Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 118 : Maaf


__ADS_3

“Tapi aku sudah tidak berminat berperang denganmu.”


Hana mendorong pundak Kelana menjauh. Ia pun melompat turun dari atas pantry lalu mematikan kompor. Wanita itu meninggalkan mi yang ada di panci sambil menyindir.


“Kamu tidak peka sama sekali, tadi kamu membiarkan aku yang ingin bercinta dan sekarang karena kamu aku tidak bisa makan.” Hana menunjukkan wajah sinis kemudian melangkah menuju kamar.


Kelana malah tersenyum, dia kini yakin seratus persen bahwa Hana memang sedang marah. Ia susul istrinya itu dan kali ini Hana sudah membuka lemari dan mengambil sebuah baju santai. Seperti yang Kelana duga istrinya itu berniat untuk pergi ke luar.


“Hana, ini sudah malam. Kamu mau ke mana?” tanya Kelana dengan nada cemas. Ia dekati istrinya itu dan hampir menyentuh lengan tapi Hana lebih dulu menghindar.


“Cari makan, apa kamu pikir malam ini aku bisa tidur dengan nyenyak kalau belum mengisi perut?” ketusnya.


“Dan belum mendapat belaian?” gumam Hana yang langsung memejamkan mata merutuki otaknya yang sudah tidak waras. Kenapa juga dia memakai ramuan itu yang notabene salah satu khasiatnya hampir sama dengan obat perangsaang.

__ADS_1


“Hunny, ayo lah! apa kamu marah?” Kelana memeluk Hana. Ia lingkarkan tangannya erat ke pinggang wanita itu dan menyandarkan dagu ke pundak.


“Marah? wanita sepertiku yang sudah sering dibuat sakit hati tidak mengenal apa itu marah.”


Quote yang lumayan menohok dari Hana semakin membuat hati Kelana kebat-kebit. Pria itu menggeleng dan mulai takut, dia takut istrinya terus marah, cuek dan pergi meninggalkannya. Kelana menyesal karena harus berbuat seperti tadi, padahal dirinya juga tersiksa saat harus mengendalikan diri melihat palung Hana yang tak berpenutup tadi.


“Maaf!”


Satu kata yang banyak orang mengakuinya itu sakti. Kata ‘maaf’ terkadang dimaknai biasa oleh orang yang mendengar, padahal di dalamnya banyak menyimpan arti. Mungkin di dalam lubuk hati orang yang berkata seperti itu dia sedang ketakutan, merasa bersalah, menyesal atau ingin perasaan lawan bicaranya berubah menjadi lebih baik seiring dengan sikap yang ditunjukkan.


“Maaf untuk apa? tidak ada yang perlu dimaafkan,” ujar Hana. “Seharusnya kamu menolak langsung jika tidak mau bercinta denganku, tidak perlu menunjukkan sikap malas-malasan seperti tadi.”


Hana akhirnya mengungkapkan kekesalan yang bercokol di dada. Terserah Kelana akan menertawainya atau apa, yang paling penting baginya dia sudah jujur. Ia tidak mau Kelana bersikap seperti itu lagi ke depannya. Urusan ranjang memang sangat sensitive. Masalah yang tidak segera diatasi bisa membuat ranjang mereka semakin lama semakin dingin.

__ADS_1


“Jujur aku hanya ingin kamu berpikir bahwa aku sedang dalam kondisi yang tidak baik setelah bertemu dokter andrologi. Aku ingin membuatmu berubah pikiran soal anak. Aku ingin kamu tidak terbebani dan selalu mendesak untuk hal yang satu itu. Aku mencintaimu jelas aku ingin memiliki anak darimu, tapi bagaimana jika membiarkan anak itu hadir sendiri nanti? Dan untuk sekarang mari saling mencintai dan menjalani hari-hari indah bersama,” ungkap Kelana panjang lebar.


Hana terdiam, dia menyadari sikapnya selama ini mungkin juga salah. Namun, terlepas dari itu, tetap saja Kelana tidak boleh memungkiri posisinya sebagai menantu bagi Dinar yang sudah sangat menginginkan cucu.


“Aku jelas bisa melakukan semua yang kamu minta, tidak membahas anak dan membiarkan anak hadir sendiri nanti, asal kamu bisa merubah pikiran Mamamu soal cucu,” ucap Hana.


“Aku akan membuatnya berubah pikiran.” Kelana membalik tubuh Hana. Ia pegang erat ke dua sisi lengan istrinya itu dan mengangguk mantap penuk keyakinan. “Tapi aku tetap butuh bantuanmu!”


_


_


_

__ADS_1


Scroll ke bawah 👇


__ADS_2