
“Kamu tidak boleh menerima minuman apa pun dari Bunga, lebih baik sediakan air mineral di ruanganmu. Lalu aku akan membelikanmu termos kopi, aku akan membuatkanmu kopi dari rumah.”
Hana yang sedang berada di pelukan Kelana menasehati suaminya itu dengan banyak hal, salah satunya adalah untuk tidak menerima minuman jenis apa pun dari Bunga. Ia takut adik tirinya itu melakukan hal yang tidak-tidak ke Kelana. Masih mending jika hanya diberi obat perangsaang, Hana yakin Kelana pasti masih bisa mengendalikan diri dan berlari pulang, tapi bagaimana jika Bunga memberi suaminya racun?
“Kenapa? apa kamu takut dia memberiku obat dari Aheng?” tanya Kelana sambil tertawa-tawa, dia geli menyebutkan nama toko obat pria dewasa yang bisa dengan mudah ditemui di pinggir-pinggir jalan, yang ukuran tokonya kecil tak lebih besar dari kamar mandi apartemennya.
“Bukan, aku jauh lebih takut dia memberimu racun. Aku merasa dia ingin menjadikanku janda lagi, dan sejak beberapa hari yang lalu aku memikirkan dua kemungkinan, pertama dia akan membuatku menjadi janda dengan cara merebutmu atau membunuhmu,” jawab Hana, dia menggelengkan kepala dan memeluk erat Kelana.
“Aku tidak mau kehilanganmu, tidak.”
Hana memeluk Kelana semakin posesif, dirinya berada di ambang dilema. Rasa-rasanya dia begitu kejam, hanya karena ingin balas dendam dengan tega mengumpankan suaminya sendiri.
Kelana tidak merasa keberatan. Ia dengan senang hati mewujudkan apa yang menjadi keinginan wanita yang sangat dia cintai.
Mereka terdiam sampai Kelana mengusap perut Hana yang memang malam itu tidak mengenakan busana, dan sejatinya dia pun sama.
“Kenapa?” Tanya Hana sedikit bingung meski begitu bibirnya tersenyum manis. Ia sentuh punggung tangan Kelana yang masih mengusap lembut perutnya. “Jangan bilang kamu sekarang menginginkan bayi,” tebak wanita itu.
__ADS_1
Kelana tak menjawab, hanya tersenyum dan itu sangat ambigu. Hana sampai memajukan bibir dan seperti biasa Kelana pasti akan membuatnya mundur dengan cara mencium.
“Aku menginginkannya Hunny, tapi tidak ingin seolah memaksakannya segera hadir di antara kita. Lagi pula kalau kamu hamil mana mungkin aku menolak buah cinta kita.”
“Tapi ada satu hal yang masih mengganjal di hatiku,” ucap Hana dengan mimik wajah sendu.
“Apa?”
“Kamu tidak akan pernah merasakan merobek selaput dara perawan.” Hana seketika merasa sedih, statusnya yang seorang janda masih belum benar-benar bisa dia tepis meski Kelana selalu memintanya untuk tidak memikirkan hal itu lagi.
“Apa kamu ingin aku biayai operasi? Itu hal yang mudah untukku, kenapa dibuat pusing Ha? atau kamu mau mencarikan aku daun kemangi? Ah … maksudku daun muda,” canda Kelana.
“Ngeri sekali, salah siapa memulai membahas hal seperti tadi? kamu jelas tidak bisa merasakan apa yang aku rasakan Hunny, aku sangat menikmati peperangan kita tanpa memandang your virginity,” ucap Kelana.
“Gombal! Tapi itu semua karena ramuan ibu perang yang dibelikan oleh Mama Dinar, dan sekarang ramuan itu sudah hampir habis, kamu tahu sendiri ukurannya cuma sebesar salep 69.”
“Lalu, bagaimana kalau kita berburu ramuan itu, kita borong saja saat ada lelang.” Kelana nampak antusias, dia merasa idenya sangat cemerlang.
__ADS_1
“Borong? Harga satunya saja mahal kamu mau borong? Berapa uang yang akan kamu gelontorkan hanya untuk membeli ramuan hohohehe itu?” Hana menggigit bibir bawah, padahal dia tidak akan menolak juga jika Kelana memberikan banyak uang untuk membeli ramuan penghangat ranjang itu.
“Berapa harganya, jika seratus juta beli lah sepuluh, kalau dua ratus juta beli lah lima.”
_
_
_
Scroll ke bawah👇
Pemilik toko Aheng : “Open jastip ramuan mak war, harga 100juta belum ongkir. No hit n run. Hanya untuk yang mampu.”
Mampu apa? mampu ngehalu wkwkwkkwkw
Piss geng 🤣🤣🤣
__ADS_1
Scroll ke bawah👇