
“Aku akan mendirikan pabrik bakpia di Jogja untuk Hana,” ujar Dinar.
“Kamu dari tadi bakpia saja.”
Ayu yang gemas menyuapkan makanan itu ke mulut sang anak. Hana yang menjadi saksi kekonyolan dua wanita yang sudah tak lagi muda itu hanya bisa tertawa. Ia berharap apa yang menjadi harapan semua orang terkabul, kehadiran anak di tengah-tengah dia dan Kelana sungguh akan menjadi kado terindah di hari ulangtahunnya yang hanya tinggal beberapa hari lagi. Meski jika itu sampai terjadi Hana sedikit tak enak hati, karena kebahagiaannya seperti berdiri di atas penderitaan Arman yang harus kembali sendiri.
“Hana … Woi … Hana!”
Dinar memanggil nama sang menantu berulang. Hana sampai seperti orang linglung karena tak fokus. Ia memikirkan Arman dan tiba-tiba khawatir dengan kondisi sang papa padahal baru tadi dia menemui pria tua itu.
“Kenapa? apa ada masalah?” Ayu melihat gelagat aneh dari istri cucunya. Wajah Hana tiba-tiba murung dan itu mengusik rasa ingin tahu.
Awalnya Hana tak ingin membicarakan masalah pribadi papanya ke Dinar dan Ayu, tapi mengingat dua orang itu kini sudah sangat dekat seperti orang tua sendiri, akhirnya Hana berterus terang tentang gonjang-ganjing rumah tangga Arman dan Tantri. Ia sama sekali tidak menjelek-jelekkan sang ibu tiri, hanya berkata ketidakcocokkan membuat papanya memutuskan untuk bercerai dari wanita itu.
“Serius ketidakcocokan? Bukan karena ibu tirimu itu rese?”
Dinar menekuk bibir, wajahnya mencibir. Ia pun tak luput dari pandangan aneh yang diberikan Ayu dan sang menantu.
“Hana, meski aku tidak mengenalnya secara pribadi dan dekat, tapi melihat tingkahnya saja aku sudah bisa menebak karakternya seperti apa, dia itu mata duitan, tipikal orang yang tidak bisa bersyukur dan selalu merasa kurang, apa aku benar?”
Hana tergelak karena biasanya orang akan memakai pertanyaan ‘apa aku salah’ ketika mengeluarkan pendapatnya tentang orang lain, tapi Dinar? Kalimat dan nada bicaranya sudah seperti menuntuk akan jawaban ‘iya’. Mau tak mau Hana mengangguk, meski begitu dia masih saja tidak mau menjelek-jelekkan Tantri yang memiliki segudang keburukan.
__ADS_1
“Nenek juga tidak perlu menjelaskan, sebelum menikah dengan Kelana dan selama pernikahanmu apa saja yang sudah nenek berikan pada ibu tirimu, dia juga pernah datang ke sini untuk meminjam uang, lha … memang Nenek celengan? Digetok bunyi krincing keluar uang.” Ayu geleng-geleng, fakta yang baru dia sampaikan membuat Hana menunduk malu.
Tantri memang benar-benar keterlaluan, mungkinkah wanita seperti ibunda Bunga itu bisa berubah? Hana dirundung dilema, dia sedih memikirkan Arman yang akan kehilangan pendamping di usianya yang mulai senja. Meski berpikir sang papa bisa menikah lagi, tetap saja mencari pasangan di usia yang sudah mendekati uzur tidaklah mudah.
“Lalu apa mama tirimu itu masih tinggal di rumah Pak Arman?”
Hana menggeleng menjawab pertanyaan Dinar, dia menjelaskan bahwa Tantri memiliki ego dan harga diri cukup tinggi, wanita itu meninggalkan rumah dan sekarang tinggal bersama Bunga.
Namun, bukannya bersimpati. Dinar malah tertawa terbahak-bahak, entah apa yang membuatnya merasa geli, yang pasti dia tertawa sampai sudut matanya berair. Hana sampai bingung, dia terlibat saling lempar pandang dengan Ayu. Mungkinkah Dinar mabok bakpia?
“Kenapa Ma?”
“Tidak, tidak apa-apa, aku hanya membayangkan tingkah ibu tirimu itu, kasihan anak dan menantunya. Aku yakin setiap hari dia pasti membuat keduanya kesal,” ujar Dinar.
_
_
“Catatan itu sudah harus ada di mejaku saat aku datang, terserah kamu mau lembur malam ini atau datang pagi-pagi sekali.”
Sengaja tak bermurah hati, ini bagian dari rencananya untuk membuat Bunga tidak betah, belum lagi hal-hal lain yang dia pikirkan untuk membuat sekretaris barunya itu kelabakan.
__ADS_1
“Oh … ya pesankan aku bunga mawar selama tujuh hari ini, dan kirim ke alamat apartemenku.”
“Gila! apa bedanya aku dengan pembantunya?” gumam Bunga di dalam hati, meski begitu kalimat yang keluar dari bibirnya begitu manis dan sopan. “Baik Pak, tujuh hari tujuh malam ya, apa untuk ibu Hana?”
“Untuk siapa lagi, kamu pikir untuk ngepet?” ketus Kelana.
Setelahnya dia berdiri menyambar lalu memakai jasnya, tak lupa Kelan mengangkat kardus berisi barang-barang dari laci Hana, di mana salah satu isinya sudah dia pastikan adalah surat perjanjian pernikahan mereka. Kelana sengaja tidak merobek atau melenyapkannya karena itu milik Hana, iistrinya sendiri lah yang memiliki hak melenyapkan perjanjian itu.
“Apa mau saya bantu bawa Pak?” tanya Bunga melihat kardus bawaan sang atasan. Ia seribu persen yakin bahwa kardus itu pasti berisi barang-barang dari laci dan lemari meja kerja sebelumnya.
“Tidak perlu, bukakan saja pintu dan jangan lupa apa yang aku minta tadi,” kata Kelana.
Bunga pun mengangguk, dia menuju pintu dan membukanya lebar-lebar. Namun, karena terlalu kepo dia pun melongok melihat isi dari kardus itu.
“Astaga Pak, apa saya tidak salah lihat. Itu kain merah bra anuable ‘kan?”
_
_
_
__ADS_1
Scroll ke bawah 👇