
Hari itu Hana pergi ke rumah Dinar bersama Kelana, untuk sekedar berkunjung di hari libur seperti biasa. Mereka pun makan siang bersama, Dinar senang karena putra dan menantunya datang ke rumah, kini rasanya setiap minggu tidak sepi, apalagi nanti saat cucunya lahir.
Selepas makan siang, mereka bercengkerama di ruang keluarga, membicarakan keseharian juga pekerjaan yang sejenak dilupakan.
“Kamu sedang apa?” tanya Dinar melihat Hana berada di kamar.
Saat sedang berbincang di ruang keluarga tadi, Hana memang meminta izin ke kamar sebentar, tapi karena tak kunjung turun, Dinar memilih menyusulnya ke kamar Kelana.
“Oh … tidak sedang apa-apa kok, Ma. Hanya sedang melihat foto Mas Kelana,” jawab Hana ketika sadar jika mertuanya berada di ambang pintu.
Mendengar kata foto, tiba-tiba saja membuat Dinar ingin menunjukkan sesuatu kepada menantunya itu.
“Han, sini!” Dinar menggerakkan tangan sebagai isyarat agar Hana mendekat. Dahi Hana pun berkerut, tapi kemudian mendekat ke arah Dinar.
“Ada apa, Ma?” tanyanya.
“Mama mau menunjukkan sesuatu ke kamu.” Dinar memegang pergelangan tangan Hana, lantas mengajak menantunya itu pergi ke kemar miliknya. Melihat raut muka serius di wajah sang mertua, Hana memilih ikut saja tanpa banyak bertanya.
__ADS_1
***
Dinar mengajak Hana duduk di sofa yang terdapat di kamarnya, wanita itu nampak mengambil sesuatu dari laci lemari besar yang ada di ruangan itu. Hana hanya mengamati, karena masih tidak tahu apa yang akan ditunjukkan oleh mertuanya.
Dinar duduk di sebelah Hana, tampak memangku album foto dengan sampul yang sudah usang.
“Di sini banyak foto Kelana saat kecil,” ucap Dinar dengan senyum merekah di wajah.
Hana ikut mengembangkan senyum, merasa bersemangat mendengar ucapan Dinar. Dia tampak antusias ingin melihat seperti apa Kelana ketika kecil.
“Ini dia pas umur seminggu.” Dinar menunjuk ke satu foto saat Kelana masih memejamkan mata.
Hana tersenyum gemas, melihat foto Kelana yang sangat imut menurutnya.
Dinar lantas menunjukkan foto-foto lain, ada Kelana ketika masuk taman kanak-kanak, ketika bermain, bahkan saat rewel waktu akan ditinggal keluar kelas oleh Dinar, itu semua membuat Hana tertawa. Ia membayangkan lucunya sang anak nanti akan seperti papanya ketika masih kecil.
Namun, Dinar tiba-tiba menghela napas berat, membuat Hana menoleh heran ke arah mertuanya itu.
__ADS_1
“Mama sangat memanjakan Kelana karena amanat almarhum papanya. Beliau berpesan agar menjaga Kelana dengan baik, tapi tahunya Mama salah didik.” Dinar tertawa saat mengingat kesalahannya.
Hana hanya mendengar tanpa berkomentar, sambil menatap wanita itu.
“Mama waktu itu tidak tahu maksud menjaga dengan baik, yang Mama tahu ya memanjakannya. Jadilah dia sekarang yang begitu manja, untungnya dia tidak menjadi pria pengecut,” ujar Dinar lagi.
Hana tersenyum mendengar cerita Dinar, kemudian kembali menatap pada foto yang terpajang di album.
“Oh ya, Apa Mama dekat dengan Amanda dulu?” tanya Hana yang seketika ingat akan mantan kekasih suaminya itu, saat melihat foto masa kecil Kelana dengan seorang gadis kecil juga.
Dinar menaikkan satu sudut alisnya, kemudian menggelengkan kepala.
“Mama tidak dekat sama sekali dengan pacar Kelana. Mama memang kurang suka deket dengan gadis yang masih berstatus pacarnya, kalau sudah menikah, akan beda lagi ceritanya. Mama pasti akan menyayangi, seperti kamu.” Dinar mencolek pipi Hana.
Hana tersenyum mendengar ucapan Dinar, apalagi perlakuan manis wanita itu.
“Bukan karena apa-apa. Mama hanya tidak ingin jika sudah dekat, lalu mereka putus, Mama jadinya ikut patah hati karena terlanjur sayang dan berharap. Itu malah akan membuat tekanan untuk Kelana. Jadi, Mama memilih tidak dekat, kemudian menyayangi saat sudah benar-benar menjalin hubungan yang sah.”
__ADS_1