
Mau tak mau Hana pun menurut saja pada Kelana, dia mengemasi beberapa barangnya untuk dibawa pindah ke apartemen pria itu. Ekspresi wajah Hana tidak bisa dikondisikan saat melihat betapa besarnya apartemen milik sang suami sekaligus atasannya itu. Hana bahkan terpesona dengan mini bar yang ada di dalamnya.
“Wah … seharusnya aku minta apartemen seperti ini saja sebagai bayaran kesepakatan kita,” ucap Hana. Ia terpukau dengan banyaknya peralatan masak di sana, yang dia yakini pasti tidak pernah Kelana gunakan.
“Apa aku boleh menggunakannya untuk memasak?” tanya Hana penuh harap, dan sebuah kata ‘iya’ dari Kelana membuatnya sampai melompat kegirangan.
“Bagus lah kalau dia mau memasak setiap pagi, masakannya juga enak.”
Kelana menggaruk tengkuk, dia heran dengan perasaan aneh yang bersemayam di dadanya setiap kali melihat wajah dan tingkah Hana. Kelana tahu banyak wanita yang mungkin jauh lebih cantik dan menarik dari pada Hana, tapi entah kenapa hatinya berkata cukup wanita itu, tidak perlu mencari yang lainnya.
“Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?”
Kelana mengerjab kaget, Hana sudah berdiri tepat di depannya dengan melipat kedua lengan di depan dada, matanya menyipit seolah tengah curiga.
“Apa yang kamu rencanakan? Jangan coba macam-macam denganku!” ancam Hana sebelum beranjak pergi masuk ke dalam kamar Kelana yang serba berwarna abu-abu.
“Mama ingin kita datang,” ujar Kelana. Ia bersandar pada kusen pintu sambil melihat Hana yang memojokkan kopernya yang bahkan belum dibongkar isinya.
“Ya sudah kita datang,” sahut Hana tanpa menoleh ke sang suami.
“Kenapa kamu tidak membongkar kopermu dan malah meletakkannya di situ? Masih ada ruang kosong di lemari.”
“Supaya kalau mau minggat tidak perlu repot packing lagi,” jawab Hana. Ia membuat Kelana menegakkan badan karena kaget bercampur tidak suka dengan ucapannya barusan. “Kenapa? apa aku salah?”
Hana menolehkan pandangan dan bertanya, Kelana tak bisa berkata-kata. Kelana berpikir menunjukkan perasaannya ke wanita itu sekarang hanya akan membuat Hana besar kepala.
***
__ADS_1
“Be-be-berhenti?” tanya Hana bingung saat Dinar baru saja bersabda.
“Iya, mana mungkin istri seorang Kelana Pramudya masih bekerja sebagai sekretaris? Kamu punya banyak pekerjaan lain, bersosialisasi dengan istri-istri pengusaha, melakukan kegiatan sosial, juga mengikuti kelas kepribadian yang sudah aku bayar mahal,” ucap Dinar penuh ketegasan.
“Ta-ta-tapi … “ Hana menoleh Kelana.
Namun, suaminya itu hanya menatap ke arah cangkir di atas meja tanpa sedikit pun tergerak untuk menyelamatkannya dari aturan Dinar yang menyebalkan.
“Mama tidak ingin ada penolakan, dan Mama yakin Kelana tidak akan menolak keinginan Mama, iya kan?”
Kelana menoleh sang ibunda, dia menatap wanita yang melahirkannya itu sejenak sebelum menatap Hana yang sorot matanya mengiba.
“Ya, Hana lebih baik berhenti bekerja, dia harus memikirkan hal yang lebih penting, melahirkan bayi-bayi untuk menyambung garis keturunan Pramudya.”
“Apa?” Hana cengo, rasanya ingin dia pukul wajah Kelana yang malah menatapnya dengan senyuman manis dan bahkan dibumbui kerlingan mata.
Sepanjang perjalanan kembali dari bertemu Dinar, Hana terus saja mengomel. Ia bahkan dengan berani memukul lengan sang atasan karena terlalu geram.
“Bagaimana bisa? itu tidak ada di kontrak, sekarang pikirkan! kalau aku berhenti bekerja artinya satu tahun aku kehilangan gaji dan hanya menerima gaji dari pekerjaan menjadi istri palsumu. Ini jelas merugikanku Kelana, aku akan menuntutmu, kamu banyak melakukan pelanggaran perjanjian padahal belum juga seminggu kita menikah.” Hana murka, dia memalingkan muka ke luar jendela karena ocehannya tidak didengarkan oleh sang atasan.
“Yang pasti, aku tidak ingin sampai balas dendamku ke Bagas dan Bunga gagal, tidak akan aku biarkan. Mereka sudah melenyapkan nyawa calon bayiku,” imbuh Hana.
Kelana menoleh sekilas. Ia berpikir bagaimana caranya melenyapkan niatan balas dendam itu dari pikiran Hana. Haruskah dia berkata ‘Hana aku mencintaimu, mari hidup bahagia bersama’
“Huek … “ Kelana tiba-tiba mengeluarkan suara seperti orang mual menanggapi pikirannya dan semakin membuat Hana kesal.
“Apa kamu sedang meremehkan misi balas dendamku?” amuk Hana yang semakin terbakar hatinya.
__ADS_1
“Tidak, aku benar-benar merasa sedikit mual,” jawab Kelana. Ia membuang muka ke arah jendela dan membiarkan saja Hana yang bersikap ketus padanya.
**
Malam harinya, Hana menekuk wajah. Ia sengaja menunjukkan raut muka kesal dan tak bersemangat saat dia dan Kelana harus menghadiri pesta yang diadakan oleh Rafli- putra Tata.
Penampilan Hana begitu anggun dengan gaun tanpa lengan dengan belahan se lutut. Begitu juga dengan Kelana yang memilih mengenakan kemeja tanpa jas. Mereka datang ke sebuah club malam yang sudah disewa oleh Rafli malam itu.
“Kenapa mukamu seperti ini? bukankah kamu suka clubbing?” tanya Kelana tanpa menoleh Hana, dia tenggak minuman dari gelas di tangannya dan sesekali membalas senyuman teman-temannya yang juga teman Rafli.
“Aku tidak akan tersenyum sampai kamu bilang tidak akan menuruti ucapan Bu Dinar, aku tidak mau berhenti menjadi sekretarismu.” Hana menoleh dan matanya bertatapan dengan manik hitam Kelana. Untuk sesaat perasaan aneh muncul kembali di hati Hana, jika saja bukan berpura-pura, tentu dia akan menjadi wanita yang paling bahagia di dunia.
“Jangan berpikir aku bersikeras karena suka dekat denganmu! aku hanya tidak ingin kehilangan gaji,” imbuh Hana masih dengan kesewotan yang jelas di wajah.
“Kalau begitu aku akan tetap memberikan gajimu, meski kamu sudah berhenti menjadi sekretarisku,” jawab Kelana tanpa sedikit pun keraguan.
“Kenapa kamu melakukan ini? apa kamu ingin membuatku gila dengan rutinitas yang disebutkan Mamamu?” Hana membuang muka, dia berdiri dan langsung meninggalkan Kelana dari meja mereka.
_
_
_
_
mau crazy up kalau like Dan komennya banyak 😜
__ADS_1