
"Hunny, boleh minta ya!"
"Hentikan!"
Dengan tangan kanan Hana memukul punggung tangan Kelana, sedangkan tangan satunya melindungi jatah sang putra.
"Aku sudah lama tidak mencicipinya, apa kamu tidak kasihan? aku ingin, beri aku sedikit saja!" pinta Kelana dengan air muka memelas. Ia bahkan menelan ludahnya karena tergiur dengan asupan gizi Gala - putranya dan Hana.
"Aku akan memberikanmu nanti kalau sudah selesai dengan Gala." Hana menyingkir, dia takut Kelana menyergap dan langsung nyosor seperti soang.
"Astaga Hana! beri aku!" teriak Kelana.
Hana yang sudah kabur keluar dari kamar akhirnya bernapas lega. Kenapa juga dia tadi lupa mengikat rambutnya sebelum membuatkan bubur untuk sang putra. Meski ada pembantu, tapi Hana lebih memilih untuk menyiapkan makanan Gala sendiri. Ia ingin selalu memastikan bahwa putra pertamanya dan Kelana itu mendapat Gizi yang baik.
Gala sudah berumur tujuh bulan sekarang, sudah pintar mengoceh bahkan bisa bermain cilukba. Kelana yang kesal karena tidak boleh mencicipi bubur putranya memilih mengejar.
"Ambil saja di slow cooker, ini punya Gala."
Hana tak habis pikir dengan tingkah Kelana. Papa muda itu sering aneh-aneh sekarang, mungkin kurang belaian karena Hana disibukkan dengan aktivitas mengurus sang buah hati.
__ADS_1
Kelana pada akhirnya menurut, dia menuju dapur dan langsung membuka alat pemasak khusus bernama slow cooker . Alat itu bisa membuat bubur tanpa mengurangi nilai gizi yang terkandung di dalamnya begitu kata Hana.
"Ya Ampun Tuan, kek bayi aja," ledek pembantu rumah tangganya yang baru saja pulang dari pasar.
"Ini enak tahu Mar, rasanya sehat," jawab Kelana tanpa rasa malu. Ia mengambil bubur Gala lalu menyantapnya dengan lahap.
Pembantu rumah tangganya yang biasa dipanggil Marimar itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia memilih meninggalkan sang majikan setelah menawarkan air minum.
_
_
"Besok bikin yang banyak buburnya, aku suka Mama."
Kelana tersenyum senang dan sukses membuat Hana geli sendiri. Wanita itu meletakkan sendok ke mangkok lalu menggunakan tangannya untuk mencubit hidung sang suami.
"Kamu itu lho!"
Jujur, Kelana hanya merasa iri. Hana belakangan sudah jarang memasak untuknya, ini membuatnya sedih, tapi juga tak ingin mengungkapkan ke wanita itu. Kelana tahu, Hana sudah lelah mengurus putra mereka, jadi sebisa mungkin hal yang akan menjadi pemicu pikiran istrinya itu akan dia hindari.
__ADS_1
"Apa kamu rindu masakanku?"
Kelana tak bisa berkata-kata, bagaimana bisa istrinya itu menebak dengan benar apa yang dia rasakan.
Hana kembali menyuapi Gala lalu memandang suaminya lagi dan bertanya, "Kenapa diam? aku sepertinya sudah lama tidak memasak untukmu."
Meski ragu, tapi Kelana akhirnya memilih untuk jujur. "Hem... aku rindu, aku tidak suka masakan Marimar."
"Ya sudah, hari ini jaga Gala. Aku akan membuatkan makanan untukmu."
Kelana melonjak dari posisinya. Ia duduk tepat disebelah Hana lalu menyambar pipi, menciumnya dalam-dalam.
"Kamu memang yang terbaik, sayangku!"
Hana membalas ciuman di pipi itu dengan sebuah ciuman di bibir. Terang saja Kelana merasa malu, pipinya bahkan merona merah karena perbuatan istrinya.
"Kenapa melakukan ini di depan Gala?" tanya Kelana.
"Kenapa tidak? dia harus tahu bahwa papa dan mamanya saling mencintai." Hana tersenyum manis, dia menoleh Gala yang tertawa seakan mengerti ucapannya.
__ADS_1