
Dinar menggerutu sepanjang jalan, dia yang baru tahu bahwa besannya mata duitan pun terus berkomentar. Hana yang ikut berjalan dengannya keluar sampai dibuat terdiam. Bak lokomotif kereta tercepat di dunia, Dinar mengeluarkan apa yang ada di dalam pikirannya tanpa peduli apakah Hana akan sakit hati atau tidak.
“Eh … Nggak masalah ‘kan aku ngomongin ibu tirimu?” Dinar seolah baru sadar, dia menunggu jawaban Hana yang malah tersenyum-senyum di sampingnya. Keduanya berhenti di lorong rumah sakit dan saling berhadapan.
“Tidak masalah, hubungan kami juga tidak begitu baik kok Ma.” Hana menunduk memainkan ujung kakinya, dia merasa tak enak hati karena sikap Tantri tadi.
“Ih … dasar, kalau dia berani macam-macam sama kamu bilang ke Mama, akan Mama sambel penyet dia.” Dinar membusungkan dada, bibirnya bahkan komat-kamit sambil menatap ke arah pintu kamar perawatan Arman.
Mendengar kata penyet diucapkan, entah kenapa Hana mengingat sesuatu. Ia pun bertanya dan sedikit menggambarkan gaya aneh yang dia baca di buku hohohehe pemberian Dinar.
“Aduh … salah itu, bukan begitu Hana,” pekik Dinar, wanita itu bahkan memukul lengan sang menantu saat Hana selesai menjelaskan penggambarannya.
“Oh … salah ya Ma?” tanya Hana, dia hanya bisa menunjukkan senyuman bego ke sang mertua.
“Peyet ya di penyet Hana bukan ditumbuk, kamu tahu ‘kan bedanya? Aduh … masa gitu aja nggak tahu, coba kamu buka gulugulu terus cari beda dipenyet sama ditumbuk.” Tepat setelah mengatakan itu Dinar berjalan menjauh, bukan tanpa alasan. Ia ingin cepat-cepat pergi dari pada Hana bertanya yang macam-macam lagi.
__ADS_1
Sebenarnya dia juga tidak begitu tahu gaya bercinta itu seperti apa, dia juga tidak pernah memperagakannya dengan si keturunan Ekuador alias papa Kelana. Sedangkan untuk bertanya pada Ayu, dia jelas malu.
“Mama! tunggu!” panggil Hana, dia berjalan cepat karena ingin mengantar sang mertua sampai parkiran.
“Ma, kalau dipenyet nanti aku gepeng donk?” tanya Hana setelah bisa mensejajari Dinar. Mertuanya itu melirik dan hanya mengeluarkan suara ‘hem’.
“Ih … Mama kenapa ‘hem’ doank sih,” gerutu Hana.
_
_
“Dia benar-benar sesuatu, pelitnya seperti sudah meresap hingga ke sumsum tulang,” kata Hana setelah Tantri pergi dari kamar perawatan papanya.
“Sudah biarkan saja, tidak perlu memikirkan mahkluk tidak penting seperti dia.” Kelana mengucapkan kalimat itu tepat di telinga Hana, dia bahkan meniupnya dan membuat sang istri mengedik.
__ADS_1
“Sayang, ini di rumah sakit. Ada papa.” Hana memukul punggung Kelana gemas. Ia menggeser badan menjauh agar sang suami tidak bisa berbuat macam-macam.
“Kenapa menjauh, sini! dekat aku.” Kelana tak mau kehilangan kesempatan, karena Hana tak menuruti permintaannya dia memilih menggeser posisi. Kelana terus merapat hingga Hana tersudut di batas sofa. Pria itu mencondongkan kepala ke depan muka sang istri, hingga berniat menempelkan bibir mereka.
“Sayang papa bangun,” kata Hana tiba-tiba.
“Bohong! Kamu mau lari ‘kan?”
“Ya ampun tidak aku jujur, Papa ba…. “ Hana terdiam, matanya melebar karena Kelana meluumat bibirnya. “Sa … em … yang … em… pap…ba …” Hana tidak bisa berkata-kata dan akhirnya pasrah sambil memejamkan mata.
_
_
__ADS_1
_
Scroll ke bawah 👇