
“Kenapa diam saja?”
Kelana meraih tangan kanan Hana dengan tangan kiri. Ia mengangsurkan tangan itu ke depan bibir lalu menciumnya. Pria itu menoleh sekilas lalu kembali fokus menatap jalanan.
“Aku hanya berpikir apa yang sedang Bagas rencanakan, aku sudah menunjukkan rasa tidak suka padanya, tapi dia tetap saja seperti tidak sadar,” ucap Hana.
“Apa kamu sudah melupakan balas dendammu dan ingin melepaskan mereka?” Kelana menoleh lagi, tapi belum juga Hana menjawab pertanyaannya, pria itu sudah berujar lagi. “Semalam, aku mengobrol sebentar dengan papamu, sepertinya dia ingin kamu hidup tenang dan melupakan membalas perbuatan Bunga dan Bagas di masa lalu.”
Hana membeku, dia hanya bisa memandangi wajah Kelana yang kembali berucap, “Papamu tidak mengatakannya secara gamblang, tapi aku jelas bukan anak kecil. Aku bisa membaca maksudnya dengan jelas.”
“Aku tahu ini salah, tapi aku masih ingin dua orang itu merasakan kesakitan seperti yang aku alami, dan sepertinya Bagas berencana menjadikan Bunga sekretarismu.”
“Untuk apa? menggodaku?” Kelana malah terkekeh, dia menoleh Hana yang sudah cemberut, bahkan sebuah pukulan mendarat di lengannya dari pujaan hatinya itu.
“Aku tidak akan pernah membiarkannya, aku tidak akan sudi dipelakori untuk yang kedua kali,” kata Hana.
__ADS_1
Bukannya mengelak atau membuat untaian kata indah agar istrinya merasa lega. Kelana malah tersenyum. Hingga Hana lagi-lagi mendaratkan pukulan ke lengannya yang kekar. Wanita itu mengancamnya agar tidak sampai tergoda jika benar Bunga menjadi sekretarisnya.
“Kamu meremehkan aku, aku bukan pria seperti itu Hunny,” tegas Kelana.
_
_
Sesampainya di gedung perusahaan, Kelana dan Hana pun berjalan bersisian menuju ruangan pria itu. Mereka sesekali bercanda dan bahkan saling bergandengan tangan saat keluar dari dalam lift. Hingga senyuman Hana seketika hilang. Wanita itu menelan saliva melihat siapa yang sudah menunggu di depan pintu ruang kerja Kelana.
“Dasar! Sudah Mama bilang berhenti bekerja Hana,” bentak Dinar.
“Perekrutan sekretaris baru sudah dibuka, Hana hanya akan membantuku sampai perekrutan itu selesai, Mama jangan salah paham,” kata Kelana mencoba menjelaskan. Ia tersenyum geli saat Hana terasa memegang erat pinggangnya. Istrinya itu benar-benar takut Dinar akan melayangkan gamparan.
“Iya Ma, apa yang dikatakan Kelana seratus persen benar.” Hana mencoba mengintip, tapi skeetika menyembunyikan mukanya lagi karena Dinar sudah melotot.
__ADS_1
“Dasar menantu aneh,” cicit Dinar. Wanita itu bersedekap dada lalu membuang muka. Sesekali Dinar melirik Hana yang masih bersembunyi.
“Ngomong-ngomong untuk apa Mama pagi-pagi ke sini, apa ada urusan?” tanya Kelana. Ia seketika gelisah saat Dinar mengangguk dan mengatakan ini sangat emergency – darurat.
Mereka duduk di sofa yang biasanya dipakai Kelana untuk menerima tamu. Dan Hana menyusul masuk dengan membawa dua cangkir teh. Wanita itu hendak keluar karena merasa apa yang akan dibicarakan Dinar ke sang suami sangat lah penting. Namun, mertuanya itu mencegah dan bahkan memintanya ikut duduk.
Merinding Hana dibuatnya. Ia menatap bergantian Dinar dan Kelana yang duduk berhadapan. Pasangan Ibu dan anak itu seperti tengah berbicara dengan menggunakan bahasa kalbu, tak ada suara yang keluar dari mulut tapi mata dan bibir keduanya menunjukkan ekspresi yang berubah-ubah.
“Katakan ada angin apa Mama ke sini! jika tidak begitu penting bukankah Mama bisa menunggu aku datang ke rumah.”
“Sayangnya masalah ini sangat penting Kelana,” jawab Dinar sedikit ketus. “Istri Rafli sudah hamil, Tata pamer ke semua orang.”
“Apa Mama iri?” potong Kelana cepat. Matanya menyipit menunggu jawaban dari Dinar.
_
__ADS_1
_
bersambung