
“Kenapa kamu sepertinya bahagia?” tanya Kelana, dia heran Hana sejak selesai rapat tadi istrinya itu tersenyum sendiri.
Siang harinya, Kelana mengajak Hana makan di sebuah restoran mewah. Sebagai seorang pria yang sangat mencintai pasangannya. Ia ingin memanjakan Hana, bahkan diam-diam Kelana sudah menyiapkan sesuatu yang spesial untuk istrinya itu.
Hana meletakkan alat makan di tangan. Ia menyanggah pipi memandangi sang suami yang masih fokus dengan makan siang di piringnya. Hana bahkan dengan penuh perhatian mengusap sudut bibir Kelana yang belepotan.
“Kenapa kamu menitipkan pertanyaan seperti itu ke Bagas? Apa tujuanmu? Jangan-jangan kamu berniat bermain serong di belakangku,” goda Hana. Ia jelas tahu apa yang ada dipikiran sang suami, hanya saja ingin mendengar sendiri dari mulut sang pujuaan hati tentang maksudnya.
“Apa aku kurang menghangatkan ranjang dan memuaskan rudalmu, Pak Kelana?” imbuh Hana dengan nada sensual.
Kelana hanya tertawa, dia bahkan menggelengkan kepala karena ucapan istrinya yang terdengar sangat nakal. Ia benar-benar sangat menyukai Hana, wanita itu membuat hatinya selalu gembira. Entah kemana perginya Kelana yang dingin dan mudah marah itu. Hana bagaikan elemen penyeimbang, wanita itu banyak menasehatinya tentang beberapa hal yang mendasar, salah satu yang Kelana ingat dan tanamkan adalah menghormati orangtua, terutama Dinar dan Ayu.
“Kenapa hanya tertawa? Apa kurangnya aku? bilang saja! aku bahkan sudah belajar banyak gaya bercinta dari buku yang diberikan mamamu. Apa kamu ingin mempraktikannya malam ini,” goda Hana lagi.
“Apa nama gayanya?” tanya Kelana, dia geli dan memilih untuk meletakkan sendok garpu di tangan lalu menenggak air di dalam gelas.
__ADS_1
“Mess soybean cake.”
“Apa itu?” Kelana mengernyit heran.
“Tempe penyet.”
“Hah … “ Kelana tak bisa menahan geli yang menyergap tiba-tiba. Ia terbahak bahkan sampai memukuli pahanya. “Astaga Hunny aku tidak bisa membayangkan bagaimana bentuknya.”
“Tidak perlu dibayangkan, kita peragakan langsung saja,” jawab Hana.” Tapi kamu harus memberiku jawaban, kenapa kamu menitipkan pertanyaan seperti itu ke Bagas.”
“Karena jika saudara tirimu itu lolos, dia harus menjawab pertanyaan itu di depanmu. Bukankah itu akan menjadi hiburan tersendiri bagimu?”
_
_
__ADS_1
Malam harinya, Bagas yang melihat Bunga sibuk bermain ponsel, memberikan beberapa lembar kertas yang dia letakkan di paha sang istri. Bunga yang tak paham pun bertanya lembaran apa itu, dia sempat kaget tapi beruntung bukan surat cerai yang diberikan Bagas kepadanya.
“Itu soal untuk tes tertulis besok beserta jawabannya, kamu hanya perlu menghafalkan jawaban dan salahkan saja tiga atau lima soal, aku yakin kamu akan langsung lolos tes wawancara,” jawab Bagas.
“Wah… kamu memberiku bocoran soal?” Bunga tak percaya, dia merasa bahagia karena setidaknya tidak perlu lagi susah-susah belajar, sebenarnya sejak tadi Bunga tak sekadar bermain ponsel, dia sedang berusaha menjawab beberapa soal dari sebuah layanan tes online.
“Ada satu hal lagi dan itu perlu kamu pikirkan jawabannya, Pak Kelana menitipkan satu soal untuk tes wawancara, aku sendiri bingung bagaimana harus menjawabnya,” kata Bagas.
Bunga pun sedikit gentar, pertanyaan macam apa yang sampai membuat sang suami bingung untuk menjawabnya.
“Memang apa pertanyaan itu?” tanya Bunga.
“Apa yang akan kamu lakukan sebagai sekretaris jika tahu bahwa Pak Kelana berselingkuh bahkan memintamu membookingkan hotel.”
_
__ADS_1
_
bersambung🥰