Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 76 : Belajar Hal Seperti Ini


__ADS_3

Sementara itu, Tantri yang ditolak oleh Ayu merasa sangat kesal. Ia pergi ke sebuah coffe shop dan meminta Bunga datang menemuinya. Putrinya itu berkata akan tiba setengah jam lagi, tapi hampir satu jam Bunga tidak juga menampakkan diri.


Hingga Tantri ingin beranjak dari kursi, barulah sosok anaknya itu berjalan cepat menuju ke arahnya.


Tantri cemberut, dia bahkan menghempaskan tubuh di kursi lagi sambil bersedekap dada. Wanita paruh baya itu membuang muka. Meski Bunga menunjukkan raut muka bersalah karena membuatnya menunggu lama.


“Ayolah Ma, jangan marah. Aku juga harus melakukan beberapa pekerjaan. Mama pikir aku pengangguran? Meski tidak bekerja banyak hal yang harus aku kerjakan,” ujar Bunga.


“Apa? apa yang kamu kerjakan? Masak saja kamu tidak bisa,” ketus Tantri.


“Melayani hasrat mas Bagas sejak pagi,” jawab Bunga tanpa rasa malu.


Tantri pun melotot kemudian bertanya, “Apa dia tidak bekerja?”


Bunga kicep, tak mungkin juga dia menjelaskan ke Tantri bahwa dia memberi Bagas obat perangsang hingga suaminya itu menggempurnya habis-habisan.


“Dia sedikit tidak enak badan,” tukas Bunga. Bergegas dia mengalihkan pembicaraan itu dengan cara memanggil pelayan untuk memesan minuman.

__ADS_1


_


_


“Ada apa Mama meminta bertemu di sini? padahal biasanya juga Mama ke rumah,” tanya Bunga yang sedikit waspada, dia mencium gelagat mencurigakan dari Tantri. Jika uang yang wanita itu inginkan jelas dia tak punya. Bagas sudah memangkas habis jatah belanjanya, bahkan kartu kredit pun ditahan.


“Mama pening dan ingin minum-minum, tapi karena tidak mungkin minum alkohol jadi Mama ngopi,” jawab Tantri.


Karena ucapan sang mama, Bunga pun menatap meja. Ia baru sadar, di sana ada tiga buah cangkir. Dua sudah kosong dan satu masih terisi setengah. Tak tega juga hatinya untuk tidak bertanya apa yang Tantri alami.


“Mama datang ke rumah nenek suami Hana, niat Mama mau pinjam uang tapi malah dihina,” kata Tantri. Ia jelas membumbui ceritanya agar sang putri merasa iba.


“Lalu apa Mama dipermalukan?” tanyanya kemudian.


Meski tidak dibentak atau dihina-hina, Tantri pun mengangguk dan jelas hal ini membuat Bunga geram. Sejelek-jeleknya Tantri tetap saja wanita itu yang mmelahirkannya ke dunia Bunga tidak terima jika sang mama diperlakukan kurang baik.


“Aku akan bicara pada Hana, aku tidak terima nenek suaminya memperlakukan Mama seperti itu. Lain kali kalau pun Mama butuh uang suruh aja si Arman yang minta ke putrinya, aku yakin Hana pasti akan memberinya. Buat apa Mama repot-repot mendatangi nenek peyot itu,” amuk Bunga. Wajahnya benar-benar berubah julid.

__ADS_1


“Ya … Mama pikir dia baik jadi … “


Tantri menjeda kata, lirikan mata Bunga membuatnya takut. Tanpa diselesaikan pun kalimat itu, Bunga sudah tahu kalau sang mama ingin memanfaatkan Ayu.


“Lihat situasi dan kondisi Ma, mama harus belajar hal seperti ini dariku,” ucap Bunga.


***


Sementara itu, Hana masih geli dengan sikap suaminya. Ia memita Kelana menjauh, minimal jarak aman di radius satu meter. Hal ini Hana lakukan semata-mata untuk keberlangsungan hidupnya, bagaimana tidak? Kelana langsung berubah menjadi sutet jika berada dekat dengannya.Tegangan Kelana terlalu tinggi, tidak sadarkah bahwa dia sudah membuatnya tremor karena gempuran rudal pagi tadi.


“Hunny aku bukan virus,” ujar Kelana. Ia tatap Hana yang sibuk membaca buku yang diberikan oleh Dinar. Gerah juga Hana lama-lama melihat segala jenis model perkembangbiakan ada di sana.


“Sumpah, mama bilang buku ini diberikan secara turun temurun, lalu apa mungkin buku ini dibuat oleh nenek Ayu?” gumam Hana. Kepalanya menggeleng tak percaya.


Mendengar nama sang nenek disebut, Kelana pun memiliki ide cemerlang. Ia mengingatkan Hana dengan ucapannya sendiri pagi tadi.


“Hei … Hunny, bukankah kamu bilang kita harus mengunjungi nenek? Karena mama sedang keluar, bagaimana kalau kita ke rumah nenek gayung dulu setelah itu kembali ke sini?”

__ADS_1


Hana menoleh, bola matanya bergerak ke kiri dan kanan seolah tengah memikirkan sesuatu yang berat. “Ya, aku akan menanyakan tentang buku ini ke nenek,” gumam Hana di dalam hati.


__ADS_2