
Hana kembali dari minimarket dan meletakkan sepuluh kaleng bir yang Kelana minta di meja. Tanpa berkata apa-apa, dia memilih mengambil piyama di dalam koper untuk ganti baju.
Hana diam seribu bahasa, sedangkan Kelana hanya bisa mengekori langkah istrinya itu ke sana kemari dengan matanya.
Hana mengambil satu bantal dari atas ranjang, setelah itu dia berbaring di sofa. Tak peduli lagi dengan apa yang akan Kelana lakukan dan katakan, dia hanya ingin mengistirahatkan raga karena besok pasti akan menjadi hari yang melelahkan, dia harus berdiri seharian menyambut para tamu dan tersenyum palsu.
Bukankah berpura-pura bahagia itu menguras tenaga?
Benar saja, hari berikutnya muka Hana bak benang kusut. Ia tidak bisa tidur karena takut Kelana akan melakukan hal yang tidak-tidak kepadanya. Namun, ternyata pria itu tidur, bahkan dari sepuluh kaleng bir yang diminta, Kelana hanya meminumnya satu.
Hana duduk di sofa, dia menatap kesal Kelana yang masih nyenyak tidur di atas ranjang. Ia melihat jam masih menunjukkan pukul empat pagi. Hana pun memeluk bantal dan mendekat ke ranjang, dia dengan sengaja menggulingkan tubuh Kelana sampai terjungkal dan langsung menguasai ranjang.
“Apa-apa’an sih!” bentak Kelana.
Namun, Hana menulikan telinga dan berkata, “Kamu sudah tidur nyenyak berjam-jam, aku juga butuh kenyamanan, gentian kamu tidur di sofa sana!”
Kelana geram, dia menatap sofa yang Hana tunjuk dan membanyangkan bagaimana kakinya harus tertekuk jika tidur di sana. Pria itu pun memilih tak memperdulikan ucapan Hana. Kelana kembali naik ke atas ranjang dan membuat Hana tercengang.
“Mau apa?” bentak Hana.
“Sudah jangan berisik! tidur-tidur saja!”
Kelana memiringkan badan membelakangi Hana. Ia kembali memejamkan mata karena masih sangat mengantuk, hingga tiba-tiba Kelana merasakan sentuhan di bagian dada.
Mata Kelana membeliak lebar, tangan Hana sibuk menggerayangi dadanya. Saat dia membalik badan, wanita itu ternyata memejamkan mata. Hidung Kelana kembang kempis karena perbuatan Hana. Sudah kebiasaan wanita itu tidur dengan membelai dada orang yang berada di sebelahnya, selama jomlo Hana menggunkan bantal, kini Kelana jadi sasaran, tapi entah kenapa Kelana malah menikmatinya. Ia biarkan saja Hana melakukannya dan memilih untuk memejamkan netra kembali.
***
“Kamu!”
__ADS_1
“Kamu yang ketuk!”
“Tidak! kamu saja!”
Suara berisik di depan membuat Kelana mengerjab, dia seketika menjauhkan kepala karena kaget, akan tetapi bibirnya tiba-tiba saja memulas senyum melihat Hana yang tidur meringkuk nyaris mencurukkan kepala di dadanya.
Perlahan pria itu bangkit dari atas ranjang lalu mengusap mukanya kasar. Kelana membuka pintu dan melihat beberapa wanita berseragam sudah berada di depan.
“Pak Kelana, kami dari Wedding organizer pernikahan Anda, pengantin wanitanya apa … “
“Dia masih tidur,” potong Kelana cepat.
“Tapi Pak, MUA butuh untuk melakukan make up dan … “
“Kalian pasti belum menikah, iya kan? Istriku masih lelah, apa perlu aku mendetailkan apa yang kami lalui semalam?” tanya Kelana. Kalimat yang dia lontarkan sungguh sangat ambigu dan membuat orang dari WO itu saling pandang - sedikit malu.
“Tunjukkan keprofesionalan kalian dalam bekerja! jika sampai nanti istriku telat bangun, itu sudah menjadi tugas MUA yang kalian pakai untuk membuatnya tetap terlihat seperti ratu,” ujar Kelana. Sangat otoriter.
Menutup pintu kamar, Kelana masih mendapati Hana tidur dengan sangat lelap. Ia pun membuang napas kasar dan memilih masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Kelana berharap istrinya itu sudah bangun saat dia selesai.
Namun, ternyata Hana benar-benar seperti sapi. Wanita itu masih tidur pulas dan bahkan kini posisinya terlentang bak kodok kejengkang.
“Apa dia merasa berada di kamar sendiri? bisa-bisanya dia tidak gengsi, astaga lihat liurnya menetes kemana-mana.” Kelana geleng-geleng kepala. Ia berakhir duduk sambil bermain ponsel di sofa.
Kelana berharap Hana segera bangun, tapi lama-kelamaan dia merasa resah juga jika sampai acara resepsinya tertunda. Apa lagi Dinar mengiriminya pesan, menanyakan kenapa dirinya belum turun juga meski hanya untuk sekadar sarapan.
[ Hana masih tidur ]
Balas Kelana singkat, hingga Dinar tidak membalas pesan itu tapi langsung melakukan panggilan telepon.
__ADS_1
“Bangunkan dia! jika wanita itu sampai terlambat dan membuat acara berantakan, Mama akan mencarikanmu istri ke dua,” ancam Dinar dari seberang panggilan.
Kelana pun mematikan ponsel, dia tatap Hana yang masih tak bergerak. Hingga salah satu sudut bibir pria itu tertarik. Kelana mendekat dan naik ke atas ranjang. Ia berusaha membopong tubuh Hana. Mata Kelana seketika membeliak lebar, dia kaget saat tubuh Hana sudah berada di dalam pelukannya.
“Dia sangat ringan, bagaimana bisa dulu Bagas menceraikannya karena alasan gendut?” gumam Kelana. Ia bahkan menatap wajah ayu Hana yang masih terbuai dalam lelapnya alam mimpi.
“Sial! dia tertidur sampai seperti orang mati,” umpat Kelana. Ia pun membawa Hana masuk ke dalam kamar mandi.
Perlahan, Kelana menurunkan Hana di dalam bathtub. Seringai jahat terbit di bibir pria itu. Ia mengambil shower dan kemudian menekan tuasnya ke tanda berwarna biru. Dengan sekali sentak, air memancar dari lubang shower seperti air hujan. Kelana pun sengaja mengarahkannya tepat ke muka Hana, membuat wanita itu tersentak kaget dan seketika menegakkan badan.
“Kelana apa yang kamu lakukan?” teriak Hana. Ia usap bibirnya yang basah karena air sekaligus membersihkan liurnya.
“Memandikan istriku lah, apa lagi?” Jawab Kelana dengan santai, dia bahkan terus menyirami Hana bak sedang menyirami tanaman di kebun milik nenek gayung.
“Keterlaluan!”
“Kamu yang keterlaluan, bisa-bisanya tidur seperti orang mati.”
_
_
_
_
_
Like + komen
__ADS_1
Makasih Zeyeng