Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 189 : Mangga Mekar


__ADS_3

Karena kondisi Hana yang sedang marah-marah, Kelana pun memutuskan tidak kembali ke kantor. Ia memilih mengantar Arman yang datang naik taksi ke restoran udon tadi, setelahnya menyusul Hana pulang ke apartemen. Meski begitu, dia tetap memberi kabar ke Bunga. Sekretarisnya itu merasa senang beranggapan bahwa terjadi pertengkaran hebat antara Kelana dan kakak tirinya sehingga pria itu tidak bisa kembali konsentrasi bekerja.


“Hunny!” panggil Kelana sesaat setelah masuk ke apartemen. Ia melepas sepatu dan menggantinya dengan sandal rumah, perlahan Kelana melangkah lalu meletakkan jasnya di sandaran sofa ruang tamu. Pria itu menggulung kemeja dan berjalan menuju kamar.


Kelana tidak melihat Hana di sana, dia yakin istrinya berkata akan langsung pulang ke apartemen saat dia tanya tadi. Jika pun mampir ke suatu tempat, Hana seharusnya sudah sampai karena dia juga bolak-balik mengantar Arman. Kelana pada akhirnya ke luar, dia memastikan sandal sang istri yang ada di rak dekat pintu.


“Sepatu yang dia pakai ada di sini, tapi sandalnya tidak ada, apa dia sedang keluar membeli sesuatu?” gumam Kelana. “Baik lah aku akan menunggunya, lebih baik aku ganti baju dulu.” Setengah berlari pria itu masuk ke dalam kamar, dan tepat seperti dugaannya, Hana memang pergi keluar, dia membeli mangga mekar yang abang-abang penjualnya biasa mangkal tak jauh dari apartemen.


Sepanjang jalan setelah membeli, Hana memakan mangga itu, kata dokter tidak ada istilah ngidam. Keinginan ibu hamil untuk memakan sesuatu yang spesifik sebenarnya adalah sinyal dari tubuh, jika ingin makan yang asam-asam tandanya tubuh mungkin kekurangan vitamin C. Penjelasan itu bisa diterima oleh akal Hana. Ia mengangguk sepanjang jalan sambil menikmati mangga yang dia beli. Meski dokter bilang baru kantong janin yang terlihat, tapi diperkirakan usia kandungannya sudah menginjak lima minggu. Dua minggu lagi Hana diminta kembali untuk periksa.


Sesampainya di apartemen, Hana langsung menuju dapur, dia mengeluarkan mangga yang dibelinya lalu memindahkan mangga itu ke piring. Hana tahu Kelana sudah pulang, dia melihat sepatu sang suami sudah bertengger di rak, maka dari itu dia yang sedang marah tidak ingin masuk ke kamar.

__ADS_1


“Hunny, dari mana? aku mencarimu.” Kelana yang keluar merengek bak bocah TK, matanya tertuju pada lima buah mangga mekar di meja. “Apa tidak asam?” tanyanya basa basi.


Untuk memecah suasana dan membuat Hana berhenti marah, Kelana pun memilih duduk dan mengambil satu mangga Hana dari piring, tentu saja dia sudah minta izin, jika tidak sama saja cari mati.


“Apa itu bubuk gula?” tanya Kelana. Ia membuka dan memejamkan mata, pundaknya mengedik saat merasakan asamnya mangga itu sampai ke ubun kepala. “Beri aku itu!” pintanya.


Hana tak banyak bicara, dia berikan apa yang sang suami minta sambil terus menikmati buah asam itu. Matanya tajam mengekori gerak-gerik Kelana. Ia ingin tahu seberapa jauh si pujaan hati akan berusaha membujuknya agar tidak marah lagi.


“Itu Roisko campur bubuk cabai,” jawab Hana, dia sebutkan merek kaldu penyedap yang sering dipakai emak-emak di negeri Wakanda.


“Buah itu sehat, tapi kalau campur micin apa masih sehat?” tanya Kelana, dia kembalikan bubuk roisko racikan abang-abang penjual mangga ke sang istri.

__ADS_1


“Menolong mantan itu baik, tapi kalau pegang-pegang apa masih baik?” sindir Hana.


Sungguh, Kelana baru sadar bahwa wanitanya bisa cemburu juga.


_


_


_


Scroll ke bawah 👇

__ADS_1


__ADS_2