
Sementara itu, saat kembali ke rumah Bunga sudah tidak mendapati keberadaan sang suami. Bagas sudah berangkat ke kantor tanpa bertanya ke dirinya apakah ingin berangkat bersama atau tidak. Bunga pun semakin yakin jika Bagas memang tidak ingin orang kantor tahu bahwa dia istrinya. Jika pun sudah ada yang tahu karena dulu Bagas pernah mengajaknya satu dua kali ke acara kantor, mungkin pria itu memang sengaja menjauhkan diri darinya agar tidak dicap nepotisme – memberi pekerjaan istrinya sendiri sebagai manager HRD.
Namun, Bunga dibuat syok saat mendapati Bagas sudah berada di dekat meja kerjanya. Pria itu seperti menunggunya sambil bermain ponsel. Bunga pun tak ambil peduli dan lebih memilih meletakkan tasnya, menyalakan laptop tanpa sedikit pun menyapa sang suami.
Bagas yang melihat tingkah Bunga yang mendiamkannya pun mematikan ponsel. Pria itu sengaja duduk di kursi yang kemarin digunakan Hana dan belum dikembalikan Bunga ke tempatnya.
“Bagaimana apa kamu sudah mendapatkan uang itu kembali?” tanya Bagas antusias. Ternyata datang bukan untuk menyapa tapi urusan duit.
“Belum, kenapa? kalau tidak sabaran minta saja sendiri sana!” ketus Bunga.
Bagas pun menekuk bibir mendapati jawaban sang istri yang ketus, “Hei … aku sudah bilang begitu jadi tidak enak, sudah kamu saja ya yang minta.”
Mata Bunga memicing, wajahnya berubah masam karena sadar Bagas hanya memanfaatkannya. Mulut Bunga pun tak bisa ditahan untuk tidak memaki. “Itu salahmu sendiri, kenapa sekarang malah aku yang harus seperti pengemis meminta uang itu kembali?”
__ADS_1
“Hei … Bunga itu ‘kan uang kita juga, uang itu bisa kita pakai buat belanja di Jogja nanti, healing kita healing,” kata Bagas.
“Uang kita? Tapi kamu nggak pernah terbuka sama saldo tabunganmu, kamu juga tidak memberiku nafkah yang layak beberapa bulan belakangan ini, uang kita apa?” Bunga menggerutu. “Kalau kamu mau aku meminta uang itu kembali dari Pak Kelana, sabar! Kalau kamu tidak sabar sana minta balik sendiri.”
Bagas kicep, meski begitu dia tetap berusaha membuat Bunga mau melakukan apa yang dia inginkan dan membujuk lagi.
“Sudah sana kembali ke tempatmu! Aku mau bekerja, si Kelana itu sepertinya ingin aku cepat mati, bisa-bisanya meninggalkan begitu banyak pekerjaan untukku,” gerutu Bunga saat menyadari ada sebuah catatan yang ditulis pria itu dan diletakkan di dekat tempat alat tulis di meja.
_
_
“Datang jauh-jauh kok bawanya cuma bunga sih Bu Dinar, suami saya kan belum Inalilahi.” Tantri tersenyum menyebalkan. Bukannya terima kasih tapi malah cibiran yang dia ucapkan saat menerima sebuah vas dengan bunga yang berukuran lumayan besar dari Dinar.
__ADS_1
“Itu harganya mahal tahu,” semprot Hana dengan cara berbisik. Ia malu dengan tingkah Tantri yang seperti tak bersyukur.
“Ya, kalau mahal mending dikasih mentahannya aja, lebih bermanfaat,” balas Tantri dengan cara berbisik juga.
Dinar yang memang tidak peduli hanya memasang ekspresi muka datar, setelahnya wanita itu mengeluarkan sebuah amplop coklat yang berisi benda berbentuk persegi panjang. Hana perkirakan nominalnya sepuluh juta jika amplop itu berisi satu bendel uang pecahan seratus ribuan.
“Sabar donk, mana mungkin seorang Hardinar tidak memberi uang saat menjenguk kaum lemahan.”
Kelana yang sejak tadi hanya diam kaget mendengar ucapan sang mama, dia pun beradu pandang dengan Hana, untung Arman belum siuman.
_
_
__ADS_1
_
Scroll ke bawah 👇