
“Ah … ya … ya .. ya, kamu pak RT, makanya si Tata sering menginap di rumah Rafli, apa kalian berniat CLBK?” sindir Dinar ke Tata.
Meski tidak diberitahu sepertinya Hana mengerti bahwa pria yang mengaku pak RT itu adalah mantan suami Tata – si terong belanda.
Melihat beberapa tetangga datang bersama pak RT yang tak lain adalah ayah kandungnya, Rafli pun bangkit. Ia menunduk melihat badannya yang basah dan kotor, sebenarnya Kelana juga basah tapi tak separah dia yang baru saja terjengkang.
“Haduh … ada apa ini? mengganggu ketertiban saja,” oceh Tono - pria yang tidak ada wajah bule-bulenya tapi Ayu dan Dinar memanggilnya terong belanda.
Hal ini bukan tanpa alasan, bermula saat Tata dan Tono menjalani proses perceraian, Tata beralasan sudah tidak ada kecocokan, padahal yang terjadi sebenarnya adalah karena Tono ingin poligami menikahi Dinar. Dicecar alasan yang tidak ingin dia ungkapkan, Tata akhirnya beralasan karena milik Tono kurang panjang. Dan Ayu pun spontan menjuluki mantan menantunya itu terong belanda. Dinar sendiri tidak ingin membahas perihal lamaran Tono padanya, bagi wanita itu Tono benar-benar hidung belang. Ia ikut-ikutan memanggil mantan iparnya terong belanda karena Tata juga tak keberatan. Padahal dia juga tidak pernah melihat langsung, bisa sawan.
“Halah … ketertiban apa? orang sirinenya saja tidak dibunyikan, kamu lebay,” ucap Dinar menyepelekan. Hana menyenggol lengan sang mertua, jangan sampai terjadi keributan lagi di sana. Dia sebenarnya cukup lelah. Hari ini mungkin hari terindah juga terberat bagi Hana.
“Kalau ada masalah itu dibicarakan dengan baik-baik, jangan main air sendiri,” ujar Tono. “Ah … maksud saya main hakim sendiri.” Pria itu membetulkan ucapannya.
__ADS_1
Tono geleng-geleng kepala, dia perintahkan petugas damkar untuk meninggalkan rumah Rafli. Dinar yang merasa cukup memberi pelajaran adiknya pun memilih diam. Ia memutar bola matanya malas sebelum tiba-tiba saja Tata menyerang.
Hana bahkan sampai terhuyung ke belakang karena Tata memerjang bak harimau yang menerkam mangsa. Ibunda Rafli itu menjambak rambut Dinar dan membuat semua orang kalang kabut, Tono pun maju bak pahlawan kesiangan untuk melerai, tapi tak dia sangka malah terkena gamparan tepat mengenai pipinya dari Tata dan Dinar secara bergantian.
“Siapa pun panggil polisi ke sini!” teriak Tono dengan kencang, dia merasa tidak bisa menghadapi dua wanita pembuat onar itu.
***
“Hunny … bangun!” pinta Kelana, setelah itu membentak perawat yang sejak tadi dia pikir tidak melakukan apa-apa. “Kenapa dia tidak bangun juga?”
“Sabar Pak! sebentar lagi kita sampai rumah sakit.” Jawab perawat berjenis kelamin laki-laki yang baru saja kena sembur.
Hana ingin sekali mengakhiri sandiwaranya, tapi mau bagaimana lagi. Ini satu-satunya cara paling ampun untuk mengakhiri keributan tadi. Karena dia pingsan, Dinar dan Tata ikut panik dan menghentikan perkelahian mereka. Tono yang kena gampar pun seketika melupakan niatannya memanggil polisi dan memilih memanggil ambulan.
__ADS_1
“Istriku sedang hamil Ners, jika sampai terjadi sesuatu pada calon anak kami, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri. Aku akan meminta pertanggungjawaban!”
“Lha kok! Saya ‘kan tidak menghamili istri Bapak.”
_
_
_
Besok Na umumkan pemenang GA Cekoutin belanjaan sopi, pantengin IG Na ya
next Bab coming soon
__ADS_1