harus memprosesnya lebih dulu. Apa kamu mau melakukannya malam ini?”


Hana menggeleng lantas menunduk ke bawah, Kelana yang tidak paham menjauhkan badan untuk memastikan apa yang sedang dilihat sang istri.


“Ada apa?”


“Palang merah,” jawab Hana.

__ADS_1


“Di mana palangnya? Aku tidak melihat palang,” jawab Kelana dengan polosnya.


__ADS_2