
Namun, tak Hana duga Ayu sedang dalam mode kurang baik. Ini karena kedatangan Tantri yang mengganggu ketenangannya. Ayu bercerita ke Hana dan membuat istri Kelana itu sedikit malu. Ia pun urung menanyakan perihal buku keramat pemberian Dinar.
Sebenarnya bukan maksud Ayu mengadu, tapi dia hanya ingin tahu apa sifat Tantri memang dari dulu seperti itu - suka memanfaatkan kebaikan orang lain.
Kelana dan Hana kaget saat Ayu bercerita bahwa dia memberikan banyak sekali hadiah bahkan uang ke Tantri sebelum dan sesudah pernikahan mereka.
“Kenapa nenek melakukan itu?” tanya Hana dengan nada suara pilu.
“Agar dia tidak menghalangimu menikah dengan Kelana, apa kamu pikir aku tidak tahu kalau mantan suamimu itu adalah istri adik tirimu sekarang?”
DEG
Hana dan Kelana terkejut, bahkan Hana gemetaran. Kelana yang tahu lantas menggenggam erat tangan istrinya yang kebetulan berada di atas meja. Ayu pun hanya menatap sekilas, dia melihat gurat kecemasan di wajah sang cucu.
“Aku juga tahu kamu awalnya tidak mau menikah dengan Kelana, dia yang mengejar-ngejarmu.”
Bahu Hana mengedik, senyuman terbit di bibir wanita itu. Kelana yang awalnya hendak sewot seketika urung melihat wanita yang dicintainya tertawa. Syukurlah Ayu tidak mengetahui kesepakatan yang dibuatnya dan Hana.
“Bukankah cinta memang harus dikejar?” tanya Kelana, dia sukses membuat pipi Hana merona. Pria ini benar-benar jatuh hati padanya, tak menyangka bahwa wanita sepertinya bisa mendapatkan cinta tulus lagi.
Hana pun mempererat genggaman tangannya dan Kelana, dia tatap wajah pria itu dalam-dalam dan dengan tulus berkata. “Kelana adalah hadiah terindah dalam hidupku, meski awalnya dia sering membuatku kesal tapi sekarang aku tidak ingin jauh darinya. Meski dia memintaku pergi aku akan menggelayutinya bak anak monyet.”
“Kenapa monyet?” Kelana membenturkan keningnya ke kening Hana.
“Lalu apa?” tanya Hana, keduanya berdebat tanpa memperdulikan keberadaan Ayu.
“Panda, Koala, atau apa lah. Kenapa harus monyet?”
“Karena kita keturunan manusia purba, apa kamu tidak lihat bagaimana bentuk manusia purba?” Hana tersenyum sambil memajukan bibir, Kelana yang gemas hampir saja menyerobot bibir istrinya itu karena gemas.
__ADS_1
“Tolong jangan ada degan vulgar di depan nenek,” ucap Ayu. Sontak Kelana dan Hana pun menoleh. Mereka tertawa malu. Sedangkan Ayu hanya bisa geleng-geleng kepala karena tingkah cucu dan cucu menantunya itu.
Ayu senang Kelana datang berkunjung, dia pun menjelaskan bahwa kondisinya kian membaik setelah operasi pemasangan ring jantung beberapa bulan yang lalu. Wanita itu dengan jelas menyebut nama sang dokter pribadi yaitu Amanda. Raut wajah Kelana pun berubah dan nampaknya Hana menyadari hal itu.
_
_
_
Malam harinya, Kelana dan Hana kembali ke rumah Dinar. Sudah lewat jam makan malam tapi ibunda Kelana itu masih belum juga pulang. Beruntung mereka menghabiskan lumayan banyak makan siang saat di rumah Ayu tadi, sehingga perut mereka tidak begitu keroncongan.
Keduanya memilih duduk di teras belakang, Hana dengan telaten mengupas apel lalu memotongnya menjadi beberapa bagian. Sementara Kelana sibuk bermain ponsel dan sesekali menyuapkan buah itu ke dalam mulut.
“Apa kamu tidak mau menceritakan hubunganmu dengan dokter itu? Amanda,” ucap Hana ragu saat menyebutkan mantan kekasih sang suami.
“Apa yang ingin kamu tahu, bukankah mantan tidak perlu diingat. Apa kamu tidak pernah mendengar kalimat ‘buang mantan pada tempatnya’?” tanya Kelana dengan ekspresi yang dibuat seimut mungkin.
“Benarkah kamu diselingkuhi olehnya? Apa jangan-jangan hal ini membuatmu berpikir memiliki nasip yang sama sepertiku? dan jangan-jangan perasaanmu ke aku itu hanya sekadar rasa simpati ke sesama orang yang pernah diselingkuhi?” tanya Hana lagi.
“Diam dan habiskan saja apel ini!”
Kelana memasukkan sepotong apel ke mulut Hana, terang saja wanita itu cemberut dan bahkan mengeluarkan lagi potongan apel itu karena mulutnya masih penuh.
“Apa kamu sangat patah hati sampai tidak bisa berkencan dengan wanita lagi? sampai mamamu saja berpikir kamu menjadi penyuka sesama jenis.” Hana terus saja membahas masalah Amanda. Hingga Kelana mendesah panjang dan meletakkan ponselnya.
“Ya, aku sangat patah hati. Aku sangat kecewa dan terluka. Aku bahkan menangis setelah memutuskan hubungan dengannya.”
“Apa?” Hana kaget, mulutnya mengaga dan apel di tangannya sampai jatuh ke lantai.
__ADS_1
“Sudah aku bilang jangan membahas masalah itu, aku tidak ingin kamu cemburu.” Kelana sudah gede rasa, padahal reaksi Hana bukan karena cemburu. Wanita itu tak percaya Kelana bisa meneteskan air mata hanya karena wanita.
Benar saja, beberapa detik kemudian Hana tertawa terbahak-bahak membuat Kening Kelana mengernyit. “Kenapa? kalau kamu mau marah, marah saja jangan bersikap seperti ini, kamu membuatku takut,” ucapnya.
Hana menggelengkan kepala cepat, dia menyandarkan punggung ke kursi masih dengan tawa yang meledak.
“Bukan! siapa yang marah? aku hanya tidak percaya kamu menangis, kamu pasti sangat bucin ke Amanda,” kata Hana.
“Entahlah yang pasti itu sudah masa lalu, sekarang aku jelas sudah tidak memiliki perasaan padanya. Dia lebih memilih berselingkuh dengan bandot tua hanya karena saat itu perusahaanku bermasalah,” kenang Kelana.
Hana terkekeh geli, muka masam Kelana membuatnya semakin gemas saja dan ingin segera mempraktikkan salah satu gaya di buku yang Dinar berikan. Ia pun berdiri dan meraih tangan sang suami.
“Sudahlah! ayo kita ke kamar, sepertinya Mama akan pulang malam. Ayo kita bisnis,” ucap Hana.
“Bisnis apa?” Kelana nampak malas-malasan, dia berdiri dengan gerakan tubuh lemah seperti tak berdaya.
“Bisnis esek-esek.”
“Hana!” pekik Kelana, dia bekap mulut istrinya yang seketika membelalakkan mata karena kaget. Kelana takut ucapan Hana didengar oleh salah satu pembantu rumah.
Namun, tak lama pria itu memulas senyum. Benar-benar seperti minum obat tiga kali sehari begitu pikirnya.
_
_
_
Info : geng karena aku harus menulis beberapa novel baru di PF berbayar, jadi mungkin novel ini dan Perjodohan Karena Kutang UP nya akan aku selang seling ya. Mohon pengertiannya.
__ADS_1
Terima kasih selalu dukung Na. Murah Rezeki dan Sehat selalu ya