
Mood Bagas berantakan, dia uring-uringan sejak siang sampai malam. Ia bahkan tidak mau berbicara pada Bunga dan menunjukkan wajah masam. Istrinya itu jelas sudah bisa menduga apa yang mugkin saja terjadi, Bagas memang begitu. Membawa-bawa masalah pekerjaan sampai ke rumah.
Namun, Bunga tak tahu saja bahwa kekesalannya suaminya itu karena mendengarkan live streaming adegan perkembangbiakan siang tadi yang dilakukan antara mantan istri yang masih dia harapkan, dan atasan yang tidak akan pernah bisa dia tandingi.
“Mas Bagas tidak mau makan malam?” tanya Bunga setengah hati, dia tahu bahwa Bagas juga paling menolaknya.
“Tidak.”
“Ya sudah,” jawab Bunga cepat. Terang saja Bagas menatapnya dengan sorot mata tajam.
“Kenapa Mas? Apa aku ada salah? kalau mas Bagas tidak mau makan lalu aku harus apa? masa aku memaksa mas Bagas supaya makan dan menyuapi mas seperti anak kecil,” cerocos Bunga.
Ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat saat Bagas masih menatapnya dengan sorot mata sama. Hingga dia memilih melunak. Bunga dekati Bagas yang sedang memakai bajunya setelah mandi.
“Besok bukankah rapat untuk membahas pemilihan sekretaris Pak Kelana? Kamu akan mengusahakan aku terpilih ‘kan?” tanya Bunga.
Semakin gerah hati Bagas, istrinya itu kini menunjukkan ketertarikan yang begitu besar untuk menggantikan Hana. Awalnya Bagas memang sengaja ingin membuat Bunga mendekati Kelana agar memantik kesalahpahaman dan membuat Hana dan Kelana tak harmonis. Namun, menyadari sikap Bunga yang antusias, Bagas paham bahwa istrinya itu memiliki maksud sendiri.
__ADS_1
“Kenapa? apa kamu akhirnya tertarik?” tanya Bagas dengan nada suara sedikit mencibir.
“Bukankah itu yang Mas inginkan? Aku bekerja? Aku hanya mengikuti keinginan mas Bagas sebagai istri yang berbakti kepada suami.”
Jawaban Bunga cukup membuat Bagas terkekeh ironi. Ya, dia memang yang memaksa Bunga pada awalnya, tapi mendengar ******* samar di ruang kerja Kelana membuat hatinya cukup tak terima juga jika Bunga bekerja menjadi sekretaris atasannya dan bahkan menggoda.
“Bunga, jika kamu menjadi sekretaris Pak Kelana. Apa kamu akan keganjenan dan berusaha merayunya?”
“Apa?”
Bunga cukup kaget mendapati pertanyaan seperti itu. Ia bingung harus menjawab apa. Di satu sisi dia belum kepikiran sampai ke sana, tapi di sisi lain dia ingin melakukannya agar membuat Hana kelabakan dan marah-marah. Bunga sangat benci ke Hana, entah apa alasannya. Mungkin memang bibit kebencian suag tertanam di dalam benak wanita itu sejak dulu kala.
_
_
Sementara itu, Kelana dan Hana kembali bermesraan seperti biasa. Mereka berpelukan di atas kasur dan kali ini tidak berencana untuk melakukan perang lagi. Cukup untuk hari ini, Hana sudah mewanti-wanti dengan beberapa saran yang dokter kandungan sampaikan kepadanya dan Dinar tempo hari.
__ADS_1
“Kenapa sih Mamamu itu selalu iri dengan adiknya? Mereka saudara kandung ‘kan bukan saudara tiri seperti aku dan Bunga?” tanya Hana. Ia penasaran dan selalu ingin menanyakan hal ini ke Kelana tapi terkadang lupa.
“Saudara kandung lah, mereka anak-anak nenek gayung dari suami keduanya, ya kakekku itu. Dulu nenek gayung sudah pernah menikah, tapi tidak memiliki anak,” terang Kelana.
“Ah … apa sepertiku? Apa pernikahan nenek Ayu yang pertama juga dihancurkan oleh pelakor?” Hana penasaran.
“Sepertinya iya.”
“Wah … pantas dia menyukaiku, ternyata kami memiliki sejarah hidup yang sama.” Hana mengeratkan pelukan, dia senang sekali mencium aroma tubuh suaminya. “Besok, jangan lupa ada rapat yang membahas soal sekretaris barumu”
“Hem … aku tidak akan lupa, kamu juga harus ikut,” jawab Kelana. Ia hampir memeluk tubuh Hana, tapi seketika urung saat wanita itu berkata-
“Aku ingin Bunga yang menjadi sekretarismu.”
_
_
__ADS_1
Scroll ke bawah👇