Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 65 : Tangan Sakit, Pipi Linu


__ADS_3

“Agrh … Agrh, em … enak, ah …”


Erangan Kelana semakin intens terdengar. Pria itu membuka tutup mata, tapi seketika bangkit dan menatap tajam pada Hana kala Istrinya itu berhenti menggerakkan tangannya dan cemberut. Hana bahkan langsung merebahkan badan memunggunginya.


“Tega sekali, apa sengaja mau membuat patah pergelangan tanganku,” ucap Hana dengan nada suara biasa.


Kelana yang mendengar nampak memulas senyum dan ikut berbaring lalu melingkarkan tangan ke pinggang Hana.


“Hei, tidak boleh seperti itu, harus ikhlas melayani suami,” ujar Kelana jahil.


Setelah makan malam, Kelana meminta Hana memberinya servis lagi. Namun, kali ini pria itu menjadikan sang istri tukang pijat.


“Aku lelah bekerja sendirian tadi, sudah sepantasnya kamu melakukan ini untukku,” oceh Kelana seolah tak berdosa.


“Sudah jangan banyak bicara, tidur saja kalau memang lelah, apa kamu berniat membuat tanganku sakit, Ha?” sentak Hana. Ia memejamkan mata dan mencoba melepaskan tangan Kelana dari pingangnya.


“Jangan marah Hunny! Bagaimana kalau bulan madu?” bujuk Kelana. “Shopping, healing?”

__ADS_1


Hana tak menggubris ucapan Kelana, hingga suaminya itu harus sampai menegakkan badan dan melongok untuk melihat wajahnya. Kelana mencium pipi Hana lembut lantas berbaring lagi dan menciumi rambut wanita itu yang wangi.


Kelana terus membujuk, dia tidak berpikir bahwa wanita yang sedang PMS bisa mengalami perubahan suasana hati yang sangat cepat. Hana tadi nampak manis, tapi kini menjadi pahit. Kelana pun sedikit memaksa membalik tubuh Hana agar mau menoleh ke arahnya, meski menurut saja tapi Hana tetap memejamkan mata seolah enggan melihat wajahnya.


“Apa kamu tidak ikhlas memberikan servis ke aku?” tanya Kelana sedikit menggoda. Pertanyaannya berhasil membuat Hana menggeleng meski dengan mata yang masih terpejam.


“Kenapa kamu begitu menggemaskan Hana, ah … dasar!” Kelana yang gemas mencium kening Hana dan semakin merapatkan tubuh. Rasa lelahnya hari ini benar-benar hilang karena Hana berhasil membuat urat-uratnya yang tegang menjadi rileks dengan pijatan plus plus.


“Tidak usah merayu, aku mau tidur! Tanganku sakit, pipiku juga linu,” gerutu Hana.


“Behenti mengajakku membahas hal yang berbau dua satu!” cicit Hana.


Meski agak sewot tapi Hana tak sepenuhnya kesal, terbukti saat wanita itu membuka tangan dan balik memeluk Kelana.


“Aku penasaran, selama menjanda apa kamu tidak pernah berkeinginan melakukan itu?”


“Cih … dasar perjaka, pertanyaanmu sungguh aneh,” cibir Hana. “Ah … aku lupa, kamu sudah tidak perjaka karena keperjakaanmu sudah direnggut oleh jemariku tadi,” ucapnya membenarkan perkataannya sendiri.

__ADS_1


“Hem … terima kasih ya, kamu membuatku terbang melayang-layang,” puji Kelana. Ia pun meminta Hana untuk menjawab pertanyaannya barusan.


“Mana mungkin aku tahan, aku wanita normal, tidak usah tanya bagaimana aku melakukannya. Kamu bisa menemukan alat untuk memuaskan diri di tokopakedi,” jawab Hana santai, bahkan sampai menyebutkan nama sebuah lapak berbelanja dalam jaringan yang cukup terkenal.


“Aku sepertinya harus belajar banyak darimu.” Kelana tertawa, dia semakin merapat dan memeluk Hana erat-erat, pria itu bahkan menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka. “Tidurlah! mulai sekarang kamu tidak perlu membeli alat semacam itu di tokopakedi karena ada aku,” ucapnya jemawa.


Hana pun memulas senyum, dia mengangguk lantas menyodorkan bibir ke Kelana. Pria yang sudah membuat dia jatuh hati itu dengan senang hati memberikan kecupan di sana.


“Bibirmu mengandung candu, aku benar-benar ingin menghisapnya lagi.”


Mulut Kelana seketika terbungkam karena Hana menguncinya dengan jari tangan. “Sudah tidur! Jangan berpikir yang macam-macam, ini malam Jumat. Aku khawatir mbak kunti mengikutimu dari kantor sampai ke sini.”


“Hana!” pekik Kelana. Ia merinding dan menaikkan selimut sampai sebatas leher. Namun, melihat senyuman di wajah Hana, Kelana pun iseng lagi.


“Membuat Mbak kunti cemburu dengan bercinta di ruanganku sepertinya ide yang bagus.”


"Ngaco!"

__ADS_1


__ADS_2