
Tak jauh berbeda dengan Kelana dan Hana, para staff yang lain pun merasakan keanehan dan kejanggalan di hotel itu. Dewi yang memang memiliki kepekaan terhadap mahkluk tak kasat mata, sampai duduk meringkuk di atas ranjang. Afy dan Yeni pun bingung. Bahkan satu orang teman laki-lakinya yang bernama Alden sampai dipanggil untuk membujuk Dewi yang sejak tadi meminta pergi dari sana, karena Afy dan Yeni tahu Dewi diam-diam menyukai pria itu.
“Wi, kamu kenapa?”
“Ayo pergi dari sini! kalau kalian tidak mau pergi, aku pesen go back sendiri,” ancam Dewi.
“Ada apa sih Wi?” Yeni bingung, dia sentuh lengan Dewi dan mengguncangkannya.
“Ada kunti, aku melihat mahkluk itu berbaris di koridor depan.”
“Astaga Dewi kamu kira kunti juga upacara bendera sampai berbaris?” Afy mencibir bahkan memutar bola matanya malas.
Namun, wanita itu seketika kicep saat mendengar teriakan dari arah kamar lain. Ke empat orang itu pun keluar dan melihat Bagas lari tunggang langgang. Semua orang sepertinya diganggu, mereka pun memilih keluar ke lobi dan ternyata sudah ada Kelana dan Hana di sana. Pemilik perusahaannya itu sedang menceritakan kejanggalan yang dia alami ke resepsionis dan si resepsionis hanya bisa diam, sikapnya seperti mengindikasikan hotel itu memang seram.
“Bapak juga melihat?” tanya Dewi.
__ADS_1
“Melihat apa? tak hanya melihat, aku digrepe-grepee setan,” ucap Kelana dengan nada geram.
Mereka duduk di sofa yang ada di lobi dan Hana mulai mengecek nama hotel itu via gulugulu. Ia geleng-geleng kepala karena harganya sangat murah dan bahkan tidak ada setengah dari budget penginapan yang dianggarkan. Sudah jelas bahwa Bunga memilih hotel yang termurah tanpa melihat penilaian dan ulasan dari pengunjung lain.
“Dasar wanita itu,” umpat Kelana. “Panggil semua orang berkumpul, kita pindah hotel saja.”
“Tapi Pak pasti Bunga sudah membayar lunas tiga malam untuk semua kamar,” ucap Bagas yang cemas, jika Bunga terkena masalah di saat seperti ini jelas dia pasti akan diminta wanita itu membantunya.
“Ya sudah kamu di sini saja tiga malam, aku dan staff yang mau ikut pindah, akan pindah,” jawab Kelana dengan entengnya. “Afy, carikan hotel di tengah kota saja. si Bunga itu, aku memang ingin hotel bernuansa alam, tapi bukan alam gaib juga.”
Bunga dan staff yang lain pun turun ke lobi setelah dikirimi pesan, dia heran melihat beberapa orang sudah berkumpul di sana. Wanita itu dengan santai bertanya apa yang terjadi. Dewi yang merasa lebih senior karena lebih dulu bekerja pun memarahi Bunga. Dia yakin pasti akan didukung oleh Kelana.
"Apa yang terjadi ... apa yang terjadi, kami diganggu setan tahu,” amuk Dewi.
“Mana ada? Aku biasa saja, tidak diganggu” jawab Bunga dengan entengnya.
__ADS_1
“Pintu kamar pak Kelana diketuk-ketuk, aku bahkan melihat penampakan,” kata Dewi emosi. Ia semakin berani memarahi Bunga dan melampiaskan kekesalan karena ternyata hampir semua orang mengalami hal yang sama. Bahkan Bagas mendengar tawa anak kecil tepat di telinganya.
“Astaga artinya amal ibadahmu kurang Dewi. Itu Pak Bagas paling karena sering membuang bibit-bibitnya ke toilet jadi berhalusinasi,” jawab Bunga dengan entengnya.
“Amal ibadahku yang kurang, atau karena kamu merasa tidak diganggu? Ya … kamu tidak diganggu karena setan menganggap kamu itu temannya.”
Hana dan Kelana saling pukul lengan karena ucapan Dewi, mereka geli karena ucapan staff Bagas itu sepertinya memang benar, setan hotel itu tahu Bunga temannya.
“Bunga, apa kamu merasa tidak melakukan kesalahan?” tanya Kelana dengan gaya bijaksana. “Hotel yang kamu pilih under rate, aku memang meminta hotel bernuansa alam tapi tidak alam gaib juga seperti ini, tapi karena aku tidak ingin merusak liburan kita, aku akan membahas ini nanti setelah kembali.”
_
_
_
__ADS_1
Scroll ke bawah 👇