
Kelana akhirnya membawa Hana ke rumah sakit, istrinya itu langsung masuk UGD untuk bisa segera mendapatkan penanganan. Kelana setia menemani di ruang pemeriksaan, ditatapnya Hana yang terus menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan.
“Apa sakit? Itu sangat sakit, ya? Bagaimana rasanya, Hunny?” Kelana kebingungan sendiri melihat Hana kesakitan.
Perawat dan dokter yang sedang memeriksa pembukaan di jalan rahim pun menahan senyum, merasa Kelana adalah suami yang sangat perhatian karena begitu mencemaskan sang istri.
Hana masih terus mencoba mengatur napas, hingga dirinya ingin emosi karena Kelana terus bertanya.
“Sudah pembukaan tujuh, begitu pembukaan sempurna, Ibu sudah bisa mulai melakukan proses persalinan,” ucap dokter yang memeriksa.
“Hunny.” Kelana sangat cemas melihat kondisi Hana, tidak tega melihat wanita itu terus mengatur napas sambil menahan kontraksi.
“Aku tidak apa-apa, sayang. Kenapa kamu malah bertanya terus?” Hana kembali mengatur napas saat selesai bicara, kontraksi yang terus terjadi membuatnya kesulitan bicara untuk sekadar menanggapi ucapan sang suami.
Kelana menggenggam telapak tangan Hana, hingga pria itu tiba-tiba menarik napas dan mengembuskan pelan sama seperti yang dilakukan oleh istrinya.
Hana menyadari apa yang dilakukan Kelana, hingga menoleh dan mengernyit heran.
“Kamu kenapa, sayang?” tanyanya, Hana nampak sangat tenang meski akan melahirkan, beda dengan Kelana yang malah panik.
“Memang aku kenapa?” tanya Kelana balik karena bingung.
__ADS_1
“Itu, kenapa kamu malah tarik napas dan buang, bukankah seharusnya aku yang melakukan itu.” Hana merasa lucu dengan tingkah Kelana.
Kelana baru sadar dengan hal yang dilakukan, kemudian mencoba bernapas seperti biasa.
“Latah, ini karena melihatmu terus menarik napas dan membuang dengan mulut,” ucap Kelana seolah tanpa dosa.
Hana tanpa sadar tertawa karena merasa lucu dengan sikap suaminya, hingga tanpa diduga tawa Hana tak sengaja mendorong janin di dalam dan membuat ketuban pecah.
“Hunny, kenapa ngompol?” tanya Kelana saat melihat air mengalir.
“Itu bukan--” Hana menjeda kata dan berusaha mengatur napas seperti yang dia lakukan sejak tadi. “Itu ketuban sayang, panggilkan dokter,” pinta Hana sambil menahan agar tidak mengejan lebih dulu.
Kelana kembali panik saat mendengar ketuban pecah, hingga berlari keluar dari ruang pemeriksaan untuk memanggil dokter.
“Dokter mana?” tanya Kelana balik. “Ketuban istriku pecah,” ucapnya kemudian.
Perawat langsung mencari keberadaan dokter kandungan yang tadi memeriksa Hana, sedangkan Kelana memilih kembali ke ruang pemeriksaan.
“Sayang.” Hana mengulurkan tangan, seolah ingin mendapatkan genggaman tangan dari suaminya.
“Aku di sini,” ucap Kelana sambil menggenggam telapak tangan Hana.
__ADS_1
“A-ku sepertinya ti-dak bisa me-na-han,” ucap Hana tergagap karena menahan dorongan dari calon bayinya.
“Tahan, Hunny. Tahan!” pinta Kelana panik.
Hana menarik napas panjang, hingga tanpa sengaja mengejan kuat dan mendorong bayinya untuk keluar. Dia mencengkeram kuat telapak tangan Kelana, sambil sedikit mengangkat badan ke depan untuk bisa melihat perutnya.
Dokter dan perawat tiba, saat masuk mereka melihat Hana yang sudah mengejan dan posisi kepala bayi sudah terlihat. Dokter pun akhirnya tidak punya pilihan selain membantu Hana melahirkan di ruangan itu, karena tak mungkin membawa ke ruang persalinan.
Kelana masih di sana, dia harus menyaksikan istrinya berjuang melahirkan bayi mereka sekuat tenaga.
Dokter pun memberi instruksi, sedangkan beberapa perawat membantu dan menemani persalinan itu.
“Ayo, Hunny. Kamu bisa.” Kelana terus memberikan dukungan.
Hana kembali menarik napas dalam-dalam, lantas mengembuskan sambil memberikan dorongan saat kontraksi terjadi. Hingga akhirnya bayi mereka pun keluar, dokter langsung meraih dan perawat dengan sigap membungkus dengan kain bersih.
“Selamat Pak, Bu. Bayinya sudah lahir,” ucap sang dokter.
Hana terbaring lemas, sedangkan Kelana merasa gemetar karena mendengar suara tangis bayi mereka yang begitu kencang, ada rasa haru yang menyelimuti hati. Perawat mendekatkan bayi Hana ke ranjang, memperlihatkan bayi merah itu ke kedua orangtuanya sebelum dibersihkan.
“Welcome to the World, baby.” Kelana mencium kening bayi mereka yang merah dan masih terdapat sisa ketuban.
__ADS_1
Hana menatap Kelana, melihat kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan di wajah suaminya itu.
“Terima kasih, Hunny.” Kini Kelana mendaratkan kecupan di kening sang istri. “Kamu wanita hebat.”