
Benar saja, Kelana memegang kedua tangan Hana agar istrinya mau berdiri, setelah itu melingkarkan lengan ke pinggang. Ia menunduk untuk menyeimbangkan tinggi badannya dan Hana. Mereka berciuman dengan durasi yang cukup lama sambil berdiri dan berjalan pelan menuju ranjang, hingga betis Kelana terbentur sisi ranjang. Pria itu limbung dan jatuh ke belakang. Hana yang masih dia peluk pun ikut jatuh dan menimpa tubuhnya.
Mereka tertawa bersahutan, sampai Hana menegakkan kepala dengan posisi masih menimpa tubuh kekar suaminya.
“Kita akan terlambat pergi ke kantor jika ini dilanjutkan.”
“Bentar yuk,” ajak Kelana. Sebuah kode yang membuat Hana geleng-geleng kepala.
“Yakin sebentar?”
“Kita lihat sambil jalan, lagi pula wawancara itu akan dimulai jam sepuluh pagi masih ada waktu untuk kita meraup amunisi,” kata Kelana. Ia membanting tubuh Hana ke samping dan mengurungnya.
“Kemejaku nanti kusut.” Hana mengedip manja.
“Ya sudah lepaskan saja sekarang, atau ganti dengan kemeja yang lain nanti. Jangan harap kamu bisa lari.” Tepat setelah berucap, Kelana menyasar ceruk leher Hana. Wanita itu bahkan tertawa karena merasa geli. Kakinya bahkan menendang-nendang karena Kelana tak memberinya ampun sama sekali.
“Kamu sudah membangunkan macan tidur, rasakan amukannya,” goda Kelana.
__ADS_1
***
Satu setengah jam kemudian, Hana dan Kelana nampak kembali rapi. Mereka berjalan beriringan keluar dari apartemen dengan saling bergandengan tangan. Nampak jelas gurat kebahagiaan di wajah mereka. Hana bahkan mengejar langkah Kelana saat tertinggal lalu bergelayut manja di lengan suaminya itu.
“Deal! sudah kita sepakati Bunga yang akan menjadi sekretarismu ‘kan?” tanya Hana. Mengulangi pembicaraan mereka tadi.
Meski merasa tidak adil ke kandidat yang lain, tapi entah kenapa Hana merasa senang membayangkan adik tirinya itu akan kerepotan dan kesusahan saat menjadi sekretaris sang suami nantinya.
“Catat kandidat yang benar-benar kompeten, jadi saat Bunga keluar dari pekerjaannya aku tidak perlu repot-repot meminta bagian HRD membuka perekrutan lagi, tinggal kita panggil saja kandidat yang kompeten itu,” ucap Kelana.
“Tapi kamu harus menepati janji, setelah balas dendammu ke Bunga terlaksana, kamu lupakan semuanya. Fokus pada masa depan kita.” Kelana menatap serius Hana, istrinya itu mengangguk dan meraih tangannya dan menggenggam erat.
“Jika tebakanku benar, dia pasti akan berusaha merayumu. Akan aku tunjukkan hal yang seharusnya dilakukan seorang istri sah ke wanita jaalang sepertinya di saat itu benar-benar terjadi, dia harus dibuat kapok menggoda pria beristri.” Mata Hana berkilat-kilat, Kelana sampai dibuat merinding.
_
_
__ADS_1
Sesampainya di kantor, Hana sudah ditunggu oleh seorang staff bagian HRD. Wanita itu mengucapkan permintaan maaf karena datang terlambat, dan jelas tidak akan memberitahu alasannya yang sangat privasi.
Setelah berpamitan ke Kelana, Hana pun menuju ruangan tempat dilakukannya wawancara. Ia berjalan dengan penuh percaya diri, bahkan tidak menoleh ke kanan dan kiri meski tahu ada Bunga yang duduk di salah satu kursi.
“Kenapa terlambat?” tanya Bagas yang sudah berada di sana, semua orang pun kaget karena pria itu berani menghardik Hana.
“Kenapa tidak kamu tanyakan saja alasan itu ke Pak Kelana? Dia yang membuatku terlambat,” jawab Hana diikuti senyuman nakal.
Semua orang yang mendengar pun tertawa, kecuali Bagas yang hanya mengedipkan mata. Ia memandangi penampilan sang mantan istri dari atas sampai bawah, Hana terlihat sangat berkelas, setelan kerjanya berwarna merah dengan polesan lipstick yang senada.
“Ayo kita mulai! Panggil kandidat pertama,” ucap Hana dengan tatapan mencibir ke arah Bagas.
_
_
Scroll ke bawah 👇
__ADS_1