
“Aduh.”
Bunga yang masih lembur sambil memakan burger pun meringis. Karena harus lembur, dia sampai makan malam sambil kerja. Bunga memesan makanan dari restoran cepat saji terdekat. Ternyata laporan yang harus dia kerjakan itu terdiri dari tiga puluh halaman. Melihatnya saja dia sudah megap-megap sendiri, tapi mau bagaimana lagi, Bunga tidak ingin dipandang sebelah mata oleh Kelana.
“Siapa yang membicarakanku?” keluhnya sambil menekan-nekan bibir bawahnya yang terasa sedikit sakit karena tergigit.
***
Sementara itu, Bagas sengaja pulang terlambat karena malas bertemu dengan mertunya di rumah. Ia berharap Bunga sudah berada di kamar dan Tantri sudah tidur saat dirinya pulang. Namun, Bagas sepertinya harus kecewa saat mendapati sang mertua masih anteng menonton sinetron dan tak ada tanda-tanda sosok sang istri di sana. Bagas tidak tahu kalau Bunga malam itu lembur, dia terlalu cuek dan bahkan tidak mengajak istrinya pulang bersama.
“Di mana Bunga?” tanya Bagas spontan.
“Kok tanya Mama, dia ‘kan kerja satu kantor sama kamu.” Meski menumpang, Tantri berani berbicara ketus. Ia hanya menatap Bagas sekilas lalu kembali fokus ke layar televisi. Wanita itu nampak memangku setoples camilan dan tertawa-tawa, karena adegan sinetron yang sedang dia lihat sedikit ngelawak.
Bagas memilih tak lagi merespon Tantri, dia berjalan menuju dapur berniat untuk mengambil air minum. Namun, alangkah terkejutnya Bagas saat melihat dapurnya berantakan dengan piring kotor. Pria itu membuka tudung saji, tapi tidak ada makanan sama sekali di sana. Bagas mengeram, apa yang baru saja diperbuat Tantri harus dia selidiki.
“Apa dia memesan layanan pesan antar? Lalu kenapa harus memakai piring? dia seharusnya sadar diri dan mencuci semua ini,” gerutu Bagas sambil berjalan ke arah tempat sampah.
__ADS_1
Tepat seperti yang dia duga, mertuanya itu memesan makanan dari layanan pesan antar. Namun, yang membuat Bagas geram, kenapa juga Tantri tidak memakan langsung dari wadahnya agar tidak perlu menumpuk cucian piring. Pria itu semakin marah karena tak hanya satu bungkus makanan, dari bekas yang dia temukan, Bagas yakin mertuanya itu sepanjang hari kerjaannya hanya makan.
“Lihat! dia memesan tiga makanan dari layanan pesan antar dan meminum kopi mahal, apa dia sudah gila? bukankah seharusnya dia berhemat karena sebentar lagi akan jadi janda.” Tangan Bagas terkepal, dia tidak bisa membiarkan hal ini. Bagas berniat menemui Arman untuk membuat pria itu dan Tantri rujuk kembali.
“Aku tidak bisa membiarkan benalu lama-lama tinggal di rumahku!” gumam Bagas.
“Bagas ambilkan Mama minum donk, seret ini!”
Teriakan Tantri semakin membuat Bagas mengepalkan tangan hingga ujung kukunya pucat, dia berjalan keluar tanpa melakukan apa yang mau dia lakukan tadi – minum. Bagas bersikap dingin naik ke lantai atas tanpa membalas ucapan Tantri.
_
_
Malam itu, tak hanya Bunga yang lembur. Rudi Tabuti dan beberapa staffnya juga lembur. Sudah wajar baginya untuk bekerja tak mengenal waktu, karena semua klien-klien kelas atasnya selalu minta dinomorsatukan. Menyiasati hal itu, Rudi sampai mencari beberapa staff freelance untuk membantu. Salah satunya Safira yang tadi siang dia minta mentranskrip suara dari recorder yang diberikan oleh Kelana.
“Sudah selesai Pak, apa saya boleh pulang?” tanya Safira setelah mengirimkan hasil trasnkrip kerjaannya ke e-mail sang atasan.
__ADS_1
“Hem … boleh, jangan lupa besok kamu harus sampai di kantor sebelum jam sembilan pagi. Kerjaan kita banyak.”
Safira mengangguk, dia pergi meninggalkan ruangan Rudi dengan menggaruk bagian belakang kepala. Sejatinya, gadis itu bingung dengan file ke dua dari rekaman suara yang didengarkannya. Isi rekaman itu hanya suara orang mengerang, meracau dan meminta cepat-cepat.
Rudi Tabuti yang penasaran dengan hasil transkrip itu sengaja ingin membacanya sekilas dulu, tapi yang ada pria itu melongo, bahkan melepas dan mengucek matanya melihat hasil kerjaan sang anak buah.
“Ugh, Agh, fast hunny, sayang kamu legit.” Rudi membacanya seperti anak SD yang baru bisa membaca.
Pria itu bingung, dia memilih diam sejenak sebelum akhirnya malah berspekulasi, “Mungkinkah setelah membuat pria itu mabuk, Pak Kelana melakukan adu anggar? Alamak … apa gosip yang pernah beredar itu benar?”
_
_
_
Scroll ke bawah 👇
__ADS_1