
Dengan sedikit tambahan bumbu dari Tantri, berita Kelana yang datang untuk melamar Hana pun sampai ke telinga Bagas dan Bunga. Wanita itu berkunjung lagi ke rumah putrinya, tapi kali ini Tantri tak berniat untuk meminjam atau meminta uang lagi.
“Beruntung sekali dia, bisa-bisanya janda dapat perjaka, mana perjakanya kaya raya.”
Tantri sengaja membuat suara selantang mungkin agar mantunya yang bernama Bagas itu mendengar dengan jelas.
“Nggak kayak kamu, perawan eh malah dapat duda, mana dudanya magak, kaya nggak miskin nggak,” imbuhnya.
Bunga melotot, Tantri membuatnya salah tingkah sekaligus tak enak hati. Ia memukul paha untuk memberi kode agar Tantri tidak berbicara seperti itu saat ada Bagas. Rumah tangganya sedang dalam kondisi tanggap darurat, bisa-bisanya sang mama malah menyiram bensin seolah hendak menyulut kobaran api. Meski Bagas berada di ruangan yang berbeda, tapi Bunga yakin suaminya mendengar ucapan tadi.
“Biarkan saja lah! kalau mau marah ya sini, Mama akan hadapi,” ucap Tantri.
Tepat setelah berbicara, Tantri diam seribu bahasa. Bagas keluar dengan muka datar dan menyambar kunci mobil dari meja pajangan. Bunga pun berdiri dan mengekor sang suami, dia bertanya ke mana Bagas akan pergi.
“Aku mau menghirup udara segar, pengap di rumah ada gas beracun,” ketus Bagas.
Kini giliran Tantri yang tersinggung mendengar ucapan sang menantu. “Hei … Bagas! kamu mau mengataiku kentut? Pakai bawa-bawa gas beracun segala?”
Bagas menatap tajam Bunga, dia menggeleng lantas meninggalkan istrinya itu tanpa memberitahu kemana tujuannya pergi. Bunga hanya bisa melampiaskan kekesalannya ke Tantri, wanita itu memaki sang ibu karena sudah membuat Bagas kesal lagi.
“Halah … nanti kalau kamu pameri dada dan ************ dia juga bakal baik lagi,” ucap Tantri. Wanita itu beranggapan bahwa masalah yang dihadapi sang putri, tak serumit masalahnya yang terlilit hutang.
***
Bagas benar-benar kesal. Mendengar Hana ingin menikah dengan Kelana, dadanya terasa sakit. Ia mencengkeram erat kemudi dan bahkan menekan klakson berulang saat mobil di depannya belum berjalan padahal lampu sudah menyala hijau.
“Bisa nyetir nggak sih? dasar bodoh!” umpatnya meluapkan kekesalan. Bagas sendiri tidak tahu kenapa dia begitu murka, ada rasa penyesalan di hatinya menceraikan Hana untuk menikahi Bunga.
Seolah tidak sadar, Bagas membelokkan mobil ke apartemen Hana. Ia ragu haruskah turun menemui mantan istrinya itu atau pergi saja dari sana. Pria itu membenturkan dahi ke kemudi, dia tertunduk cukup lama hingga terdengar ketukan dari kaca jendela.
“Hana,” lirihnya melihat sosok wanita itu yang mengenakan baju olahraga.
__ADS_1
Hana baru selesai jogging, dia memilih olahraga di siang hari agar lebih banyak keringat yang keluar. Mata wanita itu mengerjab, menebak apa yang mungkin terjadi.
“Kenapa ada di sini?” tanya Hana sesaat setelah Bagas keluar dari mobil.
Mereka berdiri berhadapan, melihat ekspresi Bagas yang masam, Hana yakin mantan suaminya ini pasti baru saja bertengkar dengan Bunga. Entah suntikan kenekatan dari mana, yang jelas Hana tiba-tiba berkata-
“Aku tidak akan meminta kamu berpisah dari Bunga, aku juga tidak mungkin menerimamu dengan terbuka, aku akan menikah dengan Pak Kelana, aku butuh dia untuk menyokong hidupku, jadi jika kamu ingin berhubungan denganku maka kita berselingkuh saja."
Serangan Hana jauh lebih mematikan dari rudal yang dijatuhkan sebuah pesawat tempur.
“A-a-apa?” Bagas tak menduga ajakan Hana. Mantan istrinya itu mengajak dirinya berselingkuh secara terang-terangan di siang bolong pula.
“Ya sudah kalau tidak mau, lupakan saja!” ucap Hana, dia melenggang pergi meninggalkan Bagas, tapi pria itu lebih dulu mencekal pergelangan tangannya.
“Han, maaf,” ucap Bagas.
“Jangan bilang kamu akan menolak tawaranku tadi,” gumam Hana dalam hati. “Apa?”tanyanya sedikit ketus.
“Kena kau.” Hana tersenyum. Ia membulatkan netra saat Bagas tiba-tiba ingin memeluk.
Hana mendorong tubuh pria itu menjauh dengan alasan dia lengket dan bau keringat.
“Jadi mulai hari ini kita resmi menjadi kekasih?” tanya Bagas meminta penegasan, sedangkan Hana hanya mengangguk untuk mengiyakan ucapan mantan suaminya itu.
***
“Ulangi lagi! apa yang kamu bilang tadi?” Kelana sampai memiringkan kepala untuk menunjukkan telinga.
Pagi itu, Hana bercerita ke sang atasan bahwa dia dan Bagas sudah resmi berkencan.
“Wah … Bagas, hebat sekali! Pria macam apa dia, berani-beraninya berkencan dengan wanita lain, padahal masih terikat hubungan sah pernikahan.”
__ADS_1
Kelana marah, dia kecewa, tapi gengsinya terlalu tinggi untuk mengungkapkan perasaan ke Hana. Ia mulai jatuh cinta, dia tidak suka Hana bersikeras membalaskan dendam ke Bunga dengan cara berkencan dengan Bagas.
“Anda tahu apa keinginan saya. Saya akan tetap berkencan dengan Bagas meski kita sudah menikah nanti, lagi pula pernikahan itu hanya bohongan, saya janji tidak akan terang-terangan berkencan dengan Bagas di muka umum."
“Sebrengsek apa si Bagas itu, jika aku benar-benar mencintaimu artinya dia sengaja ingin menyakitiku, bukankah begitu?"
“Tapi Anda tidak mencintai saya, dan saya juga sabaliknya. Bapak memanfaatkan pernikahan ini untuk mendapat warisan, saya juga akan memanfaatkan pernikahan ini untuk balas dendam.” Hana berbicara tanpa keraguan, semangatnya berapi-api, bahkan seorang Kelana Pramudya tidak akan pernah bisa membuatnya berubah pikiran.
Kelana terdiam, dia terjebak dalam situasi yang tidak pernah diantisipasi sebelumnya. Pada akhirnya gengsi mengalahkan perasaan, pria itu berkata, “Terserah, aku tidak peduli! asal jangan sampai kamu kepergok keluargaku, persiapkan dirimu, kamu harus terlihat sempurna di resepsi pernikahan kita nanti.”
Kelana membuang muka, dia menatap berkas yang Hana berikan lalu mengusir sekretarisnya itu pergi.
“Keluar lah! lanjutkan pekerjaanmu!”
Hana mengangguk lantas putar badan, sikap Kelana membuatnya seketika merasa bersalah. Ada perasaan aneh yang merayap di dada, dan dia bingung mengartikannya.
“Bukankah ini kesepakatan awal? Kenapa dia seolah tidak terima? Kenapa memasang muka seperti itu? dia tidak mungkin menyukaiku. Aku cukup tahu diri, seorang Kelana Pramudya menikahi janda, aku yakin dia akan menjadi bahan tertawaan teman-temannya.”
Hana menggerutu, bahkan sampai duduk di mejanya gadis itu masih membeo. Baginya sikap Kelana membingungkan. Menueut Hana tidak perlu lah membuatnya gede rasa, dia cukup tahu diri akan posisinya.
_
_
_
_
_
Met NgabubuREAD
__ADS_1
Tinggalkan komen ya