Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 70 : Master VS Grade Dua


__ADS_3

Kelana malah nyengir, dia menyambar tisu di meja lalu memberikannya ke Hana. Dengan gerakan cepat pria itu juga mengambil pakaian miliknya dan sang istri yang teronggok di lantai – memberikannya ke Hana yang sibuk membersihkan bagian dadanya yang blepotan.


“Aku tahu kamu tidak sepolos itu, atau jangan-jangan kamu punya alasan lain?” tanya Hana, tatapan matanya terus tertuju ke Kelana yang sibuk mengancingkan kemeja. “Apa kamu tidak ingin memiliki anak?”


Pertanyaan kedua dari Hana membuat Kelana spontan menghentikan gerakan tangan. Ia menoleh Hana yang ekspresi wajahnya berubah, terlihat rasa kecewa di sana.


“Kalau begitu aku akan pergi ke dokter dan memintanya memasang alat kontrasepsi,” imbuh Hana. Ia menekuk bibir lantas berdiri dan memakai kembali celana kerjanya. Tak lupa dia betulkan rambutnya yang berantakan.


Namun, saat hendak memutar tumit Hana dibuat terkejut. Kelana melingkarkan lengan di pinggang dan memeluknya erat. Wanita itu hanya bisa menelan saliva, bingung karena situasi setelah peluncuran rudal menjadi secanggung ini.


“Maaf seharusnya aku tidak membahas hal itu,” ucap Hana. Pikirannya semakin buruk, dia menganggap mungkin saja Kelana tipe pria zaman sekarang yang lebih memilih child free (hubungan pernikahan dengan kesepakatan tidak ingin memiliki anak).


“Bukan, bukan itu. Aku jelas ingin memiliki anak-anak yang lucu.” Jawaban Kelana cukup membuat tentram hati Hana, tapi tetap saja kegundahan dan pikiran buruk sudah merayapi hati.


“Kita belum membahas masalah anak dengan serius, bagaimana pendapatmu soal anak, kapan kita ingin memiliki anak, kita belum membahas hal itu. Aku tidak ingin kamu menyesal mengandung anakku.”


“Apa yang kamu bicarakan?” sewot Hana. Ia semakin tak berkutik karena Kelana menyandarkan dagu di pundak dan semakin mempererat pelukan.


“Aku bicara tentang alasan kenapa aku membuang bibit kualitas superiorku.”


Hana mengulum senyum dan bergumam di dalam hati, “Dasar pembohong, aku tahu kamu bukan amatiran.”


“Kalau memang kamu tidak keberatan mengandung anakku dan memiliki anak segera, aku siap diremidi.”


Hana tak bisa menyembunyikan rasa gelinya, dia melepaskan kungkungan Kelana dan berbalik untuk menatap wajah sang suami, wajah yang tiba-tiba malu-malu.

__ADS_1


“Memang kita baru selesai melakukan apa? mengerjakan ulangan? Dan kamu minta remidial?” Hana tertawa tak percaya, sedangkan Kelana tersenyum manis melebihi gula-gula.


“Iya, dan sudah aku bilang bibitku superior, masih bagus mutunya meski dua sampai tiga kali dalam sehari kita melakukannya.”


“Kelana!” pekik Hana, tangannya reflek melayangkan pukulan ke lengan suaminya itu. “Balik kerja! kamu benar-benar terlalu.”


Hana mendorong tubuh Kelana menjauh, dia berjalan keluar dengan rasa kurang nyaman karena badannya lengket.


“Terlalu? Tapi kamu suka ‘kan?” goda Kelana lagi.


***


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, tapi Kelana dan Hana masih duduk di dalam ruang kerja Kelana dan saling duduk bersisian. Banyak pekerjaan yang harus mereka selesaikan.


“Hentikan!” Hana menolehkan kepala karena Kelana mengusap lembut lehernya. Ia tahu pria itu sedang mengagumi tato biru keunguan yang bibirnya berikan saat menjatuhkan rudal tadi.


“Apa kamu tidak mau membalas perbuatanku di apartemen nanti?”


“Aku akan membalasnya, lihat saja! tapi sekarang cepat kamu tandatangani semua ini agar kita bisa pulang,” kata Hana sambil menyerahkan berkas dan pulpen ke pangkuan Kelana.


“Astaga Hunny ingin membalasku, apa pembalasan yang enak?” gurau Kelana lantas mengerlingkan mata hingga membuat Hana tak bisa berkata-kata.


Beberapa menit kemudian, mereka bergandengan mesra keluar dari ruangan. Saat sampai di lobi, Hana dan Kelana tak sadar ada sepasang mata yang mengawasi mereka. Ternyata Bagas belum pulang, dia sengaja lembur karena ingin melakukan sesuatu. Pria itu menggenggam sesuatu di tangan, sebuah benda yang ternyata kamera berukuran kecil. Otak liciknya ingin mengintai apa yang dilakukan Hana. Setelah melihat dua orang itu menjauh, Bagas bergegas naik ke lantai di mana ruang Kelana berada. Ia memasang kamera itu di bawah meja kerja Hana.


_

__ADS_1


_


“Kalau sampai tidak manjur, aku akan meminta Mama menagih ganti rugi,” gumam Hana. Ia pegang ramuan Mak War yang tempo hari diberikan oleh Dinar.


Perlahan tapi pasti, dia melakukan sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh mertuanya. Hana grogi, dia masih berdiam diri di dalam kamar mandi meski sudah mengenakan baju tempur - baju tidur berbahan satin dengan model kimono dan pakain kekurangan bahan di dalamnya.


Setelah menenangkan diri, Hana keluar dari kamar mandi. Satu hal yang menjadi pemandangannya saat itu adalah Kelana yang duduk bersandar pada kepala ranjang dengan kaki lurus menyilang. Pria itu menatap wajahnya lalu menepuk sisi ranjang tepat di sebelah dia duduk.


“Ayo lah Hunny! Suamimu yang tampan ini siap untuk diremidi,” godanya dengan seringai nakal.


Hana pun mendekat, di dalam hati dia percaya seratus persen dengan ramuan yang Dinar berikan, dia pun bergumam di dalam hatinya, “Ayo Hana, tunjukkan siapa yang lebih gila di atas ranjang, kamu master dan dia baru grade dua.”


Seperti profesional, Hana mendekat. Namun, bukannya duduk di sebelah Kelana, dia malah naik ke pangkuan pria itu, terang saja Kelana mendelik - kaget. Meski begitu dia senang dengan apa yang sang istri lakukan sekarang.


Hana menggoda dengan membentuk garis dari kening hingga turun sampai bibir Kelana, jemari lentiknya memainkan daging tak bertulang pria itu sambil sesekali menggigit bibirnya sendiri.


“Kalau remidinya gagal, kamu harus melakukan tes ulang,” ucap Hana dengan suara menggoda. Kelana bahkan sampai merinding dibuatnya.


“Kalau tes gagal?” Kelana sadar dan mengikuti permainan kata Hana.


“Maka remidi lagi, begitu seterusnya.”


Seringa nakal Kelana terbit, dengan satu gerakan pria itu membanting tubuh Hana ke ranjang hingga baju tidur yang dikenakan Hana tersingkap. Paha mulus wanita itu membuat libidonya terpompa.


“Kamu mengajak perang rupanya, bersiaplah menerima kehancuran,” ancam Kelana.

__ADS_1


“Oke kita lihat saja, ramuan Ibu perang yang menang atau rudalmu,” gumam Hana dalam hati.


__ADS_2