Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 43 : Dua Enam


__ADS_3

Kelana membunyikan klakson lagi dan kali ini Hana mau tidak mau berjalan ke arahnya meninggalkan Bagas. Karena takut, Bagas pun memilih kabur ke arah mobilnya terparkir, dari pada harus menghadapi Kelana yang nampak memiliki tanduk di kepala.


“Ada apa Pak? apa ada masalah?” tanya Hana, tak menyangka bahwa sang atasan sampai berputar arah dan kembali.


“Apa mungkin dia menyukaiku?” gumam Hana dalam hati. Wanita itu tanpa sadar tersenyum dan membuat Kelana geram.


“Cepat masuk!”


“Lha Pak! saya ‘kan mau pulang,” ucap Hana. Kebiasaannya membangkang terkadang meresahkan.


“Kamu pikir aku kembali karena cemburu melihatmu bersama Bagas? Jangan konyol, aku jelas tidak akan sudi melakukan tindakan segila itu hanya untuk wanita sepertimu.”


Ucapan Kelana cukup menyakiti perasaan Hana. Ia seketika cemberut, cepat-cepat Hana tepis keGR-an yang baru saja menyergap di hati. Matanya menatap Kelana tajam, meski ada sedikit rasa kecewa, dia harus tetap menjaga kewarasan, Hana memberi batasan, dia hanya seorang sekretaris dan calon istri abal-abal.


“Lalu untuk apa Anda menekan klakson begitu kencang? Anda bisa memanggil saya, toh saya juga tidak budek Pak.” Hana membuang muka, kesal juga dia dengan tingkah Kelana yang seenak jidatnya.


“Nenek gayung ingin bertemu dengan kita, aku juga tidak sudi kembali jika ini bukan urusan yang penting,” ucap Kelana. “Cepat masuk! kalau aku kehilangan kesempatan emas kamu juga yang akan rugi, karena aku akan memotong nominal uang di perjanjian kita.”


“Dasar pelit!” gerutu Hana. Meski begitu dia tetap masuk ke mobil. “Memang apa yang akan Anda dapat dari nenek Ayu?”


“Pasti sesuatu yang besar, feelingku bagus untuk yang satu ini."


***


“A-a-apa? benarkah itu?”


Bunga menggeleng tak percaya saat Tantri baru saja memberitahu kalau Arman selama ini berbohong.


“Dia memberikan warisan ke Hana.” Tantri mengipasi muka, dia gerah jika membicarakan soal warisan yang didapat oleh anak tirinya. “Ternyata ibu Hana itu kaya raya, bahkan usaha Arman sekarang itu juga masih bau-bau peninggalan ibu Hana.”

__ADS_1


“Bagaimana bisa Mama tidak tahu tentang hal itu?”


Bunga menyalahkan, pasangan anak dan ibu yang mata duitan itu akan selalu kompak jika membicarakan perihal harta. Hingga tiba-tiba Tantri menekuk bibir dan memasang wajah memelas. Ia menggeser duduk agar semakin dekat dengan Bunga.


“Bisakah kamu meminjami Mama uang? Mama butuh.”


Bunga sudah menduga, kedatangan Tantri pasti tidak hanya ingin sekadar menemuinya, pasti ada udang di balik bakwan. Namun, tak seperti sebelum-sebelumnya kali ini Bunga menggeleng menolak permintaan sang ibunda.


“Kenapa? bukankah semua ATM dan kartu kredit Bagas kamu yang pegang? Mama janji akan mengembalikannya satu minggu lagi," rayu Tantri.


“Satu minggu lagi? kalau satu minggu lagi, kenapa harus repot-repot meminjam uang? Tunda saja kebutuhan Mama satu minggu lagi.” Bunga menepis tangan Tantri yang menggenggam tangannya, dia menggeleng menegaskan bahwa tidak bisa membantu.


“Ckk … tumben kamu pelit,” sindir Tantri. Wanita itu nampak memutar bola mata malas, dia tidak tahu lagi harus meminta tolong ke siapa. Ia punya hutang ke seorang temannya, Tantri membeli sebuah cincin berlian secara kredit dan kini kebingungan untuk membayar cicilan.


Saat keduanya masih duduk dan saling diam, sebuah mobil terdengar masuk ke halaman. Bunga pun berdiri, dia girang dan bersiap menyambut suami tercintanya.


“Nah … kebetulan dia pulang, aku akan meminjam darinya saja,” ujar Tantri. Ia pun menyesap tah yang disuguhkan putrinya sebelum berakting layaknya mertua yang perhatian.


Bagas bisa mencium gelagat mencurigakan dari sang mertua. Setiap kali datang Tantri biasanya meminta ke Bunga untuk dibelikan sesuatu, dan pada akhirnya Bunga pasti akan merengek padanya.


“Kalau Mama datang untuk minta dibelikan sesuatu, maaf! aku tidak punya dana berlebih untuk terus memuaskan nafsu belanja Mama,” ucap Bagas tegas. Ia bahkan langsung meninggalkan ruang tamu seolah malas terlalu lama berbincang dengan Tantri.


“Suamimu kenapa sih? tidak biasanya dia seperti itu ke Mama,” gerutu Tantri. Ia menoleh Bunga yang hanya diam memandangi punggung Bagas menjauh.


“Ah … apa jangan-jangan ada hubungannya dengan Hana?” Tanya Tantri yang malah menyulut api cemburu di dada Bunga.


***


Sementara itu, Hana yang diajak Kelana menemui Ayu merasa canggung. Meski sudah beberapa kali bertemu, tapi tetap saja bagi Hana wanita tua itu sangat mengerikan. Jika Kelana saja takut, lantas bagaimana dengannya yang hanya orang asing?

__ADS_1


“Nenek sudah mendapatkan tanggal yang bagus untuk pernikahan kalian, Nenek menemui ahli weton dan dia bilang tanggal dua puluh enam sebagai tanggal yang baik.”


Hana tersenyum dan mengangguk, dia melirik Kelana yang datar-datar saja mendengar perkataan Ayu.


“Dua enam? Sial, apa nenek gayung ini ingin mengulur waktu untuk memberikan pabrik gula itu padaku?” gumam Kelana dalam hati.


Namun, dugaan Kelana salah. Ia menoleh Hana yang ternyata berani bertanya ke sang nenek soal ucapannya barusan.


“Aku pikir semua tanggal baik Nek, kenapa harus sampai seperti itu,” ucap Hana.


“Bagus, undur saja pernikahan ini terus dan terus, aku pun tidak ingin menjadi istri pria ini dalam waktu dekat.” Sama halnya dengan Kelana, Hana pun berpikir pernikahannya dan Kelana akan mundur.


“Aku akan mengikuti apa pun keinginan Nenek.”


Kelana akhirnya buka suara. Bukan tanpa tujuan dia berkata seperti itu, otak liciknya berkata harus menurut pada Ayu agar semuanya lancar.


“Jika harus menunggu sampai bulan depan, aku dan Hana tidak masalah,” imbuhnya.


Namun, tak disangka oleh Kelana. Ayu menggeleng dan tersenyum, “Siapa yang bilang bulan depan? Maksud Nenek tanggal dua enam bulan ini, lima hari lagi.”


“Serius Nek?” Hana melongo, rasanya sebuah batu besar menimpa kepalanya.


_


_


_


_

__ADS_1


Siapin baju kondangan 🤣


aku makasih banget kalau kleyan mau Vote Dan bagi Poin 🥰


__ADS_2