
Di sela perdebatan antara Dinar dan Tata, Rafli dan Rita yang baru selesai dengan ikan-ikan yang ingin mereka bawa pulang mendekat, dengan sengaja Rafli memukul lengan Kelana lalu mengucapkan selamat.
“Ya, terima kasih!” ucap Kelana, dia tahu bahwa Rafli sebenarnya juga tidak begitu menyukainya. Mungkin karena ibu mereka sering berselisih sehingga kedua sepupu itu menjadi tidak begitu dekat.
“Oh … ya Tante, apa tante memberikan nomor ponselku ke Amanda?” tanya Hana. Kapan lagi mendapat momen seperti ini. Ia hanya ingin mengkonfirmasi kebenaran. Jika memang Tata, Hana ingin tahu apa maksud dan tujuannya.
Tata tersedak untuk yang kedua, kali ini dia marah dan mendorong tubuh Dinar agar menjauh.
“Aku bisa makan sendiri sudah sana kembali ke kursimu,” usirnya karena sejak tadi dia terus saja tersedak duri ikan yang sang kakak berikan.
“Iya, kemarin si bolu kukus itu mengganggu menantuku tersayang, seingatku kamu juga punya nomor ponsel Hana,” ucap Dinar. “Kamu pasti sebar-sebarin nomor Hana, untung kamu sebarinnya cuma ke wanita itu, coba ke pinjol illegal.”
Tata mati kata, dia tak berkutik karena memang dirinya lah yang memberikan nomor Hana ke Amanda. Bukannya langsung menghubungi Hana dan mengajak wanita itu bertemu sesuai dengan tujuannya meminta nomor, Tata malah memberikan kontak Hana ke dokter pribadi Ayu.
“Bukankah kamu bilang meminta nomor Hana agar dia bisa belajar cara cepat hamil dari Rita?” cibir Dinar lagi. “Ah … kamu ini memang Tata … Tata, apa kamu berniat merusak rumah tangga anakku? Apa kamu ingin keponakanmu menjadi duda?”
__ADS_1
“Sudahlah Ma, yang penting aku sudah tahu siapa yang memberikan nomorku.” Hana tersenyum manis ke Tata agar hati wanita itu tenang dan tidak takut. Ia tidak marah, hanya penasaran saja.
“Lagi pula Amanda juga tidak punya niat lain, dia dan Kelana sudah berakhir, apa lagi Kelana sudah menjadi milikku.”
Hana menolehkan badan ke arah Kelana yang tersenyum simpul. Pria itu sok cool di depan Tata dan juga Rafli. Kelana menarik sudut bibirnya lalu menepuk pucuk kepala Hana dan mengusapnya lembut.
***
“Kemana? pesta?”
“Iya, Mba Hana mengadakan pesta. Bahkan Pak Arman tadi meminta Pak Man menyusul untuk mengambil ikan di sana,” ucap si pembantu.
“Itu pesta apa tempat pelelangan ikan? Pakai acara ambil ikan,” cibir Tantri yang sesungguhnya penasaran. Ia ingin mendapat jawaban tapi pembantunya itu menggeleng - tak tahu.
Tantri dan Bunga akhirnya memilih masuk kembali ke dalam mobil. Mereka terdiam cukup lama untuk berpikir. Tatapan Bunga menerawang ke depan, dia menduga pesta itu pasti diadakan dalam rangka syukuran kehamilan Hana. Ia yang memang menaruh rasa iri ke kakak tirinya pun kesal. Benar apa yang dikatakan oleh Tantri, kenapa Bagas tidak bisa menghamilinya. Apa ada yang salah? apa mungkin karma karena pria itu dulu sudah membunuh darah dagingnya sendiri. Bunga menggeleng dan tanpa sadar berkata –
__ADS_1
“Tidak.”
“Kenapa? tidak apa maksudmu?” Tantri menatap curiga. Ia pindai wajah Bunga dan bertanya lagi, “Kamu baik-baik saja ‘kan? atau ada masalah dengan Bagas?”
“Masalah sama mas Bagas itu setiap hari bukan hari ini saja,” jawab Bunga, dia membuang muka. Hatinya terasa dongkol.
“Bunga, apa kita sama-sama bercerai saja? menjanda lebih baik, siapa tahu nanti ketemu pria seperti Kelana?”
“Mama ngaco! Bercerai dari suamiku hanya akan membuat Hana semakin merasa berada diatas angin.”
_
_
_
__ADS_1
Scroll ke bawah 👇