
“Ah … kakakku sayang, mau ke mana?”
Tata mengejar langkah Dinar, baru saja dia sampai ke rumah sang kakak tapi Dinar sudah terlihat bersiap untuk pergi. Ibunda Kelana itu menenteng tas menuju mobil yang sudah disiapkan oleh sopirnya.
“Aku ikut ya!” Tata tak mau tahu, dia buru-buru memutari bagian belakang mobil sang kakak dan masuk. Pantatnya mendarat mulus, sedangkan Dinar diam saja melihat kelakuannya. Ini pertanda baik, artinya Dinar memperbolehkan ikut.
Lima menit mobil sudah melaju, tapi Dinar tak memperdulikan Tata. Ia sibuk dengan ponsel di tangan membalas banyaknya pesan di sana. Berita dan gosip memang tidak bisa dibendungnya, penangkapan Tantri menjadi topik yang sejak beberapa hari yang lalu banyak ditanyakan oleh teman sosialitanya. Dinar harus menjelaskan satu persatu agar tidak terjadi kesalahpahaman. Namun, karena pertanyaan itu terus berulang, Dinar pun kesal. Ia menghentakkan kaki dan melempar ponsel ke dalam tas centelnya.
“Kenapa Din?” Tata menelan saliva, dia sadar kakaknya tengah kesal.
“Soal mantan ibu tirinya Hana, ternyata dia itu suka ngutang, sok sosialita.”
Tata mengedip, memberi kode bahwa dia siap untuk mendengarkan lanjutan cerita dari sang kakak, tapi Dinar tak mau melanjutkan pembahasan itu dan memilih membuang muka menatap jendela.
“Ah … sudahlah tidak usah dibahas, lagi pula kenapa kamu ikut aku?” Dinar bertanya seolah sejak tadi tidak menyadari keberadaan sang adik.
“Hei … aku kan sudah bilang ikut, jangan sampai kamu menyuruhku turun di tengah jalan,” jawab Tata.
__ADS_1
“Tidak, kalau di tengah jalan, nanti kamu ketabrak. Pak, minggir pak!” titah Dinar ke sang sopir.
“Jangan-jangan, jangan!” Tata menggoyang kursi sopir agar tidak membelokkan kemudi untuk menepi. “Terus saja, Pak!” ucapnya. “Astaga Din, kenapa kamu tega sama aku?” keluh Tata.
“Kenapa tidak tega? Bukankah kita sudah biasa seperti itu, kamu dan aku itu tidak punya rasa kasih sayang satu sama lain,” tegas Dinar.
Mendengar ucapan kakaknya, Tata memasang muka murung. Ia bahkan sok imut memajukan bibirnya sebelum berkata, “Aku sayang kok sama kamu.”
“Hah … kalau Rina Mukerje bilang ‘nehi’, tidak biasanya kamu seperti ini, pasti ada udang di balik tahu gimbal!”
“Ya sudah bilang saja ke anakmu itu, suruh hubungi Kelana sendiri,” ujar Dinar.
“Tidak bisa, Kelana ngeblok nomor Rafli.”
Dinar menoleh dengan tatapan julid, dia tidak percaya kalau putranya sampai kekanak-kanakan seperti itu. “Kelanaku? Melakukan itu? apa dia bocah kemarin sore?”
“Nah itu ..., ayolah Din! Kita itu sudah tua, masa kita memberi contoh yang kurang baik ke anak cucu kita? Kita harus bersikap seperti orang tua ..."
__ADS_1
" ... Anj*ng!“
Tata mengumpat lalu melotot, dia menutup mulut dengan kedua tangan, karena sopir Dinar sampai menoleh ke belakang - kaget.
“Memberi contoh apa? baru kuinjak kakimu saja, kamu sudah mengatai aku seperti kembaranmu,” sindir Dinar, dia menolehkan muka dan tersenyum dengan sudut bibir seolah puas dengan apa yang baru saja dia lakukan ke sang adik.
Tata malah meminta maaf, dia usap kakinya yang sengaja diinjak Dinar tadi kemudian bertanya,” Kalau boleh tahu kamu mau pergi ke mana?”
“Ke rumah menantuku, Kelana pagi tadi membawa Hana ke IGD, dia tiba-tiba merasakan perutnya kram.”
_
_
_
🥰
__ADS_1