Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 234 : Takut Celaka


__ADS_3

“Ayolah Dinar, jangan marah! aku sudah minta maaf.”


Tata datang ke rumah kakaknya siang itu, meminta maaf akan kesalahannya yang membayar pembantu sang kakak untuk bisa menjadi mata-mata. Dinar pun tidak memecat pembantunya itu, karena mau mengakui kesalahan.


“Maaf ? kamu cuma minta maaf tapi tetap saja Mama menarik kembali pabrik gula itu dari Kelana, jahat kalian.”


Dinar bersedekap dan membuang muka. Sejatinya Tata ke sana karena Rafli yang meminta, soal Kelana yang berkata memegang kartu matinya membuat Rafli ketakutan. Sebagai wanita yang sangat mencintai putra mereka, jelas keduanya sama-sama membela dan tidak ingin sampai buah hati mereka menderita, meski usia Rafli dan Kelana sudah dewasa.


“Soal itu, Kelana memang curang. Demi berhasil menerima tantangan Mama anakmu sampai membuat perjanjian pernikahan seperti itu, apa kamu mau membenarkan tindakan Kelana?” tanya Tata, dia berbicara dengan lemah lembut tak seperti biasa, tapi tetap saja Dinar tidak mau mengiyakan begitu saja.


“Apa yang Mama beri untuk Rafli kurang? Setiap anakmu mendapat juara pasti mama memberinya saham, bahkan saat Rita hamil, mama juga melakukan hal yang sama, lihat Hana! Sampai sekarang tidak ada hadiah untuk menantuku itu dari ibumu,” ketus Dinar.


“Ibuku ibumu juga, ck …. “


Tata mendecih, dia geser pantatnya agar semakin merapat ke Dinar, Untuk pertama kalinya semenjak peperangan di antara mereka pecah, Tata meraih tangan sang kakak dan menepuknya lembut. “Ayolah Din, maaf ya! tidak perlu masalah keluarga sampai ke polisi, kamu mau keluarga kita digosipkan menjadi keluarga yang tak harmonis?”

__ADS_1


Tata menunggu reaksi Dinar tapi tak ada jawaban dari wanita itu. “Meski kita tidak harmonis, tapi biarlah orang melihatnya kita itu bahagia, pencintraan,” imbuh Tata.


Dinar yang masih sewot menghempaskan tangan Tata, tapi adiknya itu masih tak mau menyerah karena kartu mati sang putra yang dipegang oleh Kelana, menurut Rafli mungkin saja Kelana tahu perihal kecurangan yang dia lakukan dalam berbisnis.


Saat Tata masih sibuk membujuk sang kakak, Hana datang. Wanita itu membawakan makanan untuk sang mertua karena Dinar kemarin terlihat senang saat mencicip masakan buatannya. Hana hanya menyapa, merasakan atmosfer yang berbeda dia tak mau dekat-dekat, takut celaka.


“Apa tante Tata sudah lama datangnya?” tanya Hana ke pembantu yang membantunya membongkar makanan yang dia bawa.


“Ya sudah setengah jam lah mereka begitu Mbak, ini salah saya sih. Untung saya tidak dipecat. Maafkan saya ya Mbak Hana.” Pembantu yang dibayar Tata pun menunduk, meski sudah dimaafkan tapi tetap saja dia merasa sangat berdosa. “Saya butuh uang untuk membayar operasi bapak saya di kampung, dan adik saya juga butuh masuk SMA dan beli seragam.”


“Bapakmu sudah sembuh atau belum?” tanya Hana penuh perhatian.


“Sudah Mbak, tapi masih harus rutin kontrol ke rumah sakit.”


Hana mengangguk, dia ingat belum memberikan uang tanda lelah ke pembantu yang ikut membersihkan rumahnya kemarin. Meski mereka digaji oleh Dinar, jelas tidak ada salahnya untuk memberi sebagai bentuk apresiasi dan terima kasih.

__ADS_1


Setelah memastikan makanan itu tertata rapi, Hana keluar untuk ikut membaur bersama Tata dan Dinar, dia juga berniat ingin meminta amplop ke mertuanya untuk memberikan bonus yang sudah dia pikirkan tadi.


Sayangnya Dinar dan Tata masih saja bersitegang, hingga Hana memiliki sebuah ide untuk mengajak dua wanita itu ke salon.


“Bagaimana kalau kita manicure dan pedicure?”


“Aku yang akan bayar,” ucap Tata dan Hana secara bersamaan.


_


_


_


_

__ADS_1


Scroll ke bawah 👇


__ADS_2