Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 89 : Goyangan


__ADS_3

Hana tersenyum malu, pipinya memerah karena ucapan Kelana barusan. Meski begitu dia pun berdiri dan melingkarkan tangan ke lengan sang suami.


Arman yang mendapati tingkah putri dan menantunya pun tertawa geli. Pria itu bahkan membuat gerakan mengusir agar Kelana dan Hana segera masuk ke dalam.


“Mereka benar-benar serasi,” puji Arman.


Mendengar itu jelas Bagas merasa tidak suka, sedangkan Bunga menjadi iri. Pasangan suami istri itu pun sama-sama membuang muka meski ke arah yang berbeda.


_


_


“Kamarmu kecil sekali,” protes Kelana sesaat setelah masuk ke dalam kamar sang istri.


Hana yang masuk belakangan dan mengunci pintu kamar pun memilih untuk tak menjawab pertanyaan sang suami, dia malah protes soal ucapan Kelana yang sedikit membuatnya malu tadi.


“Kenapa kamu berbicara seperti itu? aku malu tahu.”


Alih-alih menjawab ucapan Hana, Kelana malah merebahkan diri di atas ranjang. Ia kaget dan menoleh saat ranjang itu berderit, seperti tidak kokoh.

__ADS_1


“Apa ranjang ini aman ditiduri dua orang?” tanya Kelana, dia menegakkan badan dan menyanggah sisi kepala dengan tangan.


“Aman, kecuali kamu lompat-lompat di atasnya,” jawab Hana. Ia mengambil handuk dan mengeluarkan beberapa skin care yang dia bawa ke sana. Membersihkan wajah sebelum tidur sudah menjadi rutinitas wajib bagi wanita itu.


Namun, baru saja akan menuju kamar mandi, Kelana sudah menarik tangannya hingga dia terjerembab jatuh ke dalam pelukan pria itu.


“Kelana!” pekik Hana, pipinya bersemu merah karena Kelana mendekapnya erat, bahkan bibir mereka hampir bersentuhan. “Kenapa sih kamu nakal?”


“Tapi kamu suka ‘kan?” Kelana masih saja menggoda, saat Hana berusaha bangkit dan memberontak, pria itu malah mengeratkan pelukan dan semakin mengunci pergerakan sang istri.


“Aku harus cuci muka dan ganti baju.” Hana mencoba meloloskan diri. “Kelana, ranjang ini kuat untuk menopang tubuh kita yang diam, tapi sudah pasti bisa roboh kalau kamu bergerak dan bergoyang-goyang,” imbuhnya.


Senyum licik Kelana membuat Hana gemas dan akhirnya memilih menggigit pundak suaminya itu agar dilepaskan.


“Ah … sakit! apa kamu drakula?”


Bunga dan Bagas yang berjalan hendak masuk ke kamar mereka pun menghentikan langkah. Mereka mendengar teriakan ‘ah’ dengan jelas. Bagas yang berjalan di depan Bunga pun menolah, istrinya itu nampak memasang muka sebal. Bunga pun berjalan mendahului Bagas dan sengaja menyenggol pundak sang suami.


“Ah … ah …. ah Hunny!”

__ADS_1


Suara Kelana membuat Bagas mengepalkan tangan, dia pun memaki, “Brengsek, apa dia ingin seisi rumah tahu dia sedang melakukan itu?”


“Sakit Ha? ayo kalau berani nakal lagi,”ucap Hana setelah menggigit suaminya untuk yang kedua kali. Kelana sudah bangkit, dia duduk sambil mengusap lengan dan pundaknya yang digigit Hana secara bergantian.


“Jangan digigit! Disayang aja,” kata Kelana yang sudah menutup mata sambil memajukan bibir, bukannya ciuman yang dia dapat tapi satu jentikan di jidat.


“Ah … sakit tau!”


“Nanti aku sayang, sekarang aku mau bersihin muka dulu.” Hana berjalan menuju kamar mandi, dia meninggalkan sejenak Kelana yang masih cemberut. Pria itu merebah lagi, tapi sejenak ingat sesuatu, dia meletakkan ponselnya di meja makan.


Kelana mau tak mau bangun lalu berjalan ke luar kamar, tapi alangkah kagetnya dia saat membuka pintu.


“Bagas, apa yang kamu lakukan di sini?”


_


_


_

__ADS_1


Scroll ke bawah 👇


__ADS_2