Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 121 : Mama Datang


__ADS_3

“I am the champion, aku pemenangnya.”


Hana menyombongkan diri bahkan sampai menekuk tangan untuk menunjukkan otot lengannya yang sama sekali tidak menonjol. Sementara itu, Kelana yang sedang memakai baju hanya bisa tertawa. Ya, dia memang kalah karena laharnya meletup lebih dulu di peperangan kali ini, tapi tak mengapa setidaknya suasana hati Hana sudah kembali membaik.


“Aku lapar, mau aku buatkan sarapan? Bagaimana kalau roti panggang dengan selai nanas?” tanya Hana. Ia bergelayut dan memeluk pinggang Kelana. Kepalanya nampak mendongak menatap suaminya itu.


“Cih … bahagia sekali, tapi kamu licik tidak memberiku ronde kedua,” cibir Kelana.


“Sudahlah, kita bisa melakukan ronde-ronde selanjutnya nanti. Aku malah takut jika sampai mama datang dan melihatmu segar bugar.” Hana melepaskan pelukan, dia mengambil ikat rambut dan berjalan cepat keluar.


“Benar juga,” gumam Kelana. Ia menyusul Hana. Membantu istrinya itu dengan panci mi semalam. Kelana membuang isinya dan mencuci panci itu.


Hana yang melihat tak bisa menahan rasa bahagianya, jarang sekali ada pria yang mau ikut mengurus rumah tangga, bahkan Bagas dulu tidak mau menyentuh peralatan dapur apa lagi mencuci piring.


“Ah … kamu membuang-buang mikurameku Hana,” sesal Kelana. Ia memang menyukai mi merek itu, dan rasa yang akan dimakan Hana semalam, adalah rasa limited edition. Tertulis jelas di bungkusnya ‘Hot level pelakor – digemari bapak-bapak genit dibenci ibu-ibu solehot’. Kelana bahkan harus membelinya via jastip.

__ADS_1


“Apa aku harus bekerja sama dengan perusahaan ini? atau aku buat saja pabrik mi?” gumam Kelana lantas menggeleng. Ia menepis pikirannya sambil mengelap tangannya yang basah.


“Sudah, kamu tidak cocok bergerak di bidang kebutuhan pokok, apa kamu mengurusi pabrik gula yang diberikan nenek ayu?” tanya Hana. Ia meletakkan roti yang baru selesai dipanggang ke piring. “Tidak ‘kan?”


“Hunny, aku ingin memberikan pabrik itu padamu, apa kamu mau?”


Hana mengernyit, dia seketika menghentikan gerakannya mengoles selai untuk menatap ekspresi wajah suaminya. Hana tidak percaya Kelana akan dengan sukarela memberikan pabrik yang sangat diincarnya. Bahkan tanpa Kelana awasi pabrik itu masih berjalan seperti biasa.


“Tidak perlu, aku ingin menjadi ibu rumah tangga, mengurusmu dan anak-anak kita nanti. Aku tidak ingin pabrik itu,” jawab Hana. Meski sedikit ada yang mengganjal di dalam dadanya. Kenapa juga dia berkata seperti itu.


“Kelana!” pekik Hana dan pria nakal itu hanya tertawa. Hingga tawanya hilang saat mendengar bel kediaman mereka berbunyi, dua orang itu kalang kabut, karena sudah bisa menduga pasti Dinar yang datang ke sana.


Kelana pun memilih untuk kabur masuk ke dalam kamar, tapi Hana dengan sigap mengambil roti dan menyuapkannya ke dalam mulut sang suami.


“Sayang, makan dulu!”

__ADS_1


“Bawakan air untukku nanti!” titah Kelana sambil berjalan cepat menjauh.


Hana menarik napas dalam-dalam - mencoba bersikap tenang untuk menyambut kedatangan Dinar. Ia sadar tidak boleh mencurigakan di depan sang mertua. Hana memulas senyum sesaat setelah membuka pintu. Benar saja Dinar yang ada di balik sana. Wanita itu langsung masuk ke dalam dan mencari keberadaan sang putra.


“Kelanaku … mana Kelanaku?”


Dinar panik, tapi yang membuat Hana heran, mertuanya itu datang sambil membawa toples kosong.


_


_


_


Scroll ke bawah👇

__ADS_1


__ADS_2