Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Extra Part 26 : Kecemasan


__ADS_3

Rafli tampak duduk di kursi selasar panjang dengan penuh kecemasan, dia sedang menunggu detik-detik Rita melahirkan buah hati mereka. Tidak henti-hentinya dia memanjatkan doa, sambil menunduk dan berharap istri dan bayi mereka selamat. Hingga terdengar suara bayi menangis menggema dari ruang persalinan, Rafli langsung berdiri dengan senyum merekah di wajah.


“Akhirnya.” Rafli mengusap wajah perlahan sebagai rasa syukur.


***


Hari berikutnya. Keluarga Rafli termasuk Hana dan Kelana sudah berada di rumah sakit. Mereka datang begitu mendapat kabar jika Rita sudah melahirkan.


“Lihat, betapa lucunya dia.” Dinar langsung menggendong bayi Rita, mengambilnya paksa dari Tata.


Hana ingin menggendong bayi itu, tapi dilarang Dinar karena takut kalau sampai menekan perutnya.


“Lahiran sakit nggak?” tanya Hana karena tidak memiliki kesempatan menggendong bayi sepupu Kelana.


“Ngg--” Rita ingin menjawab, tapi dipotong cepat oleh Rafli.


“Sakit! Nyatanya dia nangis, sampai mencengkram dan meremas tanganku kuat. Baru kali ini aku tahu kalau melahirkan semenyakitkan itu.” Potong Rafli sambil melirik Rita.


Rita melotot mendengar ucapan suaminya, kenapa Rafli malah bicara demikian yang tentunya akan membuat Hana takut melahirkan. Rafli tampak mengedip-ngedipkan mata, memberi isyarat kepada Rita untuk tidak protes. Ia sengaja bicara demikian untuk membuat Kelana takut dan cemas, dia hanya ingin mengerjai sepupunya itu. Anggap saja itu adalah salah satu aksi balas dendam karena masalah kelapa.


Hana sendiri tampak santai, malah tersenyum saat mendengar ucapan Rafli.

__ADS_1


“Ya, itu sudah kodrat wanita, bagaimanapun rasanya tetap harus dijalani,” balas Hana.


Lain dengan sang istri yang tampak tenang, Kelana kini gelisah karena ucapan Rafli. Pria itu sendiri sampai tidak berpikir jika mungkin saja Rafli berbohong, lagi pula yang melahirkan Rita, kenapa Rafli yang menjawab sakit dengan suara lantang.


***


“Kamu kenapa?” tanya Hana saat melihat wajah tegang sang suami.


Kelana yang sedang menyetir langsung menoleh Hana, dia tak menutupi kecemasan setelah mendengar ucapan Rafli.


“Hunny apa kamu mau melahirkan secara cecar saja?” tanya Kelana menjawab pertanyaan Hana. Wanita itu mengerutkan alis, kenapa suaminya melempat pertanyaan seperti itu.


“Kenapa kamu tanya begitu? Aku maunya lahiran normal, sayang.” Hana menggeleng pelan menanggapi pertanyaan Kelana.


Hana tertawa mendengar ucapan pria itu, tampaknya kini tahu kenapa sang suami sangat gelisah.


“Ya ampun, sayang. Apa kamu percaya dengan ucapan Rafli? Dia berbohong,” balas Hana. “Rita tadi bilang katanya tidak sakit, hanya seperti mulas biasa,” imbuhnya mencoba memberi penjelasan.


Kelana menggelengkan kepala, kemudian kembali berkata, “Tapi Rafli bilang Rita mencengkeramnya sangat kuat. Bahkan lengannya ada bekas merah karena genggaman Rita.”


“Pokoknya kalau bisa, mending cecar saja. Aku tidak bisa lihat kamu kesakitan.” Kelana tak terbantahkan.

__ADS_1


Hana melongo mendengar ucapan suaminya, kemudian memilih diam karena tidak ingin membuat Kelana semakin gelisah dan cemas.


***


Selesai mandi. Hana duduk di ranjang sambil mengusap rambut yang basah, hingga Kelana datang dan langsung duduk di samping sambil mengusap perut.


“Apa dia menendang lagi?” tanya Kelana.


“Belum, mungkin dia kekenyangan makan, jadi sekarang tidur,” jawab Hana.


“Yang kekenyangan makan ibunya bukan bayinya,” seloroh Kelana.


Hana tertawa mendengar candaan Kelana, dia memang tadi makan banyak hingga perutnya terasa sesak.


“Halo Baby sayang, apa kamu tidak mau menyapa Papa, hem?” Kelana mengajak bicara janin yang berada di dalam rahim sang istri.


“Nggak mau, Papa belum mandi.” Hana menjawab pertanyaan Kelana, kemudian mengakhirinya dengan gelak tawa.


Kelana langsung menatap Hana yang sedang tertawa, kemudian dia membalas, “Papa mau mandi, tapi Mama harus nemenin. Yuk mandi!”


“Aku sudah mandi! Lihat rambutku basah!”

__ADS_1


“Kalau gitu mandi lagi!” Kelana menarik lengan Hana dan berniat mengajak istrinya itu mandi bersama.


"Astaga sayang! apa-apaan ini," pekik Hana.


__ADS_2