Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 179 : Rudi Bingung


__ADS_3

Rudi Tabuti berdiri dari kursi. Ia syok bahkan tak percaya dengan transkrip yang dia baca. Ia bergegas memanggil staffnya yang masih lembur di sana, memberi perintah cepat agar menghubungi Safira dan menanyakan di mana staff freelance itu menyimpan recorder, agar dia bisa memastikan sendiri apa yang dia dengar.


“Apa ada masalah Pak?” tanya staff Rudi yang kebetulan laki-laki.


Memutari meja kerjanya, Rudi meminta staffnya itu duduk di sofa dan menyalakan recorder itu. Ia meminta rekaman suara itu dipercepat.


“Habis Pak,” ujar si staff lantas melihat ke layar kecil recorder di tangannya. “Oh… tapi masih ada satu file lagi,” ucapnya kemudian.  


“Cepat kamu pencet itu aku mau dengar!” titah Rudi.


Si staff pun mengangguk, awalnya tidak ada suara, tapi lama kelamaan terdengar bunyi seperti sprei yang tergesek badan. Rudi menalan ludah, dia benar-benar takut mendengar kelanjutannya tapi penasaran juga. Pria itu semakin curiga, tak ada suara lain, selain decapan dan ….


“Wah …. Apa itu pak?” Si staff melempar recorder itu ke arah Rudi saking kagetnya.


Beruntung, Rudi sigap menangkap. Namun, kini dia bingung karena bunyi-bunyi yang keluar dari perekam suara itu semakin menggila, tak hanya erangan tapi juga ******* erotis. “Bagaimana mematikan benda ini?"


Rudi kebingungan, dan begitulah akibat menjadi atasan yang taunya terima bersih tanpa mau belajar hal baru, mematikan recorder saja dia tidak bisa. Akhirnya dia melempar benda itu kembali ke staffnya dan dengan gerakan cepat si staff mematikan paksa recorder itu.


“Apa itu tadi Pak Rudi?”


“Entah, menurutmu itu suara laki dan laki, atau laki dan perempuan?” tanya Rudi.


“Waduh … Pak, saya harus dengerin lagi donk, tadi tidak fokus saking kagetnya.”

__ADS_1


“Halah ... halah, sudah … sudah tidak perlu, aku yakin itu suara laki-laki. Karena itu pasti sambungan dari file sebelumnya.” Lagi-lagi Rudi Tabuti menebak sendiri. Pria itu menyandarkan punggung dengan kasar lalu meraup mukanya.


“Kalau Dinar sampai tahu, pasti dia akan sangat terpukul,” gumamnya yang seketika mengingat wajah sang bestie.


“Tapi aku harus memberitahunya, jangan! tidak! jangan sekarang! Nanti dia syok malam-malam malah akan merepotkan,” kata Rudi.


_


_


“Em … tidak!” Hana yang duduk di pangkuan Kelana mendorong dada suaminya itu menjauh.


Bukannya turun ke bawah untuk makan setelah mandi, Kelana malah mengangkat tubuh Hana dan mendudukkan wanita itu ke pahanya yang hanya berbalut handuk.


Kelana memicingkan mata, dia curiga dengan sikap Hana yang dirasanya sedikit berbeda. Biasanya Hana sudah langsung mengerti dan membalasnya dengan sentuhan tak kalah nakal, tapi kali ini istrinya itu menolak dan bahkan mendorong tubuhnya. Hana turun dari ranjang, dia sebenarnya takut jika ternyata dia benar hamil dan Kelana malah menggempurnya habis-habisan.


“Em … sayang, untuk malam ini saja, bisakah kita tidak usah berperang dulu? Aku … aku sedikit lelah, aduh! Punggungku sakit,” ucap Hana sambil terus mengaduh. Ia berakting seolah sangat kesakitan agar Kelana tidak marah dan tersinggung atas penolakannya.


Dan berhasil. Kelana hanya tertawa, dia menerima baju ganti yang Hana sodorkan lalu bergegas memakainya. Lirikan tajam pria itu berikan sambil merapikan rambut di depan kaca.


“Hunny, kamu tahu ‘kan? menolakku sama saja hanya menggeser waktu. Jadi jangan salahkan aku kalau nanti kamu kerepotan sendiri meladeni.”


Hana mendelik, diancam dengan sesuatu berbau dua satu membuat bagian bawah tubuhnya merespon. Ia menggeliat, dengan sekuat hati menahan agar tidak jatuh ke dalam kubangan peperangan malam itu, setidaknya sampai dia melakukan uji kehamilan.

__ADS_1


***


“Astaga Mama!”


Teriakan Bunga sukses menyakiti gendang telinga Tantri. Wanita itu menoleh dan memarahi putrinya. Tantri memindai penampilan sang anak dari atas sampai bawah lalu geleng-geleng kepala.


“Kamu itu kerja apa sih Bung, jam segini baru pulang. Suamimu saja sudah pulang dari tadi.” Tantri mencibir, seolah menjadi bos besar di sana padahal dia hanya menumpang.


“Mama yang ngapain? Kenapa berantakan seperti ini?” Bunga memunguti satu persatu bantal sofa yang Tantri jatuhkan. Ia membuang napas kasar dari mulut lalu menengok ke lantai dua. “Mas Bagas pasti kesal melihat tingkah Mama.”


“Iya kali, tadi Mama minta dia ambilin minum tapi cuek.”


“Mama!” bentak Bunga lagi. Ia menyugar rambutnya kasar sebelum berkacak pinggang. “Kalau Mama seperti ini terus, bisa-bisa tak hanya Mama yang akan jadi janda, tapi aku juga. Karena Mas Bagas pasti akan menceraikan aku karena tingkah Mama!”


_


_


_


 


Scroll ke bawah 👇

__ADS_1


__ADS_2