
“Tidak usah ke kamar ya.”
Kode yang diberikan Kelana sudah sangat jelas, di mana lokasi dia ingin berperang malam ini, dengan sekali jentik. Lampu utama apartemen padam dan berganti dengan lampu yang temaram.
Hana masih bergelayut manja, tangannya masih melingkar dengan manis di leher sang suami. Ia juga masih nyaman duduk di pangkuan Kelana yang kini menatap lekat paras cantiknya dan mulai melirik ke bibirnya.
Sudah menjadi kebiasaan bagi mereka untuk membangkitkan gairah dengan menyatukan bibir. Kelana pun tahu bahwa Hana sangat menyukai ciumannya yang lembut. Namun, jelas saja pagutan halus itu hanya awal saja, setelah beberapa menit Hana berubah menjadi sedikit buas, dan di sini lah Kelana tahu bahwa istrinya sudah siap dengan serangan balasan.
Lidah mereka membelit di dalam, tak ada yang mau mengelah. Kelana bahkan semakin mengeratkan tangan ke pinggang sang istri, sedangkan Hana tubuhnya sudah mulai kelojotan dan bahkan meremas punggung sang suami.
Hana memilih melepaskan tautan bibirnya, dia turun dari pangkuan Kelana dan berlutut tepat di depan pria itu. Tak sampai di sana, dia buru-buru menarik celana pendek suaminya sampai lolos dari kaki kemudian kain penutup berikutnya. Hana tersenyum sambil menggigit bibirnya sensual, dia menggenggam rudal Kelana dengan satu tangan lantas tersenyum sambil mengeluarkan lidahnya, sudah mirip ular dahan saja wanita itu. Namun, bukannya geli, Kelana semakin terpancing biraahi. Desahaannya lolos saat Hana memasukkan rudalnya ke dalam mulut, sudah cukup dalam, tapi dia mendorongnya sampai sang istri terjingkat kaget. Hampir saja Hana tersedak barang berbahaya.
__ADS_1
“Sabar sayang, tidak usah dorong-dorong, nanti aku dorong sendiri,” goda Hana dengan bahasa yang sangat mesum, dan sukses membuat Kelana menjambak sisi rambutnya.
Lagi, Hana menyentuh bagian yang dibocorkan dokter andrologi kepadanya, bagian yang terletak di antara kandung kemih dan batangan spesial milik Kelana. Pria itu tak bisa berkata-kata bahkan menggelengkan kepala agar dirinya sadar tidak boleh begitu saja membiarkan Hana menang kali ini. Ia pun diam-diam belaja karena tidak ingin terlihat amatiran di depan sang istri.
Kelana meminta Hana menghentikkan kegiatannya menguluum rudal, meski bingung Hana hanya menurut, wanita itu pasrah saat sang suami mendorong tubuhnya hingga terjerembab ke sofa. Kali ini Kelana yang menyeringai nakal, dia memulai dengan menarik tangan Hana dan menghisap jemarinya, setelah itu menarik betis dan mencium telapak kakinya.
“Sayang!” Hana menarik kaki tapi Kelana dengan sigap menahan. “Sayang, jangan!”
“Tapi kamu suamiku …. “
“Maka dari itu biarkan aku melakukan ini, apa kamu pikir tidak sopan?” Kelana tersenyum melihat ekspresi Hana, istrinya itu mengangguk pelan.
__ADS_1
“Hunny, dalam peperangan posisi kita sama,”kata Kelana. Ia kembali mencium telapak kaki Hana dengan mata nakal menatap lurus wanitanya itu.
Kelana mulai menyingkap baju dinas Hana yang tipis sampai mengekspos paha, setelahnya pria itu melakukan satu hal lagi yang tertulis dalam artikel yang dia baca. Kelana Menjiilat bagian dalam paha Hana, dia menyapukan lidah ke sana dan berhasil membuat Hana tanpa sadar mendesaah.
“Kamu suka?” tanya Kelana, dia bisa mencium bau kemenangan di depan mata.
_
_
Scroll ke bawah 👇
__ADS_1