Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 85 : Warisan


__ADS_3

Pagi itu Hana kedatangan tamu tak diundang di kantor, dia sedikit kaget tapi berusaha bersikap tenang. Tidak mungkin juga dia menunjukkan rasa bencinya ke sang ibu tiri, meski di dalam hatinya ingin sekali rasanya dia memaki.


Agar tidak menimbulkan kegaduhan atau hal yang tidak diinginkan, Hana mengajak Tantri ke kafe yang letaknya tak jauh dari kantor. Kelana yang heran pun tidak ingin bertanya apa yang mungkin akan istrinya bicarakan dengan sang mertua, Hana pasti akan bercerita sendiri padanya nanti.


Sunyi. Hana tidak mau lebih dulu bertanya maksud kedatangan Tantri, hingga pelayan meletakkan dua cangkir latte panas di meja, baru lah Hana buka mulut, itu pun hanya untuk mempersilahkan ibu tirinya minum.


“Sepertinya sejak menikah kamu melupakan papamu sendiri,” sindir Tantri, dia menyesap kopinya sambil melirik untuk melihat ekspresi muka Hana.


“Mana mungkin aku melupakan orangtua yang sudah membesarkanku, aku hanya sedang banyak urusan,” jawab Hana lugas. “Langsung saja, apa tujuanmu datang menemuiku, jangan bilang kamu merindukan dan ingin tahu keadaanku, jelas itu tidak mungkin kamu lakukan,” balas Hana, sindirannya tak kalah tajam dari sindiran Tantri tadi.


“Ck … kamu memang pintar,” puji Tantri tapi tetap saja dengan nada sindiran. “Apa kamu tahu kalau papamu sekarang sedang kesusahan finansial, Ha? masa kamu anaknya yang menikah dengan pria kaya raya, juga sudah mendapatkan warisannya menutup mata?”


“Hah … apa? warisan?” Hana agak gerah saat Tantri membahas soal yang satu itu.


“Iya, warisan. Bukankah setelah kamu diceraikan oleh Bagas papamu memberi warisan, kalau tidak diberi warisan papamu, kamu juga pasti sudah jadi gelandangan Hana, jadi gembel. Mana bisa kamu balik-balik seksi dengan dada dan bumper aduhai,” kata Tantri. Mulutnya kebablasan sampai Hana merasa sangat kesal. Istri Kelana itu sudah mengepalkan tangan di atas paha.


“Asal kamu tahu, itu bukan harta papaku tapi mamaku, jadi wajar jika diberikan ke aku. Aku anak kandungnya, jika tidak diberikan ke aku apa harus diberikan ke anakmu yang notabene pelakor itu?” Hana menaikkan nada suara, tak peduli toh masih pagi dan kafe itu masih sepi pengunjung.

__ADS_1


“I-itu … “


“Kenapa? bukankah kamu sudah hidup enak selama ini?” potong Hana cepat bahkan sebelum Tantri menyelesaikan ucapan.


“Ibarat kata kamu dan anakmu si Rafflesia Arnoldii itu dipungut papa dari sampah, kurang bersyukur sekali kalian kalau masih membahas warisan yang jelas-jelas harta mamaku.”


Tantri melotot, dia jelas tahu bahwa Hana memanggil putrinya dengan sebutan bunga bangkai, hanya saja menggunakan nama latin tanaman itu.


“Lalu apa tujuanmu menemuiku seperti ini? ingin mengolok-ngolokku soal warisan? Ha? maaf! kamu tidak akan pernah menang dariku untuk yang satu itu, karena itu jelas harta mamaku dan kamu juga putri benalumu yang pelakor itu tidak berhak sedikitpun,” lanjut Hana. Lega sekali dia bisa mengeluarkan seluruh unek-unek yang ada di dada.


“Papamu itu sakit Hana, dia mengidap tumor di prostatnya, dia bahkan sudah tidak bisa melakukan tugasnya sebagai laki-laki, bersyukurlah kamu aku masih mau.”


“Kamu tahu tidak? supplier bahan baku tidak ada lagi yang mau masok barang ke papamu karena dia nunggak banyak, kalau kamu tidak mau membantu papamu dia pasti akan menjual rumah dan menjadi gelandangan,” ucap Tantri.


“Bukankah kalau papa jadi gelandangan kamu juga akan jadi gelandangan?"


Bahu Tantri mengedik, dia membuang muka untuk memikirkan jawaban apa yang bisa dia pakai untuk membungkam Hana.

__ADS_1


“Aku tidak mungkin menjadi gelandangan karena aku bisa tinggal bersama Bunga, aku punya putri yang bertanggungjawab,” ucap Tantri jemawa.


“Kalau begitu papa juga bisa tinggal denganku karena aku juga putri yang bertanggungjawab, tapi jelas aku tidak akan pernah mau menampungmu, karena apa? karena kamu sudah bilang punya putri yang bertanggung jawab,” jawab Hana lalu tersenyum dengan sudut bibir, dia jelas menghina Tantri.


“Ka-ka-kamu?”


Hana bangkit dari kursinya, dia menatap tajam Tantri yang tiba-tiba kepanasan hingga terus mengibaskan tangan di depan muka.


“Terima kasih sudah memberitahuku soal kondisi papa, aku jelas akan membantu tapi akan aku lakukan dengan tanganku sendiri, kalau lewat dirimu sudah sangat jelas ujungnya, kamu tipe orang yang suka memanfaatkan apa yang sebenarnya bukan hakmu.”


“A-a-apa?” Tantri semakin megap-megap, terlebih Hana meninggalkannya begitu saja tanpa permisi. Anak tirinya itu menuju kasir dan membayar minuman mereka, sebelum pergi Hana bahkan berbalik dan berkata padanya.


“Nikmati kopimu, aku sudah membayarnya.”


_


_

__ADS_1


_


Scroll ke bawah 👇


__ADS_2