
Meski di depan Tantri dia murka, tapi Hana kepikiran juga tentang kondisi sang papa. Ia berjalan masuk ke gedung kantornya sambil mengetikkan pesan di ponsel. Hana melakukannya sambil berjalan pelan hingga tak menyadari di depannya sesosok pria sudah menunggu. Wanita itu pun menubruk dan hampir saja ponselnya terjatuh.
“Maaf!” ucap Hana, tapi sedetik kemudian air mukanya berubah melihat siapa yang ada di hadapannya.
“Dari mana kamu?” tanya Bagas.
Hana awalnya memilih untuk bungkam, tapi mengingat apa yang diucapkan oleh Tantri dia pun memilih bertanya ke Bagas, apa mungkin mantan suaminya itu tahu dengan kondisi keuangan dan kesehatan papanya.
“Hem … kalau soal kesulitan keuangan aku tahu, ibu tirimu itu bahkan kerap datang untuk meminta uang pada anaknya, maka dari itu aku menyita semua kartu Bunga, baik ATM dan CC, tapi soal usaha papamu aku tidak tahu apalagi penyakit yang kamu sebutkan itu,” jawab Bagas. “Kenapa apa dia datang ingin meminta uang darimu? Dasar wanita itu, mata duitan sekali. Dia merongrong seperti tikus tanah,” ketus Bagas yang malah mencurahkan isi hati.
“Meski begitu dia mertuamu Bagas,” sahut Hana. Ia memutar bola mata malas berharap Bagas peka bahwa dia tidak memiliki perasaan lagi.
Namun, sejatinya Bagas sendiri tahu bahwa Hana sudah mulai menujukkan sikap yang berbeda, hingga dia ingin segera mengumpankan Bunga ke Kelana agar wanita itu mau kembali padanya.
Hana yang masih membuang muka pun akhirnya penasaran denga dokumen yang berada di tangan Bagas, hingga pria itu berkata perekrutan sekretaris baru Kelana mulai dibuka hari ini. Merasa bahwa Bagas seperti merencanakan sesuatu, Hana pun meminta ikut dalam proses seleksi.
“A-apa? kamu ingin ikut dalam penilaian perekrutan ini?” Bagas kaget, dia tak percaya Hana akan meminta sejauh ini.
“Iya, aku harus menilai sendiri sekretaris yang akan menggantikanku - yang setiap hari harus suamiku temui, jelas aku tidak akan memilih yang cantik. Pokoknya harus kompeten dan wajahnya biasa saja,”tutut Hana. Setelah mengatakan itu dia melenggang meninggalkan Bagas yang bingung.
__ADS_1
“Kalau Bunga ikut, bisa jadi Hana akan menolaknya.” Bagas menggaruk bagian belakang kepala. “Ah … sudah biarkan saja, harus dicoba dulu,” ucapnya kemudian.
_
_
_
“Mau aku buatkan kopi?”
Hana sengaja menyembulkan kepala dan tidak masuk ke dalam ruangan Kelana, hingga pria itu mengayunkan tangan memintanya untuk mendekat.
“Aku tidak mau kopi aku mau susu, tapi susu yang langsung disedot dari pabriknya.”
“Kelana!” reflek Hana menyilangkan kedua tangan di depan dada. Mesum sekali suaminya itu, pipinya bahkan merona merah karena ucapan barusan yang teramat vulgar. “Macam-macam!” hardiknya.
Kelana pun terkekeh, dia senang membuat Hana tersipu sekaligus marah seperti itu. Karena wanita itu hari-harinya menjadi jauh lebih berwarna. Ia pun tak bisa membendung rasa penasaran lantas bertanya apa yang tadi dibicarakan Tantri kepada Hana.
“Apa terjadi sesuatu?”
__ADS_1
Hana menggeleng, raut mukanya berubah sedih. Ia mencemaskan kondisi papanya, bukankah jika tumor yang diderita ganas akan mengancam nyawa?
“Intinya dia ingin meminta uang, tapi dia juga mengabarkan bahwa papa sedang sakit.” Hana menekuk bibir, raut wajahnya yang berubah membuat Kelana bangkit dan mendekat. Ia raih tangan istrinya itu dan bertanya-
“Apa sakitnya parah? Apa kamu ingin berkunjung dan menginap di rumah papamu?”
Hana mendongak lalu secepat kilat mengangguk. “Apa kamu mau menemaniku?”
“Tentu saja, aku suamimu Hana. Itulah gunanya suami, selalu ada disisimu disegala situasi.” Kelana tersenyum manis, dia belai pipi Hana lembut sembelum menyambar bibir istrinya itu.
“Nah … ‘kan!”
_
_
_
Scroll ke bawah👇
__ADS_1