
Hana tak menjawab, dia toleh Kelana karena pria itu yang paling berhak memberi keputusan. Kelana sedikit berpikir, nominal belasan atau puluhan memang bukan apa-apa untuknya, tapi kesalahan Bunga tidak bisa dengan mudah dia terima, sebagai pemimpin dia juga harus memberikan pelajaran ke bawahannya untuk memastikan kejadian serupa tidak akan terulang kembali di kemudian hari.
“Aku tidak akan memintamu mengganti, tapi tetap saja ada hukuman dari kesalahanmu yang memesan hotel tapi tidak melihat ulasannya dulu,” jawab Kelana dengan bijak. Dari Bunga pandangan matanya bertolak ke Bagas.
“Istirahtlah jika memang tidak ingin ikut pergi jalan-jalan hari ini, aku pun sama karena sedikit pusing. Sama sepertimu, aku semalam juga mabuk,” ujar Kelana.
“Mabuk perang,” gumamnya dalam hati.
Semua staff pun memutuskan tetap pergi jalan-jalan, sedangkan dua pasangan suami istri yang pergi bersama mereka lebih memilih untuk tinggal di hotel. Bunga terlalu malas menggerakkan badan, dia bahkan memilih untuk kembali ke kamar dan tiduran, sedangkan karena tidak ingin sendirian, Bagas ikut ke kamar sang istri, meski mereka harus pisah ranjang. Ya, pisah ranjang dalam arti yang sebenarnya karena kamar Bunga bertipe twin bed.
“Apa kamu yakin aku mabuk sampai membentur meja?”
Pertanyaan sang suami membuat Bunga sedikit kesal, kenapa Bagas masih membahasnya padahal dia rasa semuanya sudah selesai karena pria itu tidak membantah ucapan atau mencecar Kelana tadi.
“Kalau tidak mabuk dan menghantamkan mukamu sendiri ke meja, apa kamu pikir Pak Kelana memukulimu? jika iya carilah bukti! tanpa bukti kamu itu hanya sepucuk upil di dalam hidungnya.”
__ADS_1
Bagas menatap nyalang Bunga, dia benar-benar merasa terganggu dengan perumpamaan yang dibuat wanita itu. Bagas berpikir sang istri seharusnya bisa membuatnya tenang, membelai-belainya karena dia masih merasa linu di sekitar muka. Bukannya malah menjatuhkan mental dan menghina seperti ini.
“Sudah jangan melotot! Bola matamu itu bisa lepas jika aku menyampaikan hal ini,” ujar Bunga, nada bicaranya sewot, seperti remaja yang hendak mengajak tawuran temannya.
“Menyampaikan apa? soal apa? Hana?”
“Bukan tapi Papanya.” Muka Bunga semakin masam, dia menegakkan badan dan bersedekap. “Papanya mau menceriakan Mama.”
“Baguslah! Siapa juga yang mau punya istri seperti itu, hanya bisa duit … duit … duit dan duit, kalau duit itu daun pasti sudah disayur dan dimakan oleh mamamu.”
“Oh … kalau itu tidak, kita ‘kan tidak punya masalah yang serius.” Bagas agak mengalah untuk menurunkan tekanan darah Bunga, dia bahkan tersenyum meski balasannya hanya kedutan di sudut bibir Bunga yang sangat sinis.
“Semakin ke sini aku semakin merasa kamu itu tidak benar-benar mencintaiku, kamu terpaksa ya menikahiku, karena ingin meninggalkan Hana yang dulu gendut dan seperti badak? Iya?”
Bunga emosional, dan Bagas dengan sigap menenangkan. Pria itu berdiri dan duduk di ranjang milik Bunga, dia meraih tangan istrinya itu dan menepuknya lembut.
__ADS_1
“Bunga, kalau soal yang satu itu bukankah kamu sudah tahu sendiri, aku terjerat pesonamu. Aku itu terstres-stres padamu,” ucap Bagas.
“Bukankah seharusnya tergila-gila?” tanya Bunga. “Oh … aku tahu kamu memakai kata stress karena tingkatannya lebih rendah dari gila, iya ‘kan? jadi kamu mau bilang kalau kamu itu cintanya cuma dikit ke aku? begitu, Ha?
Bagas menelan saliva, sepertinya ada benang tak kasat mata yang menghubungkan otaknya dan otak Bunga.
“Bukan begitu," elak Bagas.
“Lalu apa? ha? apa? kamu tahu? Mama ingin tinggal bersama kita kalau sampai benar bercerai dari papanya Hana."
_
_
_
__ADS_1
Scroll ke bawah 👇