
Dengan perasaan gelisah, Kelana akhirnya memutuskan menuju rumah Ayu. Ia ingin menjelaskan duduk perkaranya ke wanita tua itu. Untuk pabrik Gula, Kelana akan mengembalikannya jika memang diminta, bagi pria itu kini yang terpenting adalah Hana dan calon anak mereka. Ia tidak peduli mau Ayu memberikan semua warisannya ke Rafli karena istrinya menegaskan satu hal kepadanya tadi. Hana dengan penuh kelembutan meminta Kelana untuk berbesar hati mengakui kesalahan, dia juga akan meminta maaf.
“Kenapa setelah mencintaiku kamu jadi berhenti mata duitan?”
“Karena aku tahu kamu tetap masih bisa memberiku uang meski kehilangan pabrik gula itu.” Hana tertawa, dia membetulkan ucapannya barusan yang sejatinya hanya bercanda. “Karena aku mencintaimu, ketulusanmu membuatku sembuh”
“Apa kamu sudah berhenti mengkonsumsi obat itu?” Tanya Kelana. Matanya masih terus menatap jalanan yang tak begitu padat. Ia memang hanya pergi berdua dengan Hana karena Dinar memilih untuk pulang. Jika ikut ke rumah Ayu, tentu saja dia nanti ketahuan telah bertemu dengan putranya lebih dulu.
“Sejak kapan kamu tahu?” lisan Hana seolah tak kuasa menanyakan itu, dan memilih memalingkan muka menatap jendela.
“Apa yang tidak aku tahu darimu Hunny?” Kelana meraih tangan Hana seolah ingin mengatakan bahwa tidak apa-apa. “Jangan diminum lagi oke, kamu sedang mengandung anak kita.”
“Aku sudah membuang obat itu.” Hana menoleh, dia yang awalnya takut Kelana murka malah dibuat merasa bersalah karena kelembutan pria itu. “Aku sudah tidak meminumnya sejak pertama kali kita tidur bersama, karena aku merasa tidak kesepian lagi.
__ADS_1
Meski tak memandang wajah sang istri, Kelana memulas senyum, dia mengangsurkan tangan Hana ke depan dan menciumnya. “Aku juga merasa tidak kesepian karenamu.”
Hana tersipu tapi lama kelamaan terbahak, dia merasa dirinya dan Kelana seperti akan menghadapi medan pertempuran yang nyata sampai bersendu-sendu ria seperti ini. Mereka seolah takut tidak akan keluar dalam kondisi selamat dari rumah Ayu. Hana pun balik menarik tangan Kelana dan menciumnya. Ia yakin Ayu pasti tidak akan marah jika mereka menjelaskan dengan baik-baik.
***
Setibanya di rumah, Dinar segera mengumpulkan semua pembantu. Menurut cerita anak dan mantunya tadi, surat perjanjian itu disobek saat mereka menginap di sana. Hana juga mengaku menyesal karena tidak menyobek kertas itu menjadi bagian kecil-kecil atau membakarnya. Tentu saja membakar tidak bisa Hana lakukan karena malah akan menimbulkan kecurigaan.
“Kalian tahu? sepertinya ada musang berbulu ayam yang aku tampung di rumah ini,” ujar Dinar. Ia menyilangkan kaki dan memainkan kuku jari. “Kenapa aku sebut ayam bukan domba? Karena domba terlalu besar, sedangkan salah satu dari kalian yang berani berkhianat padaku tak ubahnya seekor ayam yang bisa dengann mudah aku sembelih.”
Semua pembantu semakin menunduk, dua di antaranya sudah gemetar. Terlihat dari apron yang melekat di badan mereka sampai bergetar-getar. Dinar memulas smirk lalu memanggil sang sopir masuk.
Kini pandangan pembantu rumah tangganya beralih ke sopir pribadi Dinar yang membawa segelas air di tangan. Mereka semua bingung dengan apa yang akan dilakukan sang majikan.
__ADS_1
“Itu air yang sudah aku mintakan doa ke orang pintar, celupkan jari kalian ke dalam air itu secara bergantian. Jika sampai nanti malam tidak ada yang jujur ke aku bahwa kalian adalah suruhan orang untuk memata-matai keluargaku, maka tangan kalian akan membusuk. Aku tidak main-main dengan ucapanku ini.”
Sopir pribadi Dinar mengangguk seolah membenarkan ucapan sang majikan. Padahal mencelupkan air ke dalam air jampi-jampi itu adalah ide asal-asalan yang dia berikan.
“Cepat! celupkan tangan kalian, aku mau kalian mencelupkan tiga jari, agar siapa pun diantara kalian yang berbohong seumur hidup tidak akan bisa menggaruk pantat lagi, mengerti!”
_
_
_
Scroll ke bawah 👇
__ADS_1