Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 138 : Makian


__ADS_3

Hana mengangguk, dia pasrah sambil menikmati sentuhan dan sapuan Kelana di pahanya. Ia bahkan sudah mulai tak tahan dan menarik tengkuk prianya dengan sedikit kasar. Bibir mereka bertaut kembali, tangan kiri Kelana menopang berat tubuhnsedangkan tangan kanannya menarik lepas kain segitiga penutup palung marihana. Dengan bantuan tangan kanan, Kelana menubrukkan rudalnya masuk ke dalam, Hana bahkan sampai mengangkat pantat karena rasanya sedikit sesak.


Mereka menikmati menghabiskan waktu berperang berdua di atas sofa, hingga tepat seperti apa kata Kelana tadi, setelah makan udon mereka ngadon. Akhirnya peperangan dimenangkan oleh Kelana, Hana mengibarkan bendera tanda menyerah setelah digempur habis-habisan tanpa jeda. Kelana sungguh sangat perkasa, tak salah jika dia memiliki gym mini di sudut apartemen untuk menjaga kebugaran tubuhnya.


Kelana berdiri dengan senyuman lebar, dia bahkan memakaikan kembali panties Hana setelah itu membopong tubuh istrinya. Hana yang sudah kehabisan tenaga pun hanya bisa pasrah, dia melingkarkan tangan ke leher sang suami dan mencurukkan kepala ke dada, dia malu.


“Mau aku antar ke kamar mandi?” tanya Kelana setelah membaringkan Hana ke atas ranjang.


“Tidak sebentar lagi aku akan membersihkan diri, tolong ambilkan saja ponselku di nakas!”


“Oke, aku ke kamar mandi sebentar,” ucap Kelana. Ia kembali menyambar bibir Hana seolah membuatnya kebas masih kurang tadi.


Lima menit kemudian Kelana melompat ke atas ranjang, dia memberikan ponsel Hana dan memilih berbaring terlentang karena merasa sedikit pegal, sofa sangat sempit jadi dia harus sedikit menahan posisi agar tidak terjengkang. Bahkan pria itu melupakan ponselnya yang masih tergeletak di sana.


Hana mengaktifkan daya ponsel kembali, setelah koneksi jaringannya pulih notifikasi dari aplikasi pesan mulai bersahutan seperti mengajak tawuran. Kelana sampai heran. siapa yang mengirimi pesan sebanyak itu ke istrinya, dia pun menyambar ponsel Hana, sepertinya dia curiga istrinya sering berbalas pesan dengan pria lain. Hingga Kening kelana mengeryit, sementara Hana yang ponselnya diambil memilih pergi ke kamar mandi.

__ADS_1


Kelana menegakkan badan, dia ingat nomor yang memberondong Hana dengan pesan memiliki akhiran yang sama dengan nomor yang meneleponnya tadi, hingga dia membuka dan membaca pesan itu. Kelana kaget saat isinya seperti memaki-maki.


[ Hana, dasar anak tidak tahu diri, kenapa ditelepon tidak bisa, Papamu masuk rumah sakit dan butuh biaya untuk jaminan operasi]


[ Begini bilangnya mau membiayai operasi, di saat dibutuhkan malah tidak bisa dihubungi]


[ suamimu juga sama, dia tidak mengangkat panggilanku, apa dia bahagia kalau mertuanya mati ]


Membaca deretan pesan itu, tanpa diberitahu Kelana juga sudah yakin ini pasti Tantri. Kelana pun mencoba memanggil Hana agar segera keluar dari kamar mandi.


“Apa? papa? Bukankah papamu sudah Inalilahi,” jawab Hana yang sepertinya masih terbang karena percintaan panas dengan sang suami tadi.


“Haish … papamu, papamu ‘kan juga papaku.”


“Papa,” ucap Hana. “Papa!” Wanita itu bergegas keluar kamar mandi dan menyambar ponselnya yang berada di tangan Kelana. Hana memang sengaja tidak menyimpan nomor kontak Tantri karena tidak sudi.

__ADS_1


“Ibu tirimu, benar-benar keterlaluan, apa tidak bisa dia bernegosiasi dengan pihak rumah sakit untuk biaya yang harus dipenuhi.” Kelana berjalan mendekat ke arah lemari untuk mengambil baju ganti.


“Sepertinya dia tadi meneleponku, tapi tidak aku angkat karena aku tidak suka menerima panggilan dari nomor yang tidak ada di kontak, lagi pula dia bisa mengirim pesan, kenapa tidak dia lakukan,”sesal Kelana.


Hana pun membalas pesan itu meski terlambat, dia meminta Tantri untuk menunggu karena dia akan segera menuju rumah sakit.


“Begitulah dia, tidak mau keluar uang dulu takut tidak diganti. Entah dihamburkan kemana jatah bulanan dari papa selama ini.”


_


_


_


Scroll ke bawah 👇

__ADS_1


__ADS_2